Comments on: Dengar Jeritan Hati Mereka http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/ Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi Mon, 19 Apr 2010 09:37:41 +0000 http://wordpress.com/ hourly 1 By: lins http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2903 lins Fri, 02 Apr 2010 17:06:12 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2903 complicated,, mksh untuk smua pemikiran yg luar biasa ini,, tentunya ungkapan-ungkapan diatas menjadi renungan sehingga tercipta solusi yg diiringi aksi sekecil apapun yg kita mampu lakukan untuk membuat dunia kecil disekitar kita menjadi lebih dan lebih baik lg,, amin. complicated,,
mksh untuk smua pemikiran yg luar biasa ini,,
tentunya ungkapan-ungkapan diatas menjadi renungan sehingga tercipta solusi yg diiringi aksi sekecil apapun yg kita mampu lakukan untuk membuat dunia kecil disekitar kita menjadi lebih dan lebih baik lg,, amin.

]]>
By: silvy http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2800 silvy Fri, 30 Oct 2009 07:24:49 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2800 Gak smua para the jak biang rusuh!!! wajar aja kan kalo tim kesayangan kalah the jak pasti kecewa, en kenapa sih orang jakarta selalu memandang sebelah mata the jak??? tanpa the jak persija jg gak akan mjd yg terbaek. Gak smua para the jak biang rusuh!!! wajar aja kan kalo tim kesayangan kalah the jak pasti kecewa, en kenapa sih orang jakarta selalu memandang sebelah mata the jak??? tanpa the jak persija jg gak akan mjd yg terbaek.

]]>
By: Oky http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2691 Oky Thu, 24 Sep 2009 03:21:00 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2691 Yoi, we love the jack Yoi, we love the jack

]]>
By: indra1082 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2690 indra1082 Sat, 12 Sep 2009 03:43:34 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2690 Jakmania tidak seburuk yg mereka sangka, sekarang sudah banyak korwil yg mengkoordinir. dan Pemda pun memberi perhatian terhadap The Jakmania. Jakmania adalah pendukung dan Pecinta Persija. bukan perusuh, mereka tau adat, tau aturan dan "Punya Uang". Kalo tidak punya uang dengan apa mereka nonton pertandingan. Suporter Indonesia sudah semakin dewasa da Maju. Jadi jangan mendiskreditkan suporter sepakbola. Justru Pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan sepakbola dan suporter dinegara ini Jakmania tidak seburuk yg mereka sangka, sekarang sudah banyak korwil yg mengkoordinir.

dan Pemda pun memberi perhatian terhadap The Jakmania.

Jakmania adalah pendukung dan Pecinta Persija.
bukan perusuh, mereka tau adat, tau aturan dan “Punya Uang”. Kalo tidak punya uang dengan apa mereka nonton pertandingan. Suporter Indonesia sudah semakin dewasa da Maju. Jadi jangan mendiskreditkan suporter sepakbola. Justru Pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan sepakbola dan suporter dinegara ini

]]>
By: richard http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2092 richard Sat, 07 Jun 2008 08:29:39 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2092 ini hanya pandangan sempit dari satu sisi, yakni kaum borjuis..kalian terlalu egois terhadap sesama, apalagi terhadap jakmania..! terus gak semua jakmania itu proletar..jika dipersentasekan hanya sekita 40% jadi jangan digeneralisasikan keseluruhan!!! ini hanya pandangan sempit dari satu sisi, yakni kaum borjuis..kalian terlalu egois terhadap sesama, apalagi terhadap jakmania..!
terus gak semua jakmania itu proletar..jika dipersentasekan hanya sekita 40% jadi jangan digeneralisasikan keseluruhan!!!

]]>
By: rojali_cool http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2006 rojali_cool Fri, 02 May 2008 07:25:29 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-2006 Gw sebagai orang betawi sebenernya simpati ama the jak,cuman mereka tuh emang nyebelin . kaca mobil temen gw aje ampe pecah ama the jak . waktu dulu gw k bandung,gw nanya k satpam outlet yang gw datengin,"bang,kalo persib maen suka rusuh ngga ?" kate die,"udah ngga sekarang mah ." Jadi gw mohon buat jakmania supaya jangan buat onar,yang kena orang jakarta lagi kan ? Mending the jak bikin lagu-lagu,toko merchandise,sunatan masal,dll. soalnye "musuh" kalian udah pada ngelakuin semua yang gw sebutin di atas . Tapi jakmania jangan terlalu mengikuti semua yang gw bilang di atas tadi yah,nanti disebut peniru lagi sama bobotoh persib . hhe .. Wass. Gw sebagai orang betawi sebenernya simpati ama the jak,cuman mereka tuh emang nyebelin .
kaca mobil temen gw aje ampe pecah ama the jak .

waktu dulu gw k bandung,gw nanya k satpam outlet yang gw datengin,”bang,kalo persib maen suka rusuh ngga ?”
kate die,”udah ngga sekarang mah .”

Jadi gw mohon buat jakmania supaya jangan buat onar,yang kena orang jakarta lagi kan ?
Mending the jak bikin lagu-lagu,toko merchandise,sunatan masal,dll.
soalnye “musuh” kalian udah pada ngelakuin semua yang gw sebutin di atas .

Tapi jakmania jangan terlalu mengikuti semua yang gw bilang di atas tadi yah,nanti disebut peniru lagi sama bobotoh persib .

hhe ..

Wass.

]]>
By: ns http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1836 ns Mon, 03 Mar 2008 04:08:27 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1836 Suatu observasi yg menyetuh dan bikin pembaca refleksi. Jadi inget pas masih di Jakarta dan keliling bersama teman2, dimana keluar masuk daerah mereka perlu melewati jembatan yg terdiri dari kayu yg tak lebih dari 4 inchi lebarnya, dimana rumah2 mereka hanya terdiri dari satu dua ruangan dan keberadaannya persis di sebelah kali yg sudah lama tidak mengalir air yg bersih. Jadi ingat satu teman dekat, yg mungkin sekarang terlibat di Jakmania ini atau soccer mania yg laen karena dia penggemar bola juga, yg tidak mau membuat keadaannya "define who he is". Kadang kita yg hidup bercukupan suka lupa ama realitas di dunia ini, yaitu lebih banyak orang hidup di bawah kecukupan (below the poverty threshold) daripada orang yg hidup di atas kecukupan. Maka masalah2 yg kita besar2in, either untuk diri kita atau untuk orang laen, sebenarnya bukan masalah besar tapi suatu hal yg sepele sekali. Dan banyak external factors/influences yg kita harus memikirkan sebelom memberi penilaian buruk terhadap orang laen. Mereka bukan "others" yg kita bisa ignore, tetapi "our fellow brothers and sisters" yg kita harus bantu dan bangkitkan. Semakin kita memberi jarak kepada mereka, semakin negara kita akan jatuh. I believe a success of a nation is not in the continued success of the privileged, but in the beginning success of the underprivileged and downtrodden. Suatu observasi yg menyetuh dan bikin pembaca refleksi.
Jadi inget pas masih di Jakarta dan keliling bersama teman2, dimana keluar masuk daerah mereka perlu melewati jembatan yg terdiri dari kayu yg tak lebih dari 4 inchi lebarnya, dimana rumah2 mereka hanya terdiri dari satu dua ruangan dan keberadaannya persis di sebelah kali yg sudah lama tidak mengalir air yg bersih.
Jadi ingat satu teman dekat, yg mungkin sekarang terlibat di Jakmania ini atau soccer mania yg laen karena dia penggemar bola juga, yg tidak mau membuat keadaannya “define who he is”.

Kadang kita yg hidup bercukupan suka lupa ama realitas di dunia ini, yaitu lebih banyak orang hidup di bawah kecukupan (below the poverty threshold) daripada orang yg hidup di atas kecukupan. Maka masalah2 yg kita besar2in, either untuk diri kita atau untuk orang laen, sebenarnya bukan masalah besar tapi suatu hal yg sepele sekali.

Dan banyak external factors/influences yg kita harus memikirkan sebelom memberi penilaian buruk terhadap orang laen.
Mereka bukan “others” yg kita bisa ignore, tetapi “our fellow brothers and sisters” yg kita harus bantu dan bangkitkan.

Semakin kita memberi jarak kepada mereka, semakin negara kita akan jatuh.

I believe a success of a nation is not in the continued success of the privileged, but in the beginning success of the underprivileged and downtrodden.

]]>
By: ingki http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1835 ingki Sun, 02 Mar 2008 15:26:27 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1835 ada relasi kuasa politik dan untung bisnis dalam fenomena amuk massa ala suporter sepak bola di indonesia. hal yang menyebabkan suporter sepak bola di indonesia selalu jadi yang paling tersubordinasi selama puluhan tahun. tidak saja suporter klub-klub yang berasal dari era perserikatan, tapi juga menimpa mereka yang fanatik pada klub-klub eks galatama. pada klub-klub yang berasal dari zaman perserikatan, kondisinya bisa tambah buram. sudah jadi barang pasti, daya hidup klub-klub perserikatan yang terus ditopang uang apbd melibatkan pula campur tangan politisi di dalamnya. setiap tahun anggaran berjalan, polanya selalu saja berulang. apalagi menjelang digelarnya proses transisi kuasa yang berujung pada pesta pora elit politik. biasanya tiap-tiap lima tahun sekali pada musim suksesi. tak jarang berulang, nasib pejabat publik daerah yang hampir seluruhnya dijabat oleh pemimpin klub-klub bersangkutan, ditentukan oleh nasib klub yang dipimpinnya. lawan-lawan politiknya dengan mudah menjadikan klub-klub sepak bola tadi sebagai titik masuk buat menentukan sasaran tembak. hal ini pun jadi kesempatan paling mudah bagi petualang-petualang yang ingin cari untung sesaat. saat kepentingan untuk menang makin genting, segala upaya mulai dari hal paling atas hingga hal terendah dilakukan. semua pihak bisa terlibat. tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa. sering kali terjadi, suporter-suporter jadi pihak yang terus menerus dimanfaatkan. ditarik-tarik mulai dari ujung paling kiri hingga ke pojok paling kanan. mereka dipaksa mengerti, memahami, dan mendukung rupa-rupa kepentingan yang punya aneka muka. dengan dalih sebagai mekanisme redistribusi aset paling sesuai buat masyarakat banyak, klub-klub tadi terus digelontor puluhan miliar duit publik. kata kunci yang selalu dipakai buat berlindung adalah, sepak bola merupakan hiburan rakyat paling murah. inilah satu-satunya "pelarian" dari sesaknya nafas orang-orang yang terpinggirkan dan mencegah munculnya anarki sosial. belum lagi asumsi seenak perut yang menyatakan duit rakyat yang mengucur tadi dipakai buat membina generasi muda lewat olahraga. padahal uang segitu banyak dipakai buat mengontrak pemain-pemain profesional yang gajinya mencapai satu miliar rupiah per musimnya. duit tadi juga dipakai membayari aneka pengeluaran non teknis yang jika dibeberkan halnya, sungguh tak etis untuk dibaca anak-anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang. jikapun ada yang dipakai buat "membina" generasi muda tadi, jumlah uangnya sungguh sekedar basa basi belaka. seandainya terdapat duit yang digunakan untuk membangun fasilitas membina raga sekalipun, besarannya cuma cukup untuk membeli beberapa buah bola saja. lantas darimana dunia bisnis mengais untung dari segala kekacauan tadi? dalam dunia sepak bola, jual beli pemain yang melibatkan perantara adalah bisnis yang perputaran duitnya sungguh fantastis. semua pihak ikut bermain. tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa. kalkulasi persetujuan tender terhadap berbagai proyek jika terjadi suatu kerusuhan akibat tontonan mengecewakan di lapangan hijau pun sudah jelas. ada yang namanya proyek perbaikan lampu-lampu jalan, pembenahan taman kota yang hancur, stadion yang rusak karena dibakar, hingga pemberian bantuan bagi warga yang dirugikan dan mungkin harus kehilangan asetnya. tapi jangan lupa, ada kebocoran anggaran luar biasa terhadap segala proyek yang rupanya seperti pejabat sedang berderma tadi. apa yang terjadi pada pecinta klub-klub eks galatama mungkin agak sedikit berbeda. mungkin mereka tak sampai ditarik-tarik dalam pertarungan kuasa politik akibat pertarungan rutin politisi di pentas rutin perebutan kekuasaan. tapi mereka pun tak lepas dari penyebab besar fenomena amuk massa tadi. kecewa yang menggumpal dan terakumulasi terus dari tahun ke tahun akibat berbagai himpitan hidup. semua masih ditambah dengan ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini yang jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa. mengapa mereka jadi brutal?inilah potret buram gagalnya pemahaman terhadap pendidikan yang dicekokan pemerintah. sekolah dan sistem pendidikan yang dijalani selama bertahun tahun seakan hanya bernafsu untuk mencetak karakter-karakter buas. bayangan-bayangan soal kekerasan selalu menjadikan orang lebih memilih lari pada solusi itu ketimbang menempuh jalan bertanya. ada guru yang hobinya menghukum. terdapat kakak kelas yang siap jadi pemangsa tatkala orientasi tiap tahun ajaran baru digelar. banyak pula asupan mata pelajaran yang seperti memisahkan manusia dari realitas di luar tembok sekolah dan kampus yang angkuh. kita diminta yakin, sekolah ya hanya untuk belajar apa yang sudah disajikan para guru dan dosen. tidak ada kenyataan lain. bahwa segala kekacauan sosial yang ada di luar adalah realitas yang sudah pasti ada pihak-pihak ataupun pejabat, ataupun pemerintah yang bisa membereskannya. pembedaan perlakuan yang tertanam di alam bawah sadar sejak mula-mula akan berbagai macam identitas yang diajarkan di sekolah dan sistem pendidikan kita menjadikan nihilnya pribadi-pribadi dengan toleransi. maka selalu saja ada anggapan. jika bukan dari kelompok anu, maka sudah pasti dia begitu. kalau dia tidak putih maka sudah pasti jahat dan jika tidak hitam maka sudah pasti ia putih yang perlu ditiru. maka, sikat saja yang hitam lalu agung-agungkan yang putih tadi. ada pola penyebaran prasangka yang didasarkan, ya atas prasangka belaka. mengikis habis potensi kekuatan dan mengerdilkan kemampuan. tak pernah ada upaya menularkan kebiasaan buat mempertanyakan segala sesuatunya. lewat bukti dan data sahih yang ada. usaha untuk membuat manusia memaksimalkan daya pikir yang dianugerahi lewat akal. sebagai pembeda, kita manusia. bukan hewan, bukan pula tumbuhan. bencana belum berhenti sampai disitu. barusan saya terbelalak, demi mengetahui biaya masuk taman kanak-kanak yang saya cocok pada metodologinya, dihargai sama dengan satu unit motor bebek keluaran terbaru. belum lagi pengeluaran rutin buat mengongkosi itu semua pada tiap-tiap bulannya. sayapun sibuk menghitung-hitung uang yang saya punya buat mendanai salah satu kepentingan primer itu. yah, saya hanya bisa sedikit tercenung sembari menengok pandangan anak saya yang sedang berkutat dengan buku-buku ceritanya. kita sekarang lagi dipaksa setuju kalau pendidikan berkualitas sama dengan harga mahal. padahal jalan pendidikan merupakan satu-satunya tawaran buat meretas segala penyakit sosial. jika litani ini melingkar terus tanpa putus, kapan saudara-saudara saya yang di antaranya ada yang jadi suporter sepak bola tadi bisa mencoba keluar dari jerat marjinalisasi? lawan! ada relasi kuasa politik dan untung bisnis dalam fenomena amuk massa ala suporter sepak bola di indonesia. hal yang menyebabkan suporter sepak bola di indonesia selalu jadi yang paling tersubordinasi selama puluhan tahun.

tidak saja suporter klub-klub yang berasal dari era perserikatan, tapi juga menimpa mereka yang fanatik pada klub-klub eks galatama.

pada klub-klub yang berasal dari zaman perserikatan, kondisinya bisa tambah buram. sudah jadi barang pasti, daya hidup klub-klub perserikatan yang terus ditopang uang apbd melibatkan pula campur tangan politisi di dalamnya.

setiap tahun anggaran berjalan, polanya selalu saja berulang. apalagi menjelang digelarnya proses transisi kuasa yang berujung pada pesta pora elit politik. biasanya tiap-tiap lima tahun sekali pada musim suksesi.

tak jarang berulang, nasib pejabat publik daerah yang hampir seluruhnya dijabat oleh pemimpin klub-klub bersangkutan, ditentukan oleh nasib klub yang dipimpinnya. lawan-lawan politiknya dengan mudah menjadikan klub-klub sepak bola tadi sebagai titik masuk buat menentukan sasaran tembak.

hal ini pun jadi kesempatan paling mudah bagi petualang-petualang yang ingin cari untung sesaat. saat kepentingan untuk menang makin genting, segala upaya mulai dari hal paling atas hingga hal terendah dilakukan.

semua pihak bisa terlibat. tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

sering kali terjadi, suporter-suporter jadi pihak yang terus menerus dimanfaatkan. ditarik-tarik mulai dari ujung paling kiri hingga ke pojok paling kanan. mereka dipaksa mengerti, memahami, dan mendukung rupa-rupa kepentingan yang punya aneka muka.

dengan dalih sebagai mekanisme redistribusi aset paling sesuai buat masyarakat banyak, klub-klub tadi terus digelontor puluhan miliar duit publik. kata kunci yang selalu dipakai buat berlindung adalah, sepak bola merupakan hiburan rakyat paling murah.

inilah satu-satunya “pelarian” dari sesaknya nafas orang-orang yang terpinggirkan dan mencegah munculnya anarki sosial. belum lagi asumsi seenak perut yang menyatakan duit rakyat yang mengucur tadi dipakai buat membina generasi muda lewat olahraga.

padahal uang segitu banyak dipakai buat mengontrak pemain-pemain profesional yang gajinya mencapai satu miliar rupiah per musimnya. duit tadi juga dipakai membayari aneka pengeluaran non teknis yang jika dibeberkan halnya, sungguh tak etis untuk dibaca anak-anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang.

jikapun ada yang dipakai buat “membina” generasi muda tadi, jumlah uangnya sungguh sekedar basa basi belaka. seandainya terdapat duit yang digunakan untuk membangun fasilitas membina raga sekalipun, besarannya cuma cukup untuk membeli beberapa buah bola saja.

lantas darimana dunia bisnis mengais untung dari segala kekacauan tadi?

dalam dunia sepak bola, jual beli pemain yang melibatkan perantara adalah bisnis yang perputaran duitnya sungguh fantastis. semua pihak ikut bermain.

tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

kalkulasi persetujuan tender terhadap berbagai proyek jika terjadi suatu kerusuhan akibat tontonan mengecewakan di lapangan hijau pun sudah jelas. ada yang namanya proyek perbaikan lampu-lampu jalan, pembenahan taman kota yang hancur, stadion yang rusak karena dibakar, hingga pemberian bantuan bagi warga yang dirugikan dan mungkin harus kehilangan asetnya.

tapi jangan lupa, ada kebocoran anggaran luar biasa terhadap segala proyek yang rupanya seperti pejabat sedang berderma tadi.

apa yang terjadi pada pecinta klub-klub eks galatama mungkin agak sedikit berbeda. mungkin mereka tak sampai ditarik-tarik dalam pertarungan kuasa politik akibat pertarungan rutin politisi di pentas rutin perebutan kekuasaan.

tapi mereka pun tak lepas dari penyebab besar fenomena amuk massa tadi. kecewa yang menggumpal dan terakumulasi terus dari tahun ke tahun akibat berbagai himpitan hidup.

semua masih ditambah dengan ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini yang jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

mengapa mereka jadi brutal?inilah potret buram gagalnya pemahaman terhadap pendidikan yang dicekokan pemerintah.

sekolah dan sistem pendidikan yang dijalani selama bertahun tahun seakan hanya bernafsu untuk mencetak karakter-karakter buas. bayangan-bayangan soal kekerasan selalu menjadikan orang lebih memilih lari pada solusi itu ketimbang menempuh jalan bertanya.

ada guru yang hobinya menghukum. terdapat kakak kelas yang siap jadi pemangsa tatkala orientasi tiap tahun ajaran baru digelar. banyak pula asupan mata pelajaran yang
seperti memisahkan manusia dari realitas di luar tembok sekolah dan kampus yang angkuh.

kita diminta yakin, sekolah ya hanya untuk belajar apa yang sudah disajikan para guru dan dosen. tidak ada kenyataan lain. bahwa segala kekacauan sosial yang ada di luar adalah realitas yang sudah pasti ada pihak-pihak ataupun pejabat, ataupun pemerintah yang bisa membereskannya.

pembedaan perlakuan yang tertanam di alam bawah sadar sejak mula-mula akan berbagai macam identitas yang diajarkan di sekolah dan sistem pendidikan kita menjadikan nihilnya pribadi-pribadi dengan toleransi.

maka selalu saja ada anggapan. jika bukan dari kelompok anu, maka sudah pasti dia begitu. kalau dia tidak putih maka sudah pasti jahat dan jika tidak hitam maka sudah pasti ia putih yang perlu ditiru. maka, sikat saja yang hitam lalu agung-agungkan yang putih tadi.

ada pola penyebaran prasangka yang didasarkan, ya atas prasangka belaka. mengikis habis potensi kekuatan dan mengerdilkan kemampuan. tak pernah ada upaya menularkan kebiasaan buat mempertanyakan segala sesuatunya. lewat bukti dan data sahih yang ada.

usaha untuk membuat manusia memaksimalkan daya pikir yang dianugerahi lewat akal. sebagai pembeda, kita manusia. bukan hewan, bukan pula tumbuhan.

bencana belum berhenti sampai disitu. barusan saya terbelalak, demi mengetahui biaya masuk taman kanak-kanak yang saya cocok pada metodologinya, dihargai sama dengan satu unit motor bebek keluaran terbaru. belum lagi pengeluaran rutin buat mengongkosi itu semua pada tiap-tiap bulannya.

sayapun sibuk menghitung-hitung uang yang saya punya buat mendanai salah satu kepentingan primer itu. yah, saya hanya bisa sedikit tercenung sembari menengok pandangan anak saya yang sedang berkutat dengan buku-buku ceritanya.

kita sekarang lagi dipaksa setuju kalau pendidikan berkualitas sama dengan harga mahal. padahal jalan pendidikan merupakan satu-satunya tawaran buat meretas segala penyakit sosial.

jika litani ini melingkar terus tanpa putus, kapan saudara-saudara saya yang di antaranya ada yang jadi suporter sepak bola tadi bisa mencoba keluar dari jerat marjinalisasi?

lawan!

]]>
By: guebukanmonyet http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1834 guebukanmonyet Sun, 02 Mar 2008 05:36:57 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1834 Oke jangan berantem..... Oke jangan berantem…..

]]>
By: Kami adalah Kami http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1833 Kami adalah Kami Sun, 02 Mar 2008 03:30:49 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/29/dengarkan-jeritan-mereka/#comment-1833 Ngomong apa sih lo!!kami lo anggap sbg sampaj ibukota...Anda hanya melihat kami dari sisi negatif saja,selalu dan selalu seperti itu.Coba anda pikir Kami adalah salah satu suporter terkreatif di negeri ini.Kami adalah suporter yang pertama kali membuat FILM DOKUMENTER.Kami punya website sendiri tanpa dibiayai oleh manajemen Persija,kami punya Tabloid sendiri.hasil susah payah kami.Sesungguhnya yang selalu melakukan tindak anarkis di jalan atau stadion itu adalah bukan anggota Jakmania melainkan simpatisan Persija.Saat ini anggota Jakmania berjumlah 32000 orang yang resmi.dan yang bukan anggota Jakmania bisa 2 sampai 3 kali lipat...memang sulit membedakan anggota Jakmania dan Simpatisan Persija karena sama2 memakai kaos Orange..Jadi jgn anda tulis yg selalu anarkis adalah Jakmania tapi Simpatisan Persija....Kalo gak percaya kita bisa berbincang-bincang..itu klo anda berani!!!!! Ngomong apa sih lo!!kami lo anggap sbg sampaj ibukota…Anda hanya melihat kami dari sisi negatif saja,selalu dan selalu seperti itu.Coba anda pikir Kami adalah salah satu suporter terkreatif di negeri ini.Kami adalah suporter yang pertama kali membuat FILM DOKUMENTER.Kami punya website sendiri tanpa dibiayai oleh manajemen Persija,kami punya Tabloid sendiri.hasil susah payah kami.Sesungguhnya yang selalu melakukan tindak anarkis di jalan atau stadion itu adalah bukan anggota Jakmania melainkan simpatisan Persija.Saat ini anggota Jakmania berjumlah 32000 orang yang resmi.dan yang bukan anggota Jakmania bisa 2 sampai 3 kali lipat…memang sulit membedakan anggota Jakmania dan Simpatisan Persija karena sama2 memakai kaos Orange..Jadi jgn anda tulis yg selalu anarkis adalah Jakmania tapi Simpatisan Persija….Kalo gak percaya kita bisa berbincang-bincang..itu klo anda berani!!!!!

]]>