Posted by: Gilang on: September 30, 2007
The Seemingly Impossible is Possible, optimisme itulah yang diucapkan berkali-kali oleh Hans Rosling, seorang peneliti dalam bidang kemiskinan dan perkembangan global, dalam presentasinya di TED bulan Maret lalu di Monterey California. Menggunakan software statistik yang sangat canggih Hans Rosling mengungkapkan bahwa data statistik yang dikeluarkan oleh PBB tentang peningkatan kualitas hidup di negara-negara dunia menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Asia dan Afrika mengalami peningkatan ekonomi yang cukup signifikan dalam beberapa puluh tahun terakhir sehingga beberapa mampu menyamai kesejahteraan negara-negara maju di Barat. Ia menyimpulkan berdasarkan data tersebut bahwa tidak akan ada lagi kemiskinan di dunia pada tahun 2050.
Apabila dikaitkan dengan angka kemiskinan penduduk di kota Jakarta, apakah mungkin teori Hans Rosling bisa dianggap tepat? Peran Pemerintah Daerah DKI (Pemda DKI) sangat diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan di Jakarta. Namun melihat kinerja dan mental sumber daya manusia yang dimiliki Pemda DKI, masyarakat tampaknya harus pesimis terhadap teori tersebut. Bagaimana tidak, selama di Pemda DKI masih banyak terjadi mark-up anggaran yang masuk ke kantong sendiri, selama tender-tender proyek yang diadakan hanyalah sebuah sandiwara dan ilusi belaka, selama “jalan pintas” terhadap semua regulasi masih di halalkan untuk dilanggar, maka tentunya pengentasan kemiskinan bukan satu masalah yang menjadi prioritas utama.
Peraturan baru dari pemda DKI yang melarang masyarakatnya untuk memberikan uang kepada para pengemis karena dianggap menggangu ketertiban umum, menurut saya tidaklah serta merta menghapus jumlah pengemis atau bahkan orang miskin dari jalanan. Peraturan baru tersebut tampaknya malah dapat menimbulkan masalah sosial baru, para pengemis bisa saja menjadi geram kepada para pengguna kendaraan sehingga tingkat kriminalitas justru meningkat. Contoh lain dari memblenya peraturan yang dibuat Pemda DKI adalah regulasi akan larangan merokok di ruang publik yang mana sampai saat ini kita masih sering melihat orang dengan asyiknya merokok di tempat umum dengan mudahnya.
Kemiskinan di Jakarta memang bukan sepenuhnya tanggung jawab pemda DKI, dukungan dari seluruh masyarakat Jakarta mutlak dibutuhkan tapi peran dan tindakan aktif mereka sebagai pemerintah yang menjadi acuan dan pedoman bagi kita sebagai masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Harapan kita semua semoga apa yang diungkapkan Hans Rosling tentang The Seemingly Imposible is Possible bahwa ada kemungkinan kemiskinan terhapuskan di muka bumi ini benar-benar terbukti dan Indonesia khususnya Jakarta sebagai Ibukota mudah-mudahan menjadi bagian dari kondisi tersebut. Apakah mungkin?
Foto diambil dari sini.
yang hrs kita cermati dan kita dukung adalah prosesnya……
bgmn usaha yg dilakukan dapat berjalan sesuai pada jalurnya….
end result adalah pencapaian sesuai dengan proses usaha yg seharusnya dapat maksimal…….
semoga ya…..
everything is possible if you believe……
Kalau Jakarta memulainya dengan Perda 8/2007, apa ita thn 2050 tidak ada kemiskinan di Jakarta?
2050…Kejauhan Gil…Gw bahkan optimis lebih cepat dari itu, asalkan pada pemilu mendatang 2009 dan 2014 orang-orang muda yang idealis muncul ke permukaan dan bukan hanya menjadi motor dari Muka-Muka lama yang masih mau menjabat tetapi menjadi duta rakyat yang konsisten berjuang untuk rakyat…Gw rasa orang muda tidak kalah pintar dan cerdas dari orang tua kok, mereka masih segar, idealis, pengetahuan cukup dan yang paling penting membumi, karena kita boleh lentur tapi jangan luntur…
Untuk peraturan Perda yang baru bagi gw itu gila…keran rejeki kok ditutup…Tuhan aja ga nutup…pikirin dulu arus airnya mau diarahin kemana, jangan tutup kerannya, cari dulu solusinya baru terapin Perdanya…
@ nia & layla
Tepat tuh nia, everything is possible if we believe, walaupun pemda masih harus berbenah diri terhadap perda 8/2007 yang dibuat nya, sekali lagi hal ini tidak lah menuntaskan masalah kemiskinan, bahkan kalau menurut saya salah langkah dalam penerapan nya, serupa dengan di India perda seperti ini sudah menjadi barang busuk dimana penerapan dan hasil nyata dari tujuan perda tersebut tidak ada ujung pangkalnya. tapi kembali lagi ke bahwa:
“Impossible is not a fact. It’s an opinion. Impossible is not a declaration. It’s a dare. Impossible is potential. Impossible is temporary. Impossible is nothing” -nba-
@ Udiot
Hidup Optimisme bung udiot, saat nya angkatan muda yang melakukan perubahan, seperti peranan angkatan muda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan, kalau pada saat itu tidak didesak mungkin kita belum merdeka sekarang, Mmm… sepertinya Revolusi kembali terjadi, mari kita gelegarkan revolusi budaya, kita mulai dari diri kita sendiri.
2015 tetep masih muda kok hehe……..kok ya mbikin program jauh-jauh amat, kelamaan ya, mana nih program 2007 atau 2008? gimana kalo blog ini mencanangkan seribu kontributor 2008? hehe…wah jadi OOT nih….udah cukup becandanya ntar ditegor tuan rumah…hiiii
Pada pengamatan saya, Indonesia adalah negara yang KAYA bukan sahaja budibicaranya malah KAYA dengan ekonomi-kesuburan yang dianugerahkan oleh Allah swt. Malah pemerhatian saya penduduknya – amat bertanggungjawab dan berkerja keras dalam menyara kehidupan seharian serta penuh syukur dan sabar. Namun begitu beberapa perkara perlulah dibaiki agar ekonomi Indonesia dapat menjurus kecemerlangan dengan menfokuskan kepada sistem pengangkutannya lebih-lebih lagi disekitar pendalaman dan memperbanyakkan pusat pengagihan ekonomi pada jarak yang bersesuaian agar hasil ekonomi-kesuburan Indonesia dapat disalurkan dengan cepat dan mudah kepada sesama negeri maupun luar negara. Berkaitan dengan “korapsi dan birokrasi” yang sentiasa diwar-warkan oleh penduduknya – saya percaya pihak warga Indon lebih matang dan bijaksana bagi melunaskan kecemerlangan penduduknya kearah kebahagiaan dunia dan akhirat disamping bekerjasama kearah kesempurnaan dan tidak menuggu 2050!
Indonesia Bisa! orang2 luar saja yakin Indonesia bisa bangkit, Mari Bangkit bersama!
Mnurut gue kemiskinan di dunia ini pasti masih ada sampe 2050, dan ga mungkn hlg sampe kpn pun. kecuali, dari skrg kita sendiri merubah pola hidup kt yg sllu mgharapkn bantuan dri penerinth, dri org laen. coba kita berusaha, pepatah mgatakan: dì mana ada kemauan, disitu ada jalan. tp yg skrg kt liht kemauan itu yg tdk ada. krna apa? budaya MALU di negara kita itu yg msh mlekat. hlgkan budaya malu dan tanamkan sifat prcaya diri. “HARUS BISA”.
mungkn, besok ”kemiskinan” yg bagai mana yg di maksud?
ah, bicara kemiskinan di jakarta sudah bosan aku dengarnya. orang miskin itu karena tabiatnya, mentalnya dan jiwanya.. buktinya orang cacat saja masih bisa jadi orang berguna…. perampok punya tangan dan kaki lengkap malah merampok. dalih-dalihnya kemiskinan yang dijadikan kambing hitam. yang seharus bertanggung jawab itu Pemda DKI. kenapa biarkan mereka tinggal di jakarta…. sudah itu pembangunan infrastruktur di luar pulau jawa dan sekitarnya masih jauh tertinggal di bandingkan dengan pulau jawa… ehm.. sungguh tragis nasib indonesia, negara tercinta kita yang diurus oleh birokrat-birokrat yang tidak becus dan tidak berkompeten.
September 30, 2007 at 4:09 am
Selamat datang di JakartaButuhRevolusi Budaya Andri Gilang! We’ve been waiting for you. Good article, very inspiring and motivating. I know poverty may be so hard to defeat but it doesn’t mean that it’s impossible. What we should do is to build a national consensus to fight against poverty and corruption.
Anyway, I’m so happy to see you back again my brother. I remember all the beautiful memories we had in the past, from meeting to meeting, hehe. Well, this is the new kind of MorePower (MP), and you’ll always be invited to join, always.