Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Edukasi yang Efektif dan Inklusif

Posted by: dejong on: October 9, 2007

children_study_school_rubble1.jpgKritik terhadap sistem edukasi di Indonesia bukanlah suatu hal yang asing lagi. Sudah banyak orang yang mengatakan bahwa sistem edukasi yang bagus dan efektif merupakan suatu fondasi penting dalam sebuah pembangunan dan kesuksesan suatu bangsa. Namun apakah yang dimaksud dengan sistem edukasi yang baik dan effektif? Siapa yang dapat menilai proses dan hasil dari sistem edukasi tersebut? Dan apakah sistem edukasi yang baik dan efektif dapat menjamin kesuksesan seseorang 100 persen?

Dalam menjalankan 12 tahun wajib belajar, kebetulan saya mendapatkan kesempatan mencicipi beberapa sistem edukasi yang berbeda. Dalam artikel ini saya sekedar ingin merefleksikan perbedaan dari sistem-sistem edukasi yang pernah saya alami tersebut dan menambahkan beberapa food for thought untuk melihat faktor-faktor penting yang harus dijadikan faktor inklusif dan ekskulsif dalam kaitannya dengan pengkajian ulang terhadap arah sistem edukasi Indonesia

“The word education must not be understood in the sense of teaching but of assisting the psychological development of the child.”

Kata edukasi tidak seharusnya diartikan hanya dalam ruang belajar-mengajar melainkan membantu perkembangan psikologis anak. Begitulah kata Maria Montessori, pelopor pembangunan metode belajar yang menaruh perhatian penuh terhadap kritisnya abilitas dan kreatifitas anak dalam pembelajaran usia dini. Dalam ajarannya, Dr. Montessori menekankan empat faktor penting yang membutuhkan perhatian penuh dalam membangun ilmu pengetahuan seorang anak, yaitu: perkembangan kognitif, latihan sensori, periode sensitif menyangkut pertumbuhan anak (sensitive periods of the child’s growth), dan rasa ingin tahu anak yang spontanitas. Faktor-faktor ini sangat efektif dan berguna jika kita dapat menggabungkan pembelajaran yang tepat sasaran dengan faktor tersebut kepada anak pada usia dini.

Untuk sekarang, tinggalkan dulu kata “pada usia dini” dan pusatkan perhatian kita pada kata pembelajaran yang tepat sasaran. Dengan metode, sarana, dan lingkungan yang tepat, kita dapat membentuk diri kita menjadi manusia yang efektif dan berguna. Dalam konteks sekolah, yang perlu diingat adalah bagaimana para pendidik dapat menganalisa seorang murid dan membantu mereka menjadi seorang individu yang berkarakter dengan menganalisa kebutuhan dan kemampuan kognitif mereka. Jika pendidik bisa memberikan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah sang anak, maka akan tercapai sebuah win-win solution. Dengan ini, sistem pendidikan yang bersifat dua arah akan terlihat lebih bersinar.

Dalam mengkomparasi beberapa sistem edukasi yang pernah saya alami saya menemukan adanya beberapa kekurangan dalam memenuhi keempat faktor diatas. Sayangnya, kebanyakan kekurangan tersebut saya rasakan dalam sistem edukasi di Indonesia. Menurut hemat saya, jika kekurangan tersebut bisa ditutupi dari tingkat SD hingga SMA maka hasil pendidikan Indonesia akan jauh lebih berbuah. Berdasarkan pengalaman saya ada tiga hal yang menghambat perkembangan pola pikir anak dalam sistem edukasi di Indonesia:

1. Rote Memorization
Bagi para murid di Indonesia hapalan sepertinya sudah menjadi sebuah kewajiban atau ritual dalam belajar. Menghapal hal-hal umum seperti rumus yang sering digunakan dan kosa kata tertentu memang suatu hal yang wajar. Tapi, esensi dari proses menghapal inilah yang harusnya menjadi basis mengapa kegiatan menghapal itu penting. Jika proses menghapal dilakukan sekedar untuk melakukan penukaran ilmu pengetahuan tanpa basis yang kuat, maka hal ini akan menjadi kegiatan yang membuang waktu saja. Esensi yang harus diperhatikan adalah apa yang dihapal, alasan dari penghapalan, dan kegunaannya hapalan itu sendiri.

Saya ingat ketika Ibu Cut, guru kelas SD saya yang cukup killer, melarang kami pulang sekolah sebelum kami bisa menyebutkan setidaknya dua butir pancasila. Pada saat disetrap, yang terlintas di kepala saya hanyalah “Aduh, nanti masih sempet maen tak jongkok ngga ya sebelum bisnya pergi?”

Seharusnya yang disebut dengan ‘pendidikan dini’ bukan berarti melimpahkan segala informasi kepada seorang anak. Dari segi konten, hapalan seperti yang dicontohkan di atas bukanlah sesuatu yang signifikan untuk memajukan ilmu pengetahuan seorang murid, melainkan hanya sebuah proses pemindahan fakta belaka. Bagi seorang murid 1 SD yang baru lulus dari TK, mereka masih belum bisa memproses informasi kelas berat seperti butir-butir pancasila, peta buta, apalagi mengerti kepentingan hapalan-hapalan tersebut. Orang tua mestinya bertanya apa inti dan kegunaan dari hapalan ini. Nah, jika begitu mengapa para murid kita masih terus dijejali dengan rote memorization? Padahal cukup jelas bahwa hal itu hanya meningkatkan kegiatan contek-mencontek dan tidak terlalu mendidik anak, dalam arti tidak memberikan kemajuan kemampuan berpikir kritis.

Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak penting atau bahkan non-existent. Dalam sistem pendidikan Amerika yang dicap ‘maju’ sekalipun masih ada proses penghapalan. Tapi kembali ke estetika konten dan subjek yang dihapal, alasan mereka lebih jelas. Umpamanya, hapalan dalam kelas psikologi, ekonomi, dan sejarah biasanya menyangkut kosa kata, singkatan, atau nama teori. Di kelas sejarah, yang penting bukanlah menghapal tanggal dan tahun meninggalnya Presiden Abraham Lincoln, melainkan kontribusinya terhadap pembangunan negara Amerika. Bahkan di kelas fisika sekalipun, kita tidak perlu menghapal rumus fisika di luar kepala. Guru akan mencatat rumus-rumus penting di papan tulis, bahkan membiarkan murid membuat cheat sheet atau kertas contekan. Aneh? Tidak juga, karena para guru sadar akan satu hal: yang penting bukanlah mengingat apa, tetapi mengapa. Nilai aplikasi pengetahuan jauh melebihi nilai pengetahuan itu sendiri, tapi bukan berarti pengetahuan itu sendiri itu tidak penting. Nilai aplikasi pengetahuan harus memiliki fondasi yang lebih kokoh dari sekedar menghapal. Saya merasakan kurangnya fondasi tersebut pada sistem edukasi di Indonesia sehingga tidak membuahkan kemampuan critical thinking yang tajam.

2. Lack of critical thinking
Jika murid dibiasakan menghapal hanya sekedar untuk tahu dan lulus ujian, dan bukan untuk mengerti artinya secara keseluruhan, maka sulit bagi mereka untuk mengasah pemikirannya untuk menjadi manusia yang kritis. Karena menghapal pada dasarnya jauh lebih mudah daripada berpikir, maka kebiasaan untuk menghapal yang dilakukan secara for granted akan menumpulkan kemahiran kita dalam menggunakan kemampuan otak kita untuk menganalisa suatu masalah secara mendalam. Orang Barat sering mengingatkan kita untuk think outside the box – melepaskan diri dari ruang pemikiran yang sempit – agar kita bisa melihat dan memberi solusi kepada sebuah masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Hal ini sulit untuk dicapai apabila kita terbiasa mendapatkan jawaban untuk segala pertanyaan langsung dari buku. Ujian yang jawabannya jelas tertera di buku word by word tentunya tidak mengajar kita untuk berpikir secara kritis. Saya percaya bahwa kita tak hanya saja belajar dari pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga dari percobaan atau trial and error. Sementara rote memorization tidak menimbulkan rasa ingin tahu dari para murid secara spontan. Jawabannya udah ada, ngapain pusing-pusing mikir, bener ngga? Ya ngga bener!

Seharusnya edukasi bukan hanya ‘mengisi’ otak kita yang kosong, tetapi juga mengembangkan isi tersebut. Pepatah Barat mengatakan bahwa ”curiosity killed the cat” – rasa ingin tahu dapat mencelakakan. Bagi saya pepatah ini terkesan sangat negatif, jadi saya senang jika ditambah dengan kalimat but it saved the man – tetapi menyelamatkan manusia. Saya percaya bahwa kita harus selalu memberi makan kepada otak kita dan mengasahnya agar selalu tajam. Kalau dari kecil seorang anak tidak dibiasakan untuk berpikir secara kritis maka pola pemikiran ini akan terlewatkan pada periode sensitif pertumbuhan anak. Alhasil, anak akan mempunyai kesulitan untuk berpikir outside the box. Walaupun kita bisa selalu mengasah otak di usia dewasa, tapi ini memakan waktu lebih lama (slowing the process down). Solusi dari masalah ini bisa berawal dari kegiatan sederhana seperti membaca buku (buku lho, bukan komik), menonton acara televisi yang bersifat edukatif, atau mengajak anak bertukar pikiran dan menganggapnya sebagai orang dewasa.

3. Nilai aplikasi pengetahuan dalam praktikum
Dalam teorinya, psikolog anak Jean Piaget mengutarakan bahwa seorang anak dapat memiliki beberapa kemampuan dasar mengenai alam dimana ia hidup. Kemampuan yang disebut schema ini adalah pembelajaran dalam mengenali pengalaman sehari-hari dan stimulus yang dirasakannya sejak usia dini. Ia menyebutkan empat tingkat pertumbuhan anak yang kritis (stages of cognitive development), yaitu:

  • Sensori Motor: Anak menyicipi dunia dengan menggunakan segala inderanya sambil mempelajari dan mengingat bentuk ruas sebuah objek (Bayi – 2 th)
  • Preoperational: Kemahiran menggunakan bagian tubuh (2 th – 7 th)
  • Concrete Operational: Mulai berikir secara logis akan dunia konkrit (7 th – 11 th)
  • Formal Operational: Pengembangan pemikiran abstrak (setelah usia 11 tahun)

Proses yang dilakukan dalam melengkapi tiap level pertumbuhan tersebut adalah sistem adaptasi natural yang dimanakan assimilation dan accommodation. Pengetahuan lama kita akan sesuatu mempengaruhi pendapat dan asumsi kita dalam menilai dan mengartikan suatu hal baru. Kita pun mempunyai kemampuan untuk mencocokkan kedua pengetahuan tersebut dalam menjelaskan sebab akibat dari semua itu. Ini semua terjadi dalam konteks kongnitif dimana anak merasakan dan mengatasi stimulus tentang lingkungannya secara langsung atau hands-on. Singkatnya, persepsi kita akan sesuatu adalah asumsi dan prediksi dari apa yang pernah kita rasakan dan pelajari dari kehidupan kita di masa lalu.

Dalam konteks studi akademisi, teori ini sangat berguna untuk menegaskan kebutuhan kegiatan praktikum. Kadang kita terlalu banyak menelan berbagai teori sehingga kita bingung apa kegunaan dan cara menggunakan teori tersebut. Sayangnya, praktek dan teori itu hanya diungkapkan dalam sebuah contoh yang ditulis di dalam buku. Padahal, kalau kita bedah kata “praktikum,” kata tersebut adalah singkatan dari “praktek kurikulum.” Kembali ke teori Dr. Montessori, latihan sensori sangat membantu meningkatkan pengetahuan anak dan cara yang paling mudah adalah dengan menyediakan berbagai aktifitas interaktif di dalam kelas.

Pengalaman saya bersekolah di dalam sistem edukasi Amerika banyak menuntut saya untuk ikut serta dengan berbagai aktifitas stimulasi. Bagi saya, latihan ini sangat penting guna mempraktekkan ilmu pengetahuan ke dalam dunia nyata. Contohnya, di dalam kelas politik dunia, para murid diminta untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai satu negara tertentu. Kemudian, setiap kami belajar teori-teori baru seperti realism, free trade, atau colonialism, kami harus menjelaskan teori-teori tersebut melalui negara yang telah kami pilih.

Tak terbayang apa jadinya sebuah pendidikan tanpa praktikum. Sebagai seorang murid, saya merasa aplikasi pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari sangat pentinga agar ilmu tersebut menempel di kepala. Lagipula, kegiatan seperti ini sangatlah menarik dan menyenangkan. Kalau edukasi mempunya konotasi sebagai sebuah kegiatan yang membosankan sudah pasti tidak ada pengetahuan yang masuk di kepala para murid. Education has to be fun, sehingga murid menjadi gemar belajar dan mencari tahu lebih banyak informasi.

Pada akhirnya, saya tidak ingin menyalahkan begitu saja sistem pendidikan di Indonesia. Saya hanya ingin memberikan pandangan yang berbeda tentang hal-hal yang patut dipikirkan dalam mengkaji ulang sistem edukasi di Indonesia. Jelas, edukasi formal di sekolah bukanlah satu-satunya saran yang harus diperbaikin karena yang namanya belajar bukan hanya di sekolah tapi juga di rumah dan lingkungan pergaulan. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa edukasi yang dimulai sejak dini adalah cara terbaik dalam membimbing pertumbuhan seorang anak secara intelektual karena seperti yang dikatakan Jean Piaget, anak dapat terinspirasi akan sesuatu dalam tingkat pertumbuhan tertentu. Tetapi jika ada anak yang tidak berkesempatan untuk menikmati edukasi dini bukan berarti kita tidak bisa memberikan pendidikan yang baik kepadanya. Yang penting adalah bagaimana seorang pendidik dapat memberikan pengajaran yang efektif agar seorang anak dapat menjadi pribdadi yang ekspresif. The right solution for the right problem.

“The greatest sign of success for a teacher is to be able to say, ‘The children are now working as if I did not exist’” –Maria Montessori

16 Responses to "Edukasi yang Efektif dan Inklusif"

Wow, what a great article! I’m not gonna comment the article right now since I have no energy, baru sahur! But, I’d like to welcome Reza Ramadhani aka Dejong for being part of Jakarta Butuh Revolusi Budaya. You are a gifted person with amazing thoughts, I’m sure Jakarta could use some of your talent :)

Welcome. And, again, your article is so inspiring. Keep up the good job. I’m proud of you.

Salam kenal Dejong…gw Udiot…makanya pikiran gw aga keblinger…tapi sumpah Artikel lu ini keren banget sampe gw harus ngeprint buat ngebacanya…Ada beberapa poin yang pengen gw tanyain, karena ngebuat gw berkhayal…
1. Menurut lu bisa ga sistem edukasi di Indonesia dikembangkan atau dirubah bentuknya agar bisa memperoleh lulusan yang berkualitas?butuh berapa tahun?berapa generasi harus dikorbankan untuk mengganti sistem edukasi di Indonesia?
2. Lu kan hanya membandingkan Sistem pendidikan Indonesia dengan Amerika yang rada kapitalis, bagaimana klo membandingkan dengan pendidikan di negara kaya Rusia atau China bagaimana dengan sistem pendidikan di negara tersebut?
3. Walaupun sekarang kita lagi “berantem” sama Malaysia tapi bisa ga klo kita mengambil malaysia sebagai contoh terdekat kita dalam me=ngembangkan sistem pendidikan, secara kita ga jauh beda sama Malaysia dari segi kebudayaan?
thx

Ohya gw setuju sama pepatah lo curiosity killed the cat but save the man, for example nih ya..
karena keingintahuannya sama makanan di meja, si kucing nekat melompat ke meja makan dan melakukan penciuman, si orang yang lagi shalat terpaksa membatalkan shalatnya supaya bisa nendang itu kucing dan menggebuknya sampe mati supaya bisa makan buat berbuka puasa, padahal klo dari awal si orang ngasih makan kucing dengan sedikit makanan yang ada di meja, pasti si kucing ga akan melompat ke meja karena keingin tahuannya, begitu juga hidup banyak orang yang HARUS mencuri “yang kecil” tetapi harus berakhir di bakar massa, padahal seandainya klo dia berada pada posisi kenyang ia tidak akan melakukan hal yang serupa, Thats Life…ini yang mau kita rubah…
Welcome to Culture Revolution..halah gaya…Revolusi Budaya maksudnya…

Hi Dejong, salam kenal juga. Menarik sekali berbicara masalah pendidikan, tidak dipungkiri Indonesia sebagai negara berkembang sudah tertinggal jauh dengan negara-negara maju seperti amerika dalam hal pendidikan, faktor-faktor seperti masalah ekonomi dan kesejahteraan para pengajar yang menyebabkan sistem pendidikan kita masih jalan di tempat, bagaimana tidak? gimana mereka mau memikirkan perkembangan pola pikir murid-murid nya, kalau setiap mereka pulang mengajar harus pusing memikirkan apakah anak-nya sendiri sudah makan atau belum, gimana mereka mau memikirkan “Education has to be fun”, kalau setiap mereka pulang mengajar kepikiran mahalnya harga mainan yang di inginkan oleh anaknya sendiri. Kenyataan itu saya alami sendiri ketika harus mengenyam pendidikan di sekolah negeri kita. Jadi sudah sepatutnya lah kita memikirkan kembali nasib “Pahlawan tanpa tanda Jasa” tersebut, karena masa depan pemimpin-pemimpin kita yang akan datang ada ditangan mereka, semakin berkembangnya pola pengajaran pendidikan mereka maka mudah-mudahan semakin baik calon pemimpin kita nantinya.

So, one of the many possible solutions is what JBRB, and probably many other communities out there, is doing now: free school. This, although somehow costly, is a very good way to achieve a better education.
With the participation of young intelectuals, though this free school we can introduce and promote our concept of a better education. Let our program be an added value to the existing system.

As long as we do it consistenly, this small group will spread the influence to a larger community. As we know that changing the whole existing system is nearly impossible without any expense. What we need to do now is preparing the people with a grand design.

Nice article Dejong, it gives me lots of inspiring ideas. So, what do you think our government should do based on your idea of good education? It seems like we are so much left behind from other countries, I read one article somewhere saying that Vietnam has even a better educational system. What are the missing elements in our curriculum?

And, what do you think about high-school students in Jakarta who love to act violently (tawuran) and to vandalize? How come our young people are so hard to control? This condition has been going on for years and no one seems to care. What do you think?

Nice article. Saya setuju kalau sistem pendidikan di Indonesia harus ditingkatkan, saat ini sistem pendidikan kita benar-benar terbelakang tidak berdaya menghadapi laju globalisasi. Makin lama Jakarta makin dipenuhi oleh ekspatriat2 yang lebih luwes menghadapi budaya dunia dimana bahasa Inggris menjadi keharusan.

Jadi menurut Dejong sistem pendidikan Indonesia perlu diubah menjadi seperti sistem pendidikan Amerika kan? Namun, Anda juga menyarankan agar para murid kita lebih menghargai kebudayaan lokal kan? Nah, kira-kira seperti apa implementasinya?

Thanks, ditunggu diskusinya.

Nice article. Tapi, apakah Anda kira kita bisa menjalankan sistem pendidikan seperti itu di saat gaji guru masih begitu rendah dan fasilitas sekolah2 negeri begitu buruk? Terobosan apa yang kira2 dapat dilakukan?

@ Donna
GW setuju donna, apalagi kalau kata banyak orang bahwa sekarang jamannya “the world is flat” atau “borderless” kata Kenichi Ohmae…Ini menimbulkan pertanyaan sendiri dalam hati gw bisa ngga bangsa kita bisa meningkatkan kualitas dalam segala bidang, sedangkan di sisi lain kita harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang udah siap banget dengan globalisasi, ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita kalau tidak cerdas menghadapinya. Berkembang jadi lebih baik atau malah hancur terpuruk!!!
Dalam Kompas beberapa hari yang lalu ada artikel yang secara khusus membahas tentang Malaysia, dengan judul Malaysia Sudah Berjalan Jauh, dan pas gw baca…bener aja kalo isinya gila banget, dalam bidang pendidikan, pertanian, pariwisata, ekonomi, dll emang Malaysia udah jalan jauh. Kalaupun ada masalah, paling dalam bidang politik Malaysia punya masalah dalam “etnis gap” antara China, India dan Bumiputera tetapi itupun tidak dijadikan alasan bagi Malaysia untuk menghambatnya menjadi sebuah bangsa Melayu yang maju.

@ Tobing
Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau gaji guru di Indonesia sangat rendah, sehingga banyak masalah yang timbul, misal cari order lewat buku dengan bekerjasama dengan penerbit, membuat les-les sepulang sekolah yang pada akhirnya timbul perasaan untuk memebri nilai yang bagus untuk murid-murid yang mengikuti les, sampai pada permasalahan guru yang mengojek. ini seharusnya menjadi catatan penting bagi pembenah pendidikan di negeri ini, karena pendidikan itu selalu mencakup 3 trilogi pendidikan; anak didik, pendidik, dan sistem pengajaran, kalau ada ketimpangan pada salah satu tersebut maka mekanisme pendidika tidak akan berjalan baik, segimanapun canggihnya teori dan konsep yang ditawarkan. Seandainya gaji guru 4-7 juta pasti banyak fresh graduate yang mendaftar menjadi guru, sehingga pekerjaan guru akan menjadi jabatan populer. Tapi sayangnya dengan kondisi seperti ini Hanya Oemar Oemar Bakrie yang akan muncul.

Bagaimana saran Anda terhadap ujian SPMB (UMPTN) yang hanya dilakukan dalam waktu dua hari? Apakah sistem ujian seperti itu pantas dilakukan bagi para lulusan SMA yang hendak mendapatkan masa depan yg cerah di universitas2 negeri?

Pertama-tama, gue mau minta maaf dulu karena lama banget memberi reply komentar teman2 yang sangat menarik. Ok langsung saja:

@Udiot:
Salam kenal juga Bapak Udiot, terima kasih atas ucapan selamat datangya. Dan gue suka penutupan lo.. keren2.

1. Gue yakin banget system edukasi Indonesia bisa di kembangkan untuk menghasilkan anak-anak yang lebih berkualitas. Kalo masalah waktu, ya memang harus gradual karena ngga bisa dirubah dalam sekejap. Tapi gue rasa kita bisa mulai dari sekarang; by starting small, efek gelombang pasti akan terjadi. Contohnya, gerakan kecil sperti bimbel gratis yang sudah disediakan oleh JBRB sudah menjadi salah satu ignition untuk revolusi edukasi. Kenapa? Karena anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan pengajaran tambahan secara cuma-cuma.. jadi anak-anak itu dapet pengetahuan extra, dan mereka pun diajar untuk lebih giat belajar dan mencari tahu. Nah bayangin aja seberapa cepat api seperti itu bisa merambat kalo lebih banyak orang lagi yang mau melakukan hal serupa. Kita harus think positively and think big. Yang penting adalah ada yang dimulai. Punya hati dan niat baik untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik itu sangat bagus, tapi untuk memulai dan melakukan sesuatu agar niat itu tercapai jauh lebih baik lagi.

2. Mhh gue kurang megerti saat dibilang ’sistem amerika yang rada kapitalis.’ apakah maksutnya sebuah sistem yang mempunyai dana untuk menyediakan berbagai tools yang tepat untuk menyalurkan pendidikan tersebut, atau sebuah sistem yang memacu sebuah ideologi kapitalis melalui kompetisi di kelas?

Selebihnya, sebetulnya yang gue ingin bandingkan dan tekankan dalam artikel ini lebih mengarah ke teaching approach yang mungkin bisa dijadiin buku pedoman untuk para guru. sebetulnya mau pake sistem apa pun, asal penyampaiannya pas dan tepat sasaran, gue rasa disitulah kita bisa menghitung ‘kesuksesan’ sebuah pengajaran. walaupun misalnya rote memorization itu masih mau diterapin, at least bikin agar rote memorization terlihat di mata anak sebagai sebuah kegiatan belajar yang penting dan menarik.

Sistem edukasi di russia (yang masih melewati masa post-communism) dan cina (yang sedang bertanding di dunia globalisasi sementara mempertahankan nama communism) sedang menemui dilema yang serupa dengan indonesia, yaitu sedang menjalani transisi dalam ideologi. kita semua sedang bersaing untuk mempunyai posisi di dunia modern dan global, dan walaupun salah satu jawaban untuk keberhasilan tersebut ada di edukasi, pelaksanaan sistem tersebut masih samar-samar.
For example, cina juga telah membuat reformasi edukasi yang berorientasi pada otonomi daerah, namun problem yang tertinggal masih sama seperti di indonesia: komersialisasi sekolahan yang menghambat acess to education untuk yang kurang mampu dan juga metode pembelajaran yang kuno. edukasi masih dilihat sebagai sarana yang hanya memajukan ‘farmers’ bukan ‘workers’ – exclusivity of education masih tinggi walaupun mandat mengatakan 9 tahun wajib belajar.
Sedangkan di rusia, problem utama yang sedang mereka hadapi adalah pembentukan ulang moral, kultur, dan identitas. Jika dulu sekolah adalah tempat indoktrinasi ideologi pemerintah, sekarang para guru diajak untuk menjadi penyedia kreatifitas dan pembentukan otak anak yang independen. Personal-oriented teaching approach dijadikan cara utama belajar mengajar dan lesson plan yang berorientasi terhadap mengembangkan intelegen anak sesuai dengan kemampuan mereka sendiri dijadikan tumpuan dalam mengajar.

Para guru yang mendorong approach ini memang masih menangung biaya sendiri dalam menyediakan ini pada murid (i.e. buku-buku lesson plan dan metode pembelajaran masih jadi tanggungan pribadi). Saya rasa banyak guru yang percaya tulus akan pentingnya edukasi dan kebutuhan memberikan anak-anak konten dan cara pembelajaran yang interaktif dan efektif tapi kebentrok biaya. Ini revolusi yang belum bisa saya berikan solusinya karena saya juga belum menemukan cara untuk meminta dana pada pemerintah. Pemerintah seharusnya lebih membuka mata dan telinganya. Yah mungkin para educated elits jakarta bisa mulai membisikkan pentingnya edukasi supaya revolusi edukasi dan budaya bisa tercapai!

3. Gue ngga terlalu tau sistem edukasi malaysia gimana, tapi kalo melihat research yang ada, sepertinya sistem mereka aga bias. Yg utama sih karena dari segi kebudayaan, mereka menjunjung tinggi banget nilai bumiputra mereka (yang disempitkan menjadi nilai ke-melayu-an mereka) jadi kasian anak-anak keturunan cina dan tamilnya. Udah gitu katanya sih walaupun banyak dana yang disalurkan untuk edukasi, mereka masih punya masalah dalam implementasi dan cara penyampaian. Walaupun secara kuantiti statistik edukasi di malaysia tinggi, kualitasnya masih belum terlalu diacungkan jempol oleh masyarakatnya sendiri. Mungkin ada yang bisa nambahin?

@Gilang
Yap Gilang, gue setuju banget dengan elo.. sepertinya ungkapan “pahlawan tanpa tanda jasa” diambil secara literal. Kesannya mereka sudah sepatutnya mengerjakan tugas mulia itu dan jasa yang sama dengan ‘pemasukan’ menjadi faktor yang dilupakan. Memang selain kurikulum untuk para murid, sistem edukasi juga harus memperhatikan kebijakan terhadap para guru. Idealnya kan kalo gurunya makmur, mereka lebih terlepas beban pikiran di rumah dan bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Okupasi guru memang biasanya identik dengan gaji kecil, tapi masih ada aja orang yang mau jadi guru. Ya itu bisa saja karena guru adalah pekerjaan yang gampang didapati, atau karena memang ada orang-orang yang tulus melakukannya. Semoga saja alasan kedua yang bisa tertanam di hati para guru.

@Ian
Yes Ian, i think this free school program is both beneficial and effective not just to the students being taught, but also as a mechanism for realization to our people. Social work like this can be an amazing engine to start a revolution. Now, imagine what can happen if we were to add many more activities and lesson plans to this program.. and then expand them to various schools across Jakarta, then Indonesia. Hehe, yes, again think big but start small.. when you ignite a spark of light, the fire will soon start.. and it will keep on burning if we keep the fire on. As Udiot said, “Welcome to Culture Revolution!”

@Guebukanmonyet
Thank you guebukanmonyet for the welcoming note and supportive encouragement. What i think the government should do is supply their cabinet members with books by Maria Montessori, Paulo Freire, and the likes so they’d understand the importance of educaiton for nation building and provide the necessary items and tools to carry out everything they say in the National Action Plan for Education. Hehe, well maybe that’s not doable in the near future. However, i think these are:

a. Increase teacher training and incentives. Everything goes back to having the right medium – teachers are the medium used to educate students.

b. Allocating the right tools for schools – be it in the form of money, donations (books, stationary, furniture, equipments, etc), or seminars for teachers.

c. Provide free national schools with no strings attached.

d. Provide public announcements supportive of the educational field. Air tv programs that have moral messages and educational for children to watch.

e. Since many kids have to work after they go to school, create school environments that are safe and positive so children can use school as a place to relax and be someone they can and want to be.

f. And many many more that’ll be too long to mention here =)

Keep in mind that while we compare ourself to other nations, we must also look inward and see what Indonesia needs, and not just at what other people have.

With regards to tawuran, i think it’s become the culture like gencet-gencetan, ospek, etc. People are hard to control, that’s just basic psychology and sociology. Sometimes total authority is needed to create a foundation, and i’m thinking Lee Kwan Yu’s Singapore. Sadly, Indonesia’s autocracts rarely think beyond their income border. Back to tawuran, no one seems to care because it has become a traditon, something that’s accepted as an activitiy for the boys during high school. That mentality has to be changed early where good values are instilled from young. Then again, sometime tawuran is inevitable because it’s an activity that high schoolers can do to avoid thinking about their reality (about how hars life is).. that requires a different approach.

Point untuk komentar Gilang dan balasan Dejong:

Meski tidak 100% benar, tapi profesi guru di pendidikan dasar masih bukanlah “profesi atas kemauan dan kemampuan”. Berbeda dengan profesi di pendidikan lanjutan, dosen, yang lebih “elit” dan tentu saja memerlukan tingkat intelektualitas lebih tinggi.

Hal ini bisa jadi sumber awal permasalahan. Masih banyak lulusan SMA yang masuk IKIP hanya karena keadaan (dua faktor penting: kemampuan dan ekonomi).

Saya teruskan nanti karena takut ketinggalan bis…!

yah emang artikel yang bagus….bermutu :D

sekarang udah gak ada lagi dunia pendidikan tapi sudah berubah menjadi industri pendidikan. kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak kita ke sekolah yang bermutu atau sekolah internasional yang jelas mutunya. jika mampu, menyekolahkan ke luar negeri aja.

ada pendapat yang bilang begini untuk sekolah dan kerja/berkarier lebih baik ke luar negeri, Indonesia cuma enak untuk dijadikan tujuan wisata dan menikmati udara tropisnya plus pelaksanaan peraturan yang tidak berjalan semestinya.

Salam kenal pak nupang copy sama numpang nimbung disini buat cari ilmu,
artikel bapak bagus bangettt

salam,

lam kenal…
dwh.. sistem edukasi di indonesia terlalu rumit…
mengeluarkan kebijakan tapi tidak melihat warga negaranya..
terlalu cepat….

This post help me a lot. My problem solved. Great effort and i appreciated that.

jayyid benar aartikelnya smg masih banyak lagi artikel yang elo explorer lg ok my ALLAH bless u ever

Leave a Reply

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos