Comments on: Edukasi yang Efektif dan Inklusif http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/ Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi Mon, 19 Apr 2010 09:37:41 +0000 http://wordpress.com/ hourly 1 By: HIDAYAT TWIN http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2538 HIDAYAT TWIN Tue, 19 May 2009 08:50:43 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2538 jayyid benar aartikelnya smg masih banyak lagi artikel yang elo explorer lg ok my ALLAH bless u ever jayyid benar aartikelnya smg masih banyak lagi artikel yang elo explorer lg ok my ALLAH bless u ever

]]>
By: Melayu Boleh http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2502 Melayu Boleh Mon, 20 Apr 2009 20:20:19 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2502 This post help me a lot. My problem solved. Great effort and i appreciated that. This post help me a lot. My problem solved. Great effort and i appreciated that.

]]>
By: diyah http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2476 diyah Thu, 12 Mar 2009 14:06:43 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2476 lam kenal... dwh.. sistem edukasi di indonesia terlalu rumit... mengeluarkan kebijakan tapi tidak melihat warga negaranya.. terlalu cepat.... lam kenal…
dwh.. sistem edukasi di indonesia terlalu rumit…
mengeluarkan kebijakan tapi tidak melihat warga negaranya..
terlalu cepat….

]]>
By: dexzrecc http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2215 dexzrecc Tue, 19 Aug 2008 18:22:25 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-2215 Salam kenal pak nupang copy sama numpang nimbung disini buat cari ilmu, artikel bapak bagus bangettt salam, Salam kenal pak nupang copy sama numpang nimbung disini buat cari ilmu,
artikel bapak bagus bangettt

salam,

]]>
By: yonna http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-660 yonna Tue, 23 Oct 2007 03:32:13 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-660 yah emang artikel yang bagus....bermutu :D sekarang udah gak ada lagi dunia pendidikan tapi sudah berubah menjadi industri pendidikan. kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak kita ke sekolah yang bermutu atau sekolah internasional yang jelas mutunya. jika mampu, menyekolahkan ke luar negeri aja. ada pendapat yang bilang begini untuk sekolah dan kerja/berkarier lebih baik ke luar negeri, Indonesia cuma enak untuk dijadikan tujuan wisata dan menikmati udara tropisnya plus pelaksanaan peraturan yang tidak berjalan semestinya. yah emang artikel yang bagus….bermutu :D

sekarang udah gak ada lagi dunia pendidikan tapi sudah berubah menjadi industri pendidikan. kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak kita ke sekolah yang bermutu atau sekolah internasional yang jelas mutunya. jika mampu, menyekolahkan ke luar negeri aja.

ada pendapat yang bilang begini untuk sekolah dan kerja/berkarier lebih baik ke luar negeri, Indonesia cuma enak untuk dijadikan tujuan wisata dan menikmati udara tropisnya plus pelaksanaan peraturan yang tidak berjalan semestinya.

]]>
By: ian http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-563 ian Tue, 16 Oct 2007 16:51:03 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-563 Point untuk komentar Gilang dan balasan Dejong: Meski tidak 100% benar, tapi profesi guru di pendidikan dasar masih bukanlah "profesi atas kemauan dan kemampuan". Berbeda dengan profesi di pendidikan lanjutan, dosen, yang lebih "elit" dan tentu saja memerlukan tingkat intelektualitas lebih tinggi. Hal ini bisa jadi sumber awal permasalahan. Masih banyak lulusan SMA yang masuk IKIP hanya karena keadaan (dua faktor penting: kemampuan dan ekonomi). Saya teruskan nanti karena takut ketinggalan bis...! Point untuk komentar Gilang dan balasan Dejong:

Meski tidak 100% benar, tapi profesi guru di pendidikan dasar masih bukanlah “profesi atas kemauan dan kemampuan”. Berbeda dengan profesi di pendidikan lanjutan, dosen, yang lebih “elit” dan tentu saja memerlukan tingkat intelektualitas lebih tinggi.

Hal ini bisa jadi sumber awal permasalahan. Masih banyak lulusan SMA yang masuk IKIP hanya karena keadaan (dua faktor penting: kemampuan dan ekonomi).

Saya teruskan nanti karena takut ketinggalan bis…!

]]>
By: dejong http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-561 dejong Tue, 16 Oct 2007 07:12:58 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-561 Pertama-tama, gue mau minta maaf dulu karena lama banget memberi reply komentar teman2 yang sangat menarik. Ok langsung saja: @Udiot: Salam kenal juga Bapak Udiot, terima kasih atas ucapan selamat datangya. Dan gue suka penutupan lo.. keren2. 1. Gue yakin banget system edukasi Indonesia bisa di kembangkan untuk menghasilkan anak-anak yang lebih berkualitas. Kalo masalah waktu, ya memang harus gradual karena ngga bisa dirubah dalam sekejap. Tapi gue rasa kita bisa mulai dari sekarang; by starting small, efek gelombang pasti akan terjadi. Contohnya, gerakan kecil sperti bimbel gratis yang sudah disediakan oleh JBRB sudah menjadi salah satu ignition untuk revolusi edukasi. Kenapa? Karena anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan pengajaran tambahan secara cuma-cuma.. jadi anak-anak itu dapet pengetahuan extra, dan mereka pun diajar untuk lebih giat belajar dan mencari tahu. Nah bayangin aja seberapa cepat api seperti itu bisa merambat kalo lebih banyak orang lagi yang mau melakukan hal serupa. Kita harus think positively and think big. Yang penting adalah ada yang dimulai. Punya hati dan niat baik untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik itu sangat bagus, tapi untuk memulai dan melakukan sesuatu agar niat itu tercapai jauh lebih baik lagi. 2. Mhh gue kurang megerti saat dibilang 'sistem amerika yang rada kapitalis.' apakah maksutnya sebuah sistem yang mempunyai dana untuk menyediakan berbagai tools yang tepat untuk menyalurkan pendidikan tersebut, atau sebuah sistem yang memacu sebuah ideologi kapitalis melalui kompetisi di kelas? Selebihnya, sebetulnya yang gue ingin bandingkan dan tekankan dalam artikel ini lebih mengarah ke teaching approach yang mungkin bisa dijadiin buku pedoman untuk para guru. sebetulnya mau pake sistem apa pun, asal penyampaiannya pas dan tepat sasaran, gue rasa disitulah kita bisa menghitung 'kesuksesan' sebuah pengajaran. walaupun misalnya rote memorization itu masih mau diterapin, at least bikin agar rote memorization terlihat di mata anak sebagai sebuah kegiatan belajar yang penting dan menarik. Sistem edukasi di russia (yang masih melewati masa post-communism) dan cina (yang sedang bertanding di dunia globalisasi sementara mempertahankan nama communism) sedang menemui dilema yang serupa dengan indonesia, yaitu sedang menjalani transisi dalam ideologi. kita semua sedang bersaing untuk mempunyai posisi di dunia modern dan global, dan walaupun salah satu jawaban untuk keberhasilan tersebut ada di edukasi, pelaksanaan sistem tersebut masih samar-samar. For example, cina juga telah membuat reformasi edukasi yang berorientasi pada otonomi daerah, namun problem yang tertinggal masih sama seperti di indonesia: komersialisasi sekolahan yang menghambat acess to education untuk yang kurang mampu dan juga metode pembelajaran yang kuno. edukasi masih dilihat sebagai sarana yang hanya memajukan 'farmers' bukan 'workers' - exclusivity of education masih tinggi walaupun mandat mengatakan 9 tahun wajib belajar. Sedangkan di rusia, problem utama yang sedang mereka hadapi adalah pembentukan ulang moral, kultur, dan identitas. Jika dulu sekolah adalah tempat indoktrinasi ideologi pemerintah, sekarang para guru diajak untuk menjadi penyedia kreatifitas dan pembentukan otak anak yang independen. Personal-oriented teaching approach dijadikan cara utama belajar mengajar dan lesson plan yang berorientasi terhadap mengembangkan intelegen anak sesuai dengan kemampuan mereka sendiri dijadikan tumpuan dalam mengajar. Para guru yang mendorong approach ini memang masih menangung biaya sendiri dalam menyediakan ini pada murid (i.e. buku-buku lesson plan dan metode pembelajaran masih jadi tanggungan pribadi). Saya rasa banyak guru yang percaya tulus akan pentingnya edukasi dan kebutuhan memberikan anak-anak konten dan cara pembelajaran yang interaktif dan efektif tapi kebentrok biaya. Ini revolusi yang belum bisa saya berikan solusinya karena saya juga belum menemukan cara untuk meminta dana pada pemerintah. Pemerintah seharusnya lebih membuka mata dan telinganya. Yah mungkin para educated elits jakarta bisa mulai membisikkan pentingnya edukasi supaya revolusi edukasi dan budaya bisa tercapai! 3. Gue ngga terlalu tau sistem edukasi malaysia gimana, tapi kalo melihat research yang ada, sepertinya sistem mereka aga bias. Yg utama sih karena dari segi kebudayaan, mereka menjunjung tinggi banget nilai bumiputra mereka (yang disempitkan menjadi nilai ke-melayu-an mereka) jadi kasian anak-anak keturunan cina dan tamilnya. Udah gitu katanya sih walaupun banyak dana yang disalurkan untuk edukasi, mereka masih punya masalah dalam implementasi dan cara penyampaian. Walaupun secara kuantiti statistik edukasi di malaysia tinggi, kualitasnya masih belum terlalu diacungkan jempol oleh masyarakatnya sendiri. Mungkin ada yang bisa nambahin? @Gilang Yap Gilang, gue setuju banget dengan elo.. sepertinya ungkapan “pahlawan tanpa tanda jasa” diambil secara literal. Kesannya mereka sudah sepatutnya mengerjakan tugas mulia itu dan jasa yang sama dengan ‘pemasukan’ menjadi faktor yang dilupakan. Memang selain kurikulum untuk para murid, sistem edukasi juga harus memperhatikan kebijakan terhadap para guru. Idealnya kan kalo gurunya makmur, mereka lebih terlepas beban pikiran di rumah dan bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Okupasi guru memang biasanya identik dengan gaji kecil, tapi masih ada aja orang yang mau jadi guru. Ya itu bisa saja karena guru adalah pekerjaan yang gampang didapati, atau karena memang ada orang-orang yang tulus melakukannya. Semoga saja alasan kedua yang bisa tertanam di hati para guru. @Ian Yes Ian, i think this free school program is both beneficial and effective not just to the students being taught, but also as a mechanism for realization to our people. Social work like this can be an amazing engine to start a revolution. Now, imagine what can happen if we were to add many more activities and lesson plans to this program.. and then expand them to various schools across Jakarta, then Indonesia. Hehe, yes, again think big but start small.. when you ignite a spark of light, the fire will soon start.. and it will keep on burning if we keep the fire on. As Udiot said, “Welcome to Culture Revolution!” @Guebukanmonyet Thank you guebukanmonyet for the welcoming note and supportive encouragement. What i think the government should do is supply their cabinet members with books by Maria Montessori, Paulo Freire, and the likes so they’d understand the importance of educaiton for nation building and provide the necessary items and tools to carry out everything they say in the National Action Plan for Education. Hehe, well maybe that’s not doable in the near future. However, i think these are: a. Increase teacher training and incentives. Everything goes back to having the right medium – teachers are the medium used to educate students. b. Allocating the right tools for schools – be it in the form of money, donations (books, stationary, furniture, equipments, etc), or seminars for teachers. c. Provide free national schools with no strings attached. d. Provide public announcements supportive of the educational field. Air tv programs that have moral messages and educational for children to watch. e. Since many kids have to work after they go to school, create school environments that are safe and positive so children can use school as a place to relax and be someone they can and want to be. f. And many many more that'll be too long to mention here =) Keep in mind that while we compare ourself to other nations, we must also look inward and see what Indonesia needs, and not just at what other people have. With regards to tawuran, i think it’s become the culture like gencet-gencetan, ospek, etc. People are hard to control, that’s just basic psychology and sociology. Sometimes total authority is needed to create a foundation, and i’m thinking Lee Kwan Yu’s Singapore. Sadly, Indonesia’s autocracts rarely think beyond their income border. Back to tawuran, no one seems to care because it has become a traditon, something that’s accepted as an activitiy for the boys during high school. That mentality has to be changed early where good values are instilled from young. Then again, sometime tawuran is inevitable because it’s an activity that high schoolers can do to avoid thinking about their reality (about how hars life is).. that requires a different approach. Pertama-tama, gue mau minta maaf dulu karena lama banget memberi reply komentar teman2 yang sangat menarik. Ok langsung saja:

@Udiot:
Salam kenal juga Bapak Udiot, terima kasih atas ucapan selamat datangya. Dan gue suka penutupan lo.. keren2.

1. Gue yakin banget system edukasi Indonesia bisa di kembangkan untuk menghasilkan anak-anak yang lebih berkualitas. Kalo masalah waktu, ya memang harus gradual karena ngga bisa dirubah dalam sekejap. Tapi gue rasa kita bisa mulai dari sekarang; by starting small, efek gelombang pasti akan terjadi. Contohnya, gerakan kecil sperti bimbel gratis yang sudah disediakan oleh JBRB sudah menjadi salah satu ignition untuk revolusi edukasi. Kenapa? Karena anak-anak yang kurang mampu bisa mendapatkan pengajaran tambahan secara cuma-cuma.. jadi anak-anak itu dapet pengetahuan extra, dan mereka pun diajar untuk lebih giat belajar dan mencari tahu. Nah bayangin aja seberapa cepat api seperti itu bisa merambat kalo lebih banyak orang lagi yang mau melakukan hal serupa. Kita harus think positively and think big. Yang penting adalah ada yang dimulai. Punya hati dan niat baik untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik itu sangat bagus, tapi untuk memulai dan melakukan sesuatu agar niat itu tercapai jauh lebih baik lagi.

2. Mhh gue kurang megerti saat dibilang ’sistem amerika yang rada kapitalis.’ apakah maksutnya sebuah sistem yang mempunyai dana untuk menyediakan berbagai tools yang tepat untuk menyalurkan pendidikan tersebut, atau sebuah sistem yang memacu sebuah ideologi kapitalis melalui kompetisi di kelas?

Selebihnya, sebetulnya yang gue ingin bandingkan dan tekankan dalam artikel ini lebih mengarah ke teaching approach yang mungkin bisa dijadiin buku pedoman untuk para guru. sebetulnya mau pake sistem apa pun, asal penyampaiannya pas dan tepat sasaran, gue rasa disitulah kita bisa menghitung ‘kesuksesan’ sebuah pengajaran. walaupun misalnya rote memorization itu masih mau diterapin, at least bikin agar rote memorization terlihat di mata anak sebagai sebuah kegiatan belajar yang penting dan menarik.

Sistem edukasi di russia (yang masih melewati masa post-communism) dan cina (yang sedang bertanding di dunia globalisasi sementara mempertahankan nama communism) sedang menemui dilema yang serupa dengan indonesia, yaitu sedang menjalani transisi dalam ideologi. kita semua sedang bersaing untuk mempunyai posisi di dunia modern dan global, dan walaupun salah satu jawaban untuk keberhasilan tersebut ada di edukasi, pelaksanaan sistem tersebut masih samar-samar.
For example, cina juga telah membuat reformasi edukasi yang berorientasi pada otonomi daerah, namun problem yang tertinggal masih sama seperti di indonesia: komersialisasi sekolahan yang menghambat acess to education untuk yang kurang mampu dan juga metode pembelajaran yang kuno. edukasi masih dilihat sebagai sarana yang hanya memajukan ‘farmers’ bukan ‘workers’ – exclusivity of education masih tinggi walaupun mandat mengatakan 9 tahun wajib belajar.
Sedangkan di rusia, problem utama yang sedang mereka hadapi adalah pembentukan ulang moral, kultur, dan identitas. Jika dulu sekolah adalah tempat indoktrinasi ideologi pemerintah, sekarang para guru diajak untuk menjadi penyedia kreatifitas dan pembentukan otak anak yang independen. Personal-oriented teaching approach dijadikan cara utama belajar mengajar dan lesson plan yang berorientasi terhadap mengembangkan intelegen anak sesuai dengan kemampuan mereka sendiri dijadikan tumpuan dalam mengajar.

Para guru yang mendorong approach ini memang masih menangung biaya sendiri dalam menyediakan ini pada murid (i.e. buku-buku lesson plan dan metode pembelajaran masih jadi tanggungan pribadi). Saya rasa banyak guru yang percaya tulus akan pentingnya edukasi dan kebutuhan memberikan anak-anak konten dan cara pembelajaran yang interaktif dan efektif tapi kebentrok biaya. Ini revolusi yang belum bisa saya berikan solusinya karena saya juga belum menemukan cara untuk meminta dana pada pemerintah. Pemerintah seharusnya lebih membuka mata dan telinganya. Yah mungkin para educated elits jakarta bisa mulai membisikkan pentingnya edukasi supaya revolusi edukasi dan budaya bisa tercapai!

3. Gue ngga terlalu tau sistem edukasi malaysia gimana, tapi kalo melihat research yang ada, sepertinya sistem mereka aga bias. Yg utama sih karena dari segi kebudayaan, mereka menjunjung tinggi banget nilai bumiputra mereka (yang disempitkan menjadi nilai ke-melayu-an mereka) jadi kasian anak-anak keturunan cina dan tamilnya. Udah gitu katanya sih walaupun banyak dana yang disalurkan untuk edukasi, mereka masih punya masalah dalam implementasi dan cara penyampaian. Walaupun secara kuantiti statistik edukasi di malaysia tinggi, kualitasnya masih belum terlalu diacungkan jempol oleh masyarakatnya sendiri. Mungkin ada yang bisa nambahin?

@Gilang
Yap Gilang, gue setuju banget dengan elo.. sepertinya ungkapan “pahlawan tanpa tanda jasa” diambil secara literal. Kesannya mereka sudah sepatutnya mengerjakan tugas mulia itu dan jasa yang sama dengan ‘pemasukan’ menjadi faktor yang dilupakan. Memang selain kurikulum untuk para murid, sistem edukasi juga harus memperhatikan kebijakan terhadap para guru. Idealnya kan kalo gurunya makmur, mereka lebih terlepas beban pikiran di rumah dan bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Okupasi guru memang biasanya identik dengan gaji kecil, tapi masih ada aja orang yang mau jadi guru. Ya itu bisa saja karena guru adalah pekerjaan yang gampang didapati, atau karena memang ada orang-orang yang tulus melakukannya. Semoga saja alasan kedua yang bisa tertanam di hati para guru.

@Ian
Yes Ian, i think this free school program is both beneficial and effective not just to the students being taught, but also as a mechanism for realization to our people. Social work like this can be an amazing engine to start a revolution. Now, imagine what can happen if we were to add many more activities and lesson plans to this program.. and then expand them to various schools across Jakarta, then Indonesia. Hehe, yes, again think big but start small.. when you ignite a spark of light, the fire will soon start.. and it will keep on burning if we keep the fire on. As Udiot said, “Welcome to Culture Revolution!”

@Guebukanmonyet
Thank you guebukanmonyet for the welcoming note and supportive encouragement. What i think the government should do is supply their cabinet members with books by Maria Montessori, Paulo Freire, and the likes so they’d understand the importance of educaiton for nation building and provide the necessary items and tools to carry out everything they say in the National Action Plan for Education. Hehe, well maybe that’s not doable in the near future. However, i think these are:

a. Increase teacher training and incentives. Everything goes back to having the right medium – teachers are the medium used to educate students.

b. Allocating the right tools for schools – be it in the form of money, donations (books, stationary, furniture, equipments, etc), or seminars for teachers.

c. Provide free national schools with no strings attached.

d. Provide public announcements supportive of the educational field. Air tv programs that have moral messages and educational for children to watch.

e. Since many kids have to work after they go to school, create school environments that are safe and positive so children can use school as a place to relax and be someone they can and want to be.

f. And many many more that’ll be too long to mention here =)

Keep in mind that while we compare ourself to other nations, we must also look inward and see what Indonesia needs, and not just at what other people have.

With regards to tawuran, i think it’s become the culture like gencet-gencetan, ospek, etc. People are hard to control, that’s just basic psychology and sociology. Sometimes total authority is needed to create a foundation, and i’m thinking Lee Kwan Yu’s Singapore. Sadly, Indonesia’s autocracts rarely think beyond their income border. Back to tawuran, no one seems to care because it has become a traditon, something that’s accepted as an activitiy for the boys during high school. That mentality has to be changed early where good values are instilled from young. Then again, sometime tawuran is inevitable because it’s an activity that high schoolers can do to avoid thinking about their reality (about how hars life is).. that requires a different approach.

]]>
By: Krisna http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-558 Krisna Mon, 15 Oct 2007 08:15:26 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-558 Bagaimana saran Anda terhadap ujian SPMB (UMPTN) yang hanya dilakukan dalam waktu dua hari? Apakah sistem ujian seperti itu pantas dilakukan bagi para lulusan SMA yang hendak mendapatkan masa depan yg cerah di universitas2 negeri? Bagaimana saran Anda terhadap ujian SPMB (UMPTN) yang hanya dilakukan dalam waktu dua hari? Apakah sistem ujian seperti itu pantas dilakukan bagi para lulusan SMA yang hendak mendapatkan masa depan yg cerah di universitas2 negeri?

]]>
By: Udiot http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-548 Udiot Sun, 14 Oct 2007 08:55:37 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-548 @ Donna GW setuju donna, apalagi kalau kata banyak orang bahwa sekarang jamannya "the world is flat" atau "borderless" kata Kenichi Ohmae...Ini menimbulkan pertanyaan sendiri dalam hati gw bisa ngga bangsa kita bisa meningkatkan kualitas dalam segala bidang, sedangkan di sisi lain kita harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang udah siap banget dengan globalisasi, ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita kalau tidak cerdas menghadapinya. Berkembang jadi lebih baik atau malah hancur terpuruk!!! Dalam Kompas beberapa hari yang lalu ada artikel yang secara khusus membahas tentang Malaysia, dengan judul Malaysia Sudah Berjalan Jauh, dan pas gw baca...bener aja kalo isinya gila banget, dalam bidang pendidikan, pertanian, pariwisata, ekonomi, dll emang Malaysia udah jalan jauh. Kalaupun ada masalah, paling dalam bidang politik Malaysia punya masalah dalam "etnis gap" antara China, India dan Bumiputera tetapi itupun tidak dijadikan alasan bagi Malaysia untuk menghambatnya menjadi sebuah bangsa Melayu yang maju. @ Tobing Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau gaji guru di Indonesia sangat rendah, sehingga banyak masalah yang timbul, misal cari order lewat buku dengan bekerjasama dengan penerbit, membuat les-les sepulang sekolah yang pada akhirnya timbul perasaan untuk memebri nilai yang bagus untuk murid-murid yang mengikuti les, sampai pada permasalahan guru yang mengojek. ini seharusnya menjadi catatan penting bagi pembenah pendidikan di negeri ini, karena pendidikan itu selalu mencakup 3 trilogi pendidikan; anak didik, pendidik, dan sistem pengajaran, kalau ada ketimpangan pada salah satu tersebut maka mekanisme pendidika tidak akan berjalan baik, segimanapun canggihnya teori dan konsep yang ditawarkan. Seandainya gaji guru 4-7 juta pasti banyak fresh graduate yang mendaftar menjadi guru, sehingga pekerjaan guru akan menjadi jabatan populer. Tapi sayangnya dengan kondisi seperti ini Hanya Oemar Oemar Bakrie yang akan muncul. @ Donna
GW setuju donna, apalagi kalau kata banyak orang bahwa sekarang jamannya “the world is flat” atau “borderless” kata Kenichi Ohmae…Ini menimbulkan pertanyaan sendiri dalam hati gw bisa ngga bangsa kita bisa meningkatkan kualitas dalam segala bidang, sedangkan di sisi lain kita harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang udah siap banget dengan globalisasi, ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita kalau tidak cerdas menghadapinya. Berkembang jadi lebih baik atau malah hancur terpuruk!!!
Dalam Kompas beberapa hari yang lalu ada artikel yang secara khusus membahas tentang Malaysia, dengan judul Malaysia Sudah Berjalan Jauh, dan pas gw baca…bener aja kalo isinya gila banget, dalam bidang pendidikan, pertanian, pariwisata, ekonomi, dll emang Malaysia udah jalan jauh. Kalaupun ada masalah, paling dalam bidang politik Malaysia punya masalah dalam “etnis gap” antara China, India dan Bumiputera tetapi itupun tidak dijadikan alasan bagi Malaysia untuk menghambatnya menjadi sebuah bangsa Melayu yang maju.

@ Tobing
Bukan menjadi rahasia umum lagi kalau gaji guru di Indonesia sangat rendah, sehingga banyak masalah yang timbul, misal cari order lewat buku dengan bekerjasama dengan penerbit, membuat les-les sepulang sekolah yang pada akhirnya timbul perasaan untuk memebri nilai yang bagus untuk murid-murid yang mengikuti les, sampai pada permasalahan guru yang mengojek. ini seharusnya menjadi catatan penting bagi pembenah pendidikan di negeri ini, karena pendidikan itu selalu mencakup 3 trilogi pendidikan; anak didik, pendidik, dan sistem pengajaran, kalau ada ketimpangan pada salah satu tersebut maka mekanisme pendidika tidak akan berjalan baik, segimanapun canggihnya teori dan konsep yang ditawarkan. Seandainya gaji guru 4-7 juta pasti banyak fresh graduate yang mendaftar menjadi guru, sehingga pekerjaan guru akan menjadi jabatan populer. Tapi sayangnya dengan kondisi seperti ini Hanya Oemar Oemar Bakrie yang akan muncul.

]]>
By: Tobing http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-547 Tobing Sun, 14 Oct 2007 06:33:45 +0000 http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/09/edukasi-yang-efektif-dan-inklusif/#comment-547 Nice article. Tapi, apakah Anda kira kita bisa menjalankan sistem pendidikan seperti itu di saat gaji guru masih begitu rendah dan fasilitas sekolah2 negeri begitu buruk? Terobosan apa yang kira2 dapat dilakukan? Nice article. Tapi, apakah Anda kira kita bisa menjalankan sistem pendidikan seperti itu di saat gaji guru masih begitu rendah dan fasilitas sekolah2 negeri begitu buruk? Terobosan apa yang kira2 dapat dilakukan?

]]>