Posted by: udiot on: October 9, 2007
Setiap tahun Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Pemilihan Abang-None Jakarta, dan setiap tahun itu pula muncul pertanyaan dari masyarakat, “Apa sih tujuan dari acara ini?”
Mencoba mengingatkan, pada tahun 2005 Walikotamadya Jakarta Selatan Drs. Dadang Kafrawi M.Si mengatakan ajang pemilihan Abang None (Abnon) merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya Betawi sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreatifitas, kecerdasan para generasi muda, serta menghilangkan image sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja.
Ajang pemilihan Abnon harus dapat memberikan citra kebudayaan serta kepariwisataan bukan sekedar pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Walikota berharap, melalui ajang ini para finalis dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu Pemerintah Daerah, khususnya Jakarta Selatan, dalam mendorong laju industri pariwisata di Jakarta. Beliau juga berharap, pemilihan Abnon dapat menghasilkan duta wisata yang mampu mempromosikan dunia wisata Jakarta Selatan dan sekaligus membantu Pemda mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik.
Komentar Bapak Walikota diatas meyakinkan banyak pihak bahwa pemilihan Abnon HARUS dilakukan, karena pemilihan Abnon akan memberikan dampak positif bagi kemajuan DKI Jakarta. Tetapi sebelum benar-benar yakin akan komentar Bapak Walikota di atas, saya akan memberitahukan kepada Anda kriteria calon Abnon yang saya kutip dari Kasudin Pariwisata Jakarta Selatan Dra. Hj. Nenden Dewi Andjasmara, MM. Menurut beliau penyelenggaraan kegiatan merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional pada umumnya dan Betawi khususnya. Kriteria penilaian Abnon senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan menitikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian secara menyeluruh, menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek: Pengetahuan Umum Pemerintah Pusat dan Daerah; Pengetahuan Sejarah dan Kebudayaan Betawi; Pariwisata dan Public speaking; Etika Busana dan Bahasa; Psikologi dan Pengembangan Diri.
Apakah Anda yakin bahwa Pemilihan Abnon bermanfaat? Kalau itu Anda tanyakan kepada saya, jawaban saya adalah NGGA BANGET. Dari pengamatan saya terhadap komentar walikota tentang tujuan dari pemilihan Abnon dan kriteria Abnon menunjukkan kekerdilan dan kebodohan dari acara tersebut. Input tidak sama dengan output, kenapa? “…..komponen penilaian secara menyeluruh, menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek: Pengetahuan umum Pemerintah Pusat dan Daerah; Pengetahuan sejarah dan Kebudayaan Betawi; Pariwisata dan Public speaking; Etika Busana dan Bahasa; Psikologi dan pengembangan diri.” Acara ini hanya dinilai dari pengetahuan dan kematangan individu secara personal dan bukan sosial, seharusnya juara dari kegiatan ini adalah orang yang telah berbuat banyak untuk kemajuan DKI Jakarta dan Indonesia. Kata kuncinya adalah telah berbuat dan bukan telah berteori saja atau punya ilmunya.
Akhirnya ketika sang juara hanya dinilai dengan kriteria tersebut, output pemilihan Abnon tidak akan tercapai. Mau bukti? Sudah berapa lama Pemilihan Abnon digelar dan selama itu pula kita tidak bisa melihat pembuktian dari para Abnon. Pada akhirnya kita hanya melihat sebuah kegiatan rutinitas tanpa hasil yang jelas. Yah, beginilah nasib bangsa ini yang selalu menghabiskan uang rakyat tetapi bukan untuk rakyat. Mengkritik persoalan ini jelas tidak akan membawa banyak perubahan, saran saya rubah kriterianya. Pastikan juaranya adalah orang yang mempunyai knowledge, skill, dan attitude yang baik yang diaplikasi ke dalam kehidupan sehari-hari. KAMI BUTUH PERBUATAN DAN BUKAN TEORI! Itu Sudah Jadi Harga Mati.
Revolusi Budaya adalah Jawabnya!
hehehe ampe sekarang saya belum ngerti manfaatnya abnon, moka (mojang jajaka), terkecuali menjaring siapa yang akan mengisi layar kaca dalam waktu 5 taun ke depan
@Andri
Welcome home my bro…ini dia yang gw tunggu-tunggu, akhirnya Si Gilang balik lagi ke dunia perjuangan…Salam Revolusi Budaya..
Gw tertarik buat ngomentarin yang terakhir tentang pemilihan abang none revolusi budaya, usul yang menarik..hehehe..tapi sekali lagi revolusi budaya bukan jadi ajang pembuktian siapa yang paling baik di masyarakat as an individual, revolusi budaya adalah perjuangan menuju Jakarta dan Indonesia yang jauh lebih baik, who care the judges…kita semua harus bersatu dalam perjuangan ini, dimulai dari apa yang lo bilang tadi revolusi terhadap diri sendiri, thats the point!!! selanjutnya apa yang dejong bilang…mau abnon kek, pegawai kek, mahasiswa, sampe tukang sapu di jalan harus bener2 paham dan semangat untuk jadi duta ibukota Jakarta dan Indonesia.
@Aul
Whaha kacau lu ul masukannya..emang bener sih…tapi sekali lagi kita harus angkat topi buat ide2 kreatif dari masing2 pemda..hidup pemda…
@Dejong
Welcome Selamat Datang Nih buat Dejong kawan jauh dari US…itu sebenarnya tujuan gw nulis artikel ini, gw mau tau seberapa jauh masyarakat menilai peran abnon dalam menjadi duta bagi Jakarta, gw yakin 100% banyak kontestan Abnon-Abnon yang secara personal mempunyai kualitas yang keren tapi entah ga kepilih atau kebuang kaya GBM…yah mungkin aja, tapi gw belum sempet tau klo di Luar Negeri ada ga sih even serupa dan manfaatnya gimana…ada yang bisa kasih data…thx
ane setuju dengan om dejong yang menyatakan terdapat kontestan abnon yang memang supel, pinter, dan punya nilai dan kontribusi sosial yang tinggi. namun nasib aja blom beruntung aje kali yeee..
dan seperti nya abnon itu cukup berpengaruh membawa kota Jakarta dan negara Indonesia kok..
karena setau gw, terakhir mereka memperkenalkan Budaya Betawi di Malaysia, dan itu menurut gw salah satu bukti, bahwa mereka emang orang-orang yang terpilih.. ya walaupun memang masih ada sisi ‘miring’ dalam proses pemilihan..
tapi yang gw lihat sampai saat ini, walaupun itu masih ‘miring’ toh para pemenang masih bisa membuktikan kalau mereka bisa mempertanggung jawabkan apa yang mereka dapatkan..
klo om-om yang di sini pengen tau lebih ttg abnon, mungkin bisa maen aja ke kantor walikota terdekat..
mereka cukup ramah kok memberikan informasi mengenai abnon..
dan mungkin om udiot, andri gilang, & aul bisa mendaftar di sana untuk abnon 2008, dari situ om-om bisa tau gimana proses terpilih nya abnon , dan bisa membuka jalan pikiran kalian om..
heheheee..
sorry mendory nih klo ada kata2 yang salah..
thx..
ah..
ajang beginian kan memang buwat pemanis..
dari yang abnon, putri endonesa, putri putrian, putri banci..
Setuju gue, Abnon emang cuma jadi pajangan. Memalukan! Gak ada gunanya ada pemilihan Abnon, yang ikut cuma mau numpang beken tapi gak ada niat buat memajukan Jakarta dan Indonesia. Jadi Abnon yang penting harus cantik dan ganteng, katro.
Setuju gue, Abnon cuma pajangan! Gak penting banget sich.
ajang2 begini kan:
1. cara kapitalis promo
2. cara pemenang (peserta) abnon dapat rejeki/kerjaan/bisnis baru. jangan lupa, lulusan abnon biasanya dapat obyekan tajir di tempat lain
3. tayangan ga mutu blaaaasss….hihihi..:p
hmm…
yang merasa pernah ikutan abnon seharusnya tertohok setelah baca ulasan ini..
karena logikanya.. kalo setau gue abnon itu udah start dari tahun 1970-an gitu… mulai dari jakarta cuma terdiri dari 5 wilayah ampe sekarang ada 6… dimana tiap wilayah paling tidak punya beberapa pasang abnon…
bisa dibayangin khan kalo katakan tahun ini setiap wilayah punya 15 pasang abnon yang jadi finalis pada saat pemilihan di wilayah (semuanya kemudian akan menyandang gelar sebagai abang dan none untuk wilayah masing-masing… karena hanya 3 pasang yang kemudian dikirim ke DKI untuk kemudian akan dipilih sebagai abang dan none Jakarta..)
berarti ada (30 x 6 = 180) pemuda dan pemudi yang berdomisili di wilayah DKI Jakarta… yang (seharusnya) memiliki potensi, kompetensi, dan pengetahuan (berdasarkan penilaian juri tentunya… katanya… dan menurut mereka.. ;p) yang pada dasarnya “qualified” dan memenuhi kriteria maksimal untuk menjadi duta wisata (ini karena abnon berada dibawah dinas pariwisata)…
bayangin aja.. pemilihan ini usianya udah hampir lebih dari 30 tahun… so… udah berapa banyak potensi pemuda-pemudi jakarta yang disia-siakan kalo ternyata komentar kebanyakan orang masih sinis seperti ini..??? berarti emang sama sekali blum meninggalkan citra yang baik dong abnon selama ini…
coba.. sama masyarakatnya sendiri aja blum didukung sepenuhnya…? gimana mau promote ke dunia luar..? emang sich.. butuh cermin yang sangat luas dan juga butuh jiwa yang besar pula untuk dapat melihat sebuah kenyataan seperti ini..
so… abang-abang dan none-none jakarta tercinta.. dimanapun anda semua berada sekarang.. tunjukkan lah kalau emang kalian punya niat baik dalam memberikan kontribusi untuk jakarta kita tercinta ini.. Mumpung masih seger sumpah pemuda nih…blum terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.. sebab kalau tidak dilakukan… cepat atau lambat.. abang dan none jakarta tidak lagi menjadi ikon dari pemuda-pemudi jakarta.. tetapi hanya akan menjadi ikon pemborosan yang dilakukan oleh kota jakarta yang pada akhirnya tidak dapat meninggalkan kesan apa-apa… ilang aja gitu tertelan waktu.. sayang khan…
Mungkin hal ini kembali kepada kenyataan bahwa pemerintah kita masih teramat korup dan mengadakan berbagai even hanya sebagai sarana menguruk keuntungan pribadi, baik itu melalui mark-up maupun acara sogok-menyogok untuk mencapai kemenangan dari pihak perorangan / wilayah tertentu.
Sama halnya dalam event Abang None ini,, sebagai Anggota dari dinas pariwisata (yang pastinya merasa lebih superior dibanding sekumpulan anak2 sok pinter n kecakepan yang mendapat gelar abang none dengan status — entah Berhak ataukah ehm ada faktor X Y Z didalamnya) tentunya juga merasa bimbang apakah dapat meletakkan tanggungjawab promosi dan pengembangan di tangan mereka.
Ingat bahwa di Indonesia penuh sikut menyikut, apa jadinya kalau pekerjaan si Anggota DinPar jadi rebutan karena ide brilian seorang Abang / None ? Toh DinPar sebagai wadah harus memberi dukungan support financial,, sedangkan secara teori itu tak mungkin dilakukan karena mereka harus menunggu sampai anggaran tahun berikutnya saat si bersangkutan punya ide udah keluar.
Sebagai tambahan, fakta bahwa abang/none itu mayoritas berstatus mahasiswa juga mempersulit perkembangan ide / kontribusi mereka karena kesibukan pribadi. Lain halnya apabila mereka dicutikan dan dipekerjakan untuk Dinpar sebagai staff pengembangan dan promosi pariwisata?!
Jadi untuk mengatakan bahwa Abang / None adalah Pajangan kurang lebih tepat karena Paska event abang-none mereka tidak diberdayakan dengan maksimal dan di RESERVE untuk keperluan DinPar sehingga pada akhirnya hanya nongol pada saat2 acara2 dan bagi2 amplop di kantor.
Semoga kedepannya ada 2 pilihan bagi Dinas Pariwisata
1. Mengkontrak otak2 yang udah dimenangkan untuk menghasilkan dan MENJALANKAN ide2 mereka
2. Membubarkan event yang hanya membuang2 uang tanpa hasil sumbangan yang signifikan, mending buat semacam dolly aja n las vegas di pulo seribu buat narik duit,, beres khan
Adios Amigos
Setuju…!!!!
setuju sama yang mana..???? las vegas..??? ato dolly..??? hayuk lah…
Whahhaha idenya edan….
Gue setuju sama bubarin aja Abang-None, klo perlu Dinpar juga dibubarin, Pemda juga deh…sial tiap hari gue kena macet…otak buntu ..duit abis..tau ga sih lu Produktivitas Jakarta tuh 40% mentok gara-gara program Pemda buat Busway tanpa mikirin sebab-akibatnya…sial2
Gak setuju kLo di’ilangin mah,, mendingan diperbaiki citranya.. Pada sabar yah, kasi gw waktu 5 taon buat ngembali’in ABNON yg sebenarnya. insya ALLAH..
Amiin..Sukses..Kita tunggu perbaikannya yah…
kebetulan banget nih..none yang sekarang temen kuliah sejurusan, seangkatan, sekelas pula. Emang sih yang dulu-dulu gw ngga liat kegiatannya abnon dan hasilnya, cuma…emang ga ada publikasinya kan? jadi siapa tau mereka menghasilkan sesuatu, tapi ga ada yang liat aja.
Kalo abnon yang sekarang, temen gw ini beneran jadi duta pariwisata jakarta. beneran kerja…kuliah cuma tiga hari aja. yang gw tau sih sekarang abnon lagi nyoba buat menghidupkan lagi museum-museum di jakarta barat. Mulai dari acara keliling museum, perbaikan fisik bangunan, sampe mau ngapain supaya orang-orang mau care sama museum-museum kita…mungkin publikasinya kali kurang. Ya gw kalo bukan dia yang cerita juga ngga tau…
Semoga semua nya ke arah yang lebih baik lagi..
Amien..
Saya maklum kalo semua yang memberi komentar tentang abnon pada sinis dan miring, karena hampir tidak ada berita mengenai kegiatan yang dilakukan oleh abang none jakarta dari dulu sampai sekarang.
BUkan karena saya juga pernah jadi NONE makanya saya berkomentar, tapi ada beberapa hal yang masyarakat perlu tahu bahwa tidak gampang untuk lolos menjadi finalis, karena pesaingnya kelas berat, di jakarta pusat saja hampir semuanya lulusan universitas negeri dari jurusan kedokteran, komputer, teknik, ekonomi, yang pastinya UNTUK MASUK KE UNIVERSITAS TERSEBUT, MEREKA TIDAK BISA BERMODAL TAMPANG BELAKA, dan merupakan suatu kebanggan untuk suatu wilayah kalo wakilnya menang di DKI, jadi selama ini belum ada bukti bahwa pemenang yang lolos ke dki mengandalkan backing-an or whatsoever selain potensi dirinya.
Jadi bukan salah peserta abang nonenya kalo image selama ini buruk, karena kami selama ini BERUSAHA SENDIRI UNTUK MENGUBAH CITRA. memang usahanya masih per wilayah, karena seperti komentar yang ada sebelumnya, ada lebih dari ratusan mantan abnon di jakarta sejak 30 tahun yang lalu, tentunya paham kalo tidak mudah mengkordinir banyak orang.
tapi sejak tahun 2000 hingga saat ini perkumpulan abnon DKI makin giat usahanya untuk mengembangkan pariwisata.
jadi yang kami butuhkan adalah bantuan nyata dari media massa dan pemerintah, karena tidak banyak yang tahu kan kalo kami melakukan bakti sosial rutin setiap tahun, jadi kalaupun ada mantan abnon yang jadi artis, itu usaha mereka sendiri. karena kalo menang di dki, justru pemenangnya DILARANG MUNCUL KOMERSIL SELAMA MASA BAKTI.
kritik ok, tapi saya lebih setuju kalo kritik itu ditujukan pada sudin pariwisata untuk mengorganisir kegiatan abnon menjadi lebih positif, berkembang dan mampu memberi kontribusi nyata bagi dunia pariwisata.
kalaupun ada yang bilang abnon cuma pintu untuk muncul di layar kaca, paling tidak itu lebih baik dari pada tawuran dan narkoba di jalanan. salah satu tujuan pemilihan abnon adalah menjadi ajang kegiatan apresiasi positif bagi anak muda. JADI ARTIS KALO SUKSES PUN BERARTI MEMBANTU MENGURANGI BEBAN ORANG TUA DALAM LINGKUP KECIL DAN MENGURANGI KEMISKINAN DALAM LINGKUP YANG LEBIH LUAS.
KALAUPUN KEGIATAN INI DIJADIKAN “SUMBER DUIT” BAGI OKNUM TERTENTU, HARUSNYA OKNUM TERSEBUT DONG YANG DIUSUT, KENAPA MESTI KEGIATAN YANG POSITIF JADI GETAHNYA?
ABNON DKI, JUGA MERUPAKAN SUATU BENTUK APRESIASI TERHADAP SENI DAN BUDAYA BETAWI. Dengan adanya abnon, pengetahuan budaya ini secara otomotis dilestarikan, karena semua peserta wajib mengetahui seluk beluknya,
Cheers
calon none niyyyy.
gw ikutan dftr abnon taun ini..
pwakilan jakpuz n kep’srbu.
mnrt gw,,,saat gw lyt mlm grnd final taun lalu,,,mreka smua bkualitas..
dlihat dr 3B atw apapun namanya,,,g skedar cm hapalan aj kow…
tp bener^bisa di test..
g pcaya???
cek sndri dey.
ky na hanya org^ g bpendidikan dey yg pny ide gtu aj bubarin ajang spt ini,,soalny,,klw qt jd pmerintah,,g sgampang itu BUNG…!!
Sama halnya spt IPDN,,,bnyk yg mencekal,,tp bnyk pula yg berlomba^ masuk kdalamnya!!
MUNGKIN ANDA SALAH SATUNYA..
wah..wah..Kok, masih saja ya berpola pikir menjudge dulu..Sepanjang saya mengikuti web/blog ini, wacaca yg diberikan isinya mayoritas jadinya seperti keluhan, makian, dan lain2nya saja..
Tidak mengalami kemajuan..(maaf ni)..
Bhakan dari awal, hamoir semua judul wacana blognya mayoritas sudah menjudge..
Lalu apa bedanya?
Tidak sesuai dengan mottonya.. Lebih baik bertindak dan bukan berteori..
Untuk kasus contoh wacana ini:
1. Bukankah lebih baik diperbaiki sistemnya dari pada ditiadakan ya?
2. Setau saya abnon itu banyak kegiatannya untuk Jakarta ini..Hanya kurang dipromosikan saja atau dimediakan..
Lalu mana yang lebih baik? Punya banyak kontribusi tapi tanpa kurangnya promosi atau hanya satu kontribusi tapi udah membuat promosi dmn2? Hehe..
abnon itu siapapun yang menang adalah mausia2 yang sudah berkualified dibanding kita semua yang tidask menjadi abnon..Dan itu sudah merupakan gambaran dari diri kita ( saya, kamu, kalian, dan semua!!)
Klo katanya mer3eka kurang dipromosikan kegiatannya, bukankah akan lebih baik jika JBRB ini yang mempromosikan kegiatannya..
jadi bisa disinergikan..Karena klo saya liat kontribusi abnon ( yg notabene kebanyakan masi kuliah ) jauh lebih besar daripada kontribusi JBRB ini.. Abnon lebih banyak bertindaknya dibanding promosinya ( hehe ). Maaf..
3. Ada yang aneh, kok seperti ingin membuat negara sendiri..hehe.. Bukannya membantu memerbaiki pemilihan dan sistem kerja abnon sekarang, malah ingin membuat abnon sendiri..
karena kualitas abnon itu sudah diseleksi benar..
4. Bukankah itu seperti menjilat ludah sendiri..Berbicara mengenai sampah, sistem tata kota, kemacetan, abang nona, dll.. Tapi malah membuat bimbel gratis..Toh, kalian juga ujungnya terbentur dengan masalah waktu, biaya, sistem,SDM dll..Sama seperti abnon/pemda/sipaapun yang kalian jelekkan itu..
5. Dan kenapa media( koran, dll tidak menulis berita2 abnon ini, karena saya rasa jawabannya tinggal melihat di web JBRB ini..
Knp kalian tidak membuat hal2 yang baik mengenai abnon, mengubah,//Dan bukan saja mengenai abnon saja, yang lain pun seperti itu..
Yang kalian lakukan hanya seperti prinsip koran saja : Biar laku beritain yang negatif! Seperti pembunuhan, pencurian, tabrakan, bom, sampah, dll..
Ini tidak sesuai dengan semboyan kalian sebagai anak muda..Kok jadi hanya sennag menulis..Mana perbuatan kalian?!!!
Maaf, maksud menulis ini agar kalian tidak hanya sibuk menulis, mengecam, dan mepromosikan diri..
Sebagai contoh adalah komunitas sahabat museum.. Vivisnya jelas..Memajukan sejarah Indonesia.. Yang dilakuakn adalah mempromosikan Museum2 dan tempat2 bersejarah di iNdonesia..Caranya dengan meperkenalkan dan mepromosikan sisi positif dari tempat2 tersebut..Tanpa hal2 negatifnya ( bangunan kotor, tak dirawat, pekerjanya ga ada yg sopan, parkir susah)
Dampaknya besar : klo kita sudah yakin dan bangga dengan tempat2 sejarah tersebut, kita akan dengan seida berbicara ke semua orang ( temen2 kita, orang di luar jakareta, orang bule, dll). Dengan demikian merka akan tertarik untuk datang, dengan demikian tempat tersebut akan mendatangkan uang. Nah lalu disini lah parapengusaha or siapapun akan bergerak, merkea akan mereneovasi tempat, pegawai, memperhatikan kebersihan..So, Revolusi Budaya pun akan berjalan..Semuanya dimulai dengan rasa bangga dulu dan itu ditunjukkan..
Bukan hanya kata-kata : ” Saya bangga jadi orang Jakarta, TAPI…. ”
kata TAPI itu loh yang sering digunakan orang..
Bertindaklah yang besar..Namamu akan besar dengan sendirinya..
salam revolusi.
saya pikir, tulisan diatas merupakan kegelisahan dan juga rebellion terhadap situasi yang stagnan. saya pikir, tulisan semacam itu perlu diangkat kepermukaan agar bisa mengejutkan publik akan kesadaran sosialnya. saya sendiri merasa berterima kasih atas munculnya tulisan-tulisan semacam itu karena saya menjadi tahu peta permasalahan yang ada.
tulisan diatas saya menilainya dari semangat revolusi dan perubahan.
betul ‘kata-kata” bukanlah apa-apa tanpa aksi, tapi sesunggunya kata-kata ini harus ditagih sehingga benar-benar menjadi realitas. saya pikir, komunitas jbrb menunjukkan kebersediannya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam menerjemahkan ide-ide majunya. jadi, tulisan-tulisan di blog ini saya kira harus dilihat dari semangat perubahannya, termasuk revolusi berfikir dari yang berfikir conservative dan kolot ke cara berfikir yang mencerahkan. sekali lagi, teruskan revolusinya.
ahmad
Setuju banget dengan pendapat Mpo’ Hanny Wishnuardi…!!!
Tahun lalu (2007), saya daftar jadi calon Abang Jakarta di 2 wilayah (Jakarta Selatan dan Jakarta Utara), dan dari awal udah kelihatan banget persaingannya…!!! 3-B itu deh…!!! Akhirnya, nasib membawa saya ke dalam “kegagalan” (cian deh…!!!). Di Jakarta Selatan “GAGAL TOTAL” di Jakarta Utara “Mampet di Semi Final”…!!! Tapi saya salut sama pemenang2nya karena memang OK banget dalam segala hal…!!!
Bravo Abnon…!!!
Asslm..
Hanya mw sedikit mengomentari saja,kalau menurut saya kegiatan abang none saat ini memang hanya seperti memajang para pemenangnya saja yang notabene memang mempunyai tampang lebih.Tetapi perlu kita garis bawahi bahwa segala sesuatu itu bisa diluruskan kembali sesuai dengan tujuan awal dari apa yang selalu di lontarkan oleh setiap kepala daerah dijakarta,untuk itu bukan lebih baik kita mencoba meluruskan yang ada dengan mengadakan pendekatan secara intens kepada masing dinas pariwaisata di setiap wilayah dijakarta.Dibandingkan kita harus membuat sesuatu hal yang baru ,tetapi membutuhkan proses promosi dan edukasi yang akan memakan waktu.Karena perlu diketahui setiap aspirasi yang kita lontarkan pasti akan ditanggapi oleh pemerintah daerah,karena pemerintah daerah khususnya jakarta cukup tw bahwa penduduk mereka mempunya tingkat intelegensia yang sangat baik dalam merespon dan mengkritisisasi segala sesuatunya saat ini.
terima kasih
Gile, banyak amat yang komenter disini. Gue sebagai mantan finalis Abang juga mau ikutan ah…
Gini lo bro, FYI, masuk Ab Non itu susah banget, and gue bersyukur jadi one of them. Meskipun terkadang memang gue nggak menutup mata bahwa banyak juga finalis-finalisnya yang bermuka palsu. Hehehehee…
Intinya, bener tuh, kalo kita ini kurang diberdayakan. Memang udah jadi budaya di Negeri Indonesia tercinta ini, kalo kita itu sukanya membuat dan menebar “Janji-Janji”. Tapi kontribusi nyata? Jauuuh.. Memajukan Pariwisata dll? Hmmm… udah beneran maju nggak yah? Kayaknya emang jalan ditempat deh Pariwisata kita.
Dulu, pas jadi finalis, gue pengen banget memajukan dunia Pariwisata di Jakarta. Ini nggak fake lo. Tapi apa daya, SuDin Pariwisata gue isinya orang-orang “Orde Lama” yang meleknya sama duit aja. Sampe-sampe honor Jaga Abang gue suka dipotong tanpa tedeng aling-aling..
Bangsa ini memang butuh reformasi holistik besar-besaran…
Udah ah, gue capeee…
yap, gue setuju Abnon lagian cuma jadi ladang bisnis kok, apakah benar kalau abnon itu mewakili daerahnnya seperti Jak-Ut. Karena banyak remaja Jak Sel yang masuk dalam nominasi Jak-Ut untuk mendaftar di Jak-Ut dengan alasan, Jak-Ut masuknya lebih gampang….
banyak lagi kecurangan-kecurangan seperti itu
Belum lama berselang, ajang pemilihan Abnon 2008 berlangsung. terlepas dari pendapat rekan2 yg sebagian “underestimate” pentingnya ajang gini. Gw mo ngomentarin ttg berapa cost yg diabisin bwt ajang ini..penting gitu ngabisin duit segitu gede, cuma buat kesenangan segelintir pihak. sementara di luar gedung tempat pelaksanaan acara msh banyak org yg menderita, mo makan aja susah?!
Sementara para manusia2 di dalam gedung itu sibuk bertanya jawab ttg penanganan kemiskinan. mereka ga sadar kalau jawaban2 mereka yg bagus banget secara teori akan lebih bagus kalo dipraktekkan. gw bingung, apa realitas kehidupan yg ada itu ga mereka sadari ya?! Atau karena mereka2 itu ikut Abnon & kontes2 laen yg sejenis cuma buat gegayaan?! klo emang gitu mah, ga penting bgt siy!!
Lebih baek kan waktu mereka dipake buat hal2 laen yg sifatnya lebih aplikatif. toh mereka udah tau teorinya, tinggal penerapannya.
Kenapa juga ga kita ajak tu abnon2 buat ikutan JBRB, selaen Gilang tentunya..
Salam Revolusi Budaya!
cuma mau kasih info, ajang abnon 2008 yang ditayangin itu hasil kerjasama Pemda DKI dengan MNC Group, jadi pemda ga ngeluarin duit neng…. ga menutup kemungkinan, sebagian dari mereka yang jadi finalis pasti buta banget dengan realita di kehidupan nyata, tapi juga mesti ditanyakan, apa Anda juga tau persis bahwa sungguh tidak ada satupun dari mereka yang memang benaar2 mengerti dan perduli? Tahu dari mana kita kalo mereka tidak care? apa anda kenal satu per satu?
tau dari mana mereka tidak menggunakan waktunya untuk hal yang lebih aplikatif?
salam revolusi whatever…
@ H Wishnu
terima kasih atas tanggapannya.
tapi saya mau kasih sedikit tanggapan saja. Saya ga bilang kalo itu dana Pemda. Biarpun iut dana MNC Group, kan lebih baek kalo dana itu dipakai untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa mereka itu ga mengerti dan ga peduli. Saya hanya mempertanyakan apakah mereka menyadari realitas yang ada? Bukan berarti saya menganggap mereka ga care.
Dan saya juga ga mengatakan kalo mereka ga pake waktunya untuk hal-hal yang lebih aplikatif. Yang saya katakan, lebih baik kalau teori dan ilmu bagus yg udah mereka punya itu diaplikasikan ke kehidupan nyata. Jadi masyarakat luas lebih bisa merasakan makna dari adanya ajang abnon ini.
Demikian menurut saya.
Ngomong2 si Abang ini udah pernah ikutan ABNON belum? mendingan dicoba dulu Bang kalo umur masih memungkinkan supaya dapat gambaran yang pas tentang ABNON dan jangan memberikan komentar yang tidak proporsional. Kalo mau tahu cabe rasanya pedas, harus digigit, begitu juga ABNON, kalo mau tahu ABNON coba ikutan Bang….!
FYI Bang, ABNON muka ganteng dan cantik tapi otak kosong gak laku Bang. Coba tanya Bang teman2 yang pernah ikut ABNON 10 tahun terakhir …… berapa banyak yang dari universitas terkenal seperti UI, UPH, Trisakti, dll? Lulusan luar negeri? boleh saya bilang 85% mereka dari sana.
Manfaat …. Silahkan tanya sama mantan ABNON dan apa yang mereka dapat selama jadi ABNON …
Semoga bisa membuka mata Abang nih ….
hmmm..Bukannya lagi itu JBRB juga mau ngadain acara ya yang mememrlukan dana puluhan juta rupiah..Hanya untuk mengadakan sebuah ulang taun JBRB or malam berburu ya..lagi itu saya liat brosurnya di email..
hehe..
Untung ga jadi ya ( or ga dapet dananya?).:p .Klo jadi kan seperti menjilat ludah sendiri..
:p
kan lumayan dana jutaan itu klo dipake buat yang kalian sebut sebuah “realitas yang ada di sana”..Iya g?
wah, masih rame aja ya tanggapannya…
menurut gw sih, tulisan di atas berangkat dari pandangan mata orang awam yang melihat dari luar, the man on the street [maap di, bukannya merendahkan lo nih], gak bisa disalahain juga [ah, tapi lo salah juga sih, nulis gak pake riset, hehe...pis!]. karena mungkin aja penulis adalah satu dari berjuta-juta orang, termasuk gw, yang gak dapet ato kena manfaat ato hasil dari ajang abnon ini.
yah, hemat gw sih, lihat sisi baiknya aja. bagi the man on the street seperti kami ini, mungkin penjelasan dari para abnon bisa membuka mata kami mewakili fungsi media. terus buat para abnon, setidaknya kalian tahu bahwa banyak orang di luaran sana yang berpendapat miring tentang abnon, dan itu bisa diperbaiki, bukan?? tantangan buat kalian nih.
damai di hati, damai di bumi.
Yokie : Thx infonya yah, saya coba mempelajarinya lagi
Hmm : Selamat bergabung kembali lagi ya Pak…sudah kangen sama JBRB yah, apa kabar?
Tiwi : Actually gue bukan penulis yang baik seperti teman-teman lainnya, tetapi dalam menulis gue selalu menghadirkan sebuah fakta nyata yang memang pastinya akan selalu jadi perdebatan, dan bukan dari data yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. TK
Yonna : Setiap tulisan dari Blog JBRB adalah pandangan JBRB sebagai suatu organisasi yang dipertanggungjawabkan secara personal maupun organisasi. TK
Kalau teman-teman membaca isi artikel lebih dalam, teman-teman akan menemukan bahwa saya tidak menolak kegiatan abang dan none, dan tidak menyalahkan peserta kegiatan ataupun output finalis. Tolong baca kembali artikelnya dan anda akan menemukan bahwa yang saya kritisi disini adalah sistem dan mekanisme kegiatan abang dan none yang saat ini digunakan oleh Pemerintah Daerah yang akhirnya hanya mengeksploitasi anak2 muda yang bersemangat, menjadi “boneka politik” segelintir orang. Sadar atau tidak Pergelaran Abang dan None telah menjadi acara rutin Pemerintah Daerah yang menghabiskan dana sekitar Rp. 400 Juta Rupiah dan acara ini telah digelar sejak tahun 1970an. Atas alasan tersebut maka poin dari artikel ini adalah mengajak semua pihak baik masyarakat maupun orang yang terlibat dalam kegiatan ini untuk membenahi sitem dan mekanisme kegiatan abang dan none yang sekarang berjalan sehingga pada tahun-tahun mendatang kegiatan Abang dan None akan menghasilkan orang-orang yang luar biasa dan bermanfaat, bukan hanya bagi Jakarta tetapi juga wilayah pemilihannya. Banyak teman saya yang ambil bagian dalam kegiatan Abang dan None dan mereka mempunyai visi hidup yang luar biasa, konsis terhadap kontribusi dan mempunyai komitmen tinggi terhadap perubahan kota menjadi lebih baik. Saya sangat yakin jika sistem dan mekanismenya baik maka bukan hal yang sulit melihat orang-oarng yang luar biasa ini (Gilang dkk) menyulap Jakarta menjadi lebih baik. Tetapi karena kesalahan konsep, sistem dan mekanisme yang ada sekarang maka katakan pada saya prestasi apa yang Abang dan None berikan bagi wilayahnya dalam 5 tahun terakhir??? mungkin H Wisnu dan Hmm bisa memberikan contoh kepada saya yang buta terhadap kegiatan ini, jika memang saya salah maka saya akan menulis pengakuan kesalahan isi artikel. Tetapi FYI saya telah hidup dalam kegiatan Pemda sejak berumur 13 tahun dan saya “mungkin” telah melewatkan momen-momen prestasi tersebut. Salam.
Yonna: Hehehe, sorry mata gue siwer. Maksud gue: Setiap tulisan dari Blog JBRB adalah bukan pandangan JBRB sebagai suatu organisasi tapi dipertanggungjawabkan secara personal maupun organisasi.
GBM, tolong koreksi.
hehe.. miris ya, kampung halaman kita (saya sih , maksudnya) diwakili oleh para ‘calon artis sinetron’ sebagai duta. Agak cepat menyimpulkan sih sebenarnya, tapi smp sekarang rasanya formula pemilihan Ab-Non belum pas ya utk memajukan Jakarta itu sendiri.
Waktu dinas 1 tahun saya rasa juga belum cukup bagi mereka untuk menyelesaikan ‘tugas’. Gantung rasanya.. Yah itupun kalau benar2 digunakan untuk menjalankan tugas sebagai duta, tanpa sidejob jadi pemain sinetron, bintang iklan, dll.
Lagipula, kalau jabatan gubernur dan segenap timnya mejalankan tugasnya dengan baik, saya rasa sudah cukup mewakili tugas ‘duta’ spt yang diharapkan dari para pemenang Ab-Non.
Lagipula, kucu aja kalau duta terpilih Jakarta ternyata bukan asli kelahiran Jakarta. Hehe.. maaf lho bukan bermaksud rasis atau primordialisme. Tapi dari namanya saja sudah Ab-Non Betawi..
Salam
hmmm, rasanya agak kurang pas klo pemilihan abnon itu sendiri harus diikuti oleh orang yg kelahiran jakarta atau orang yg keturunan betawi.. sperti yg kita ketahui jg, penduduk jakarta sangatlah beragam, kebudayaannya sendiri beragam, tdk hanya terdiri dr orang atau kebudayaan betawi saja, tetapi terdapat unsur2 dr wilayah2 lain, dan daerah penyangga lainnya.. bisa diliat dr kebudayaannya, yg banyak adaptasinya..
lagipula lebih lucu lagi klo peserta yg diikutkan abang none hanya berasal dr satu suku saja, apakah yg blh mencintai kebudayaan itu hanya sukunya sendiri?? klo sperti itu makin banyak perpecahan yg terjadi di indonesia.. jd klo menurut gw, gpp klo pemilihan ini diikuti oleh berbagai macam suku, dg begitu makin terlihat bahwa kebudayaan itu dicintai dan akan terpelihara..
dan tidak selamanya abnon itu menjadi seorang superstar, itu semua tergantung individu dan kesempatan itu sendiri.. seperti yg sudah dijelaskan diatas, slama menjabat jd abnon di dki, kita tdk diperbolehkan untuk mengkomersilkan diri sendiri..
pemilihan abnon banyak manfaatnya kok.. sabar aja akan perubahan yg diharapkan, insyallah akan terjadi klo ada kerjasama dr kita smua.
wah, seru aja nih komentarnya..hehe.. setuju bang abe, mungkin abang lebih bisa ngasih contoh nyata dr manfaat kegiatan abnon. tapi memang sejujurnya, untuk mekanisme penyelenggaraan masih banyaaaak sekali yang harus diperbaiki. Cuma, 5 tahun terakhir ini, mulai terjadi perkembangan kegiatan yang bermanfaat untuk warga jakarta dalam komunitas kecil, yang dimotori oleh para finalis sendiri. Karena, taulah, susah kalo ngarepin orang sudin mahh… intinya, saya setuju,, sampe sekarang memang belum ada perbaikan signifikan soal kinerja dari sudin, susah banget untuk bekerjasama dengan ikatan, masih rada ribet. mungkin lebih karena komunikasi beda generasi, hehehe…tapi insya allah, tahun berikutnya ada perubahan mekanisme yang lebih baik lagi yahh.. apalagi, mulai banyak orang sudin yang juga punya visi cemerlang mengenai pengelolaan output abang none ini…
thx buat H wishnu..
kegiatan dr abnon itu sendiri memang pada intinya adalah mempromosikan kota jakarta ini.. segala sesuatu yg punya nilai jual (dlm hal ini pariwisata) kita akan memberikan..
memang benar g slamanya abnon bergerak di bawah komando SUDIN, krn memang sudah seharusnya abnon yg bertugas selama ini punya initiatif untuk memajukan jakarta, dan diharapkan setelah lepas periode jabatannya mrk masih tetap mempromosikan jakarta.. cm g bisa dipungkiri juga, PIHAK SUDIN punya andil dalam hal memajukan, spt mengirim para pemenang ABNON ke event2 berskala initernational untuk memajukan pariwisata.. intinya arah perbaikannya udah mulai nampak kok..
mudah2an arah yg dharapkan sudah bisa dirasakan..
WADUH…
AYE NGGAK SETUJU AH………
SEBAGAI MANTAN ABANG JAKARTE, JUJUR AYE DAH BANYAK BERPERAN AKTIF PLUS POSITIF TUK KEMAJUAN JAKARTE….
SORY2 AJE KALO ADA YG BILANG ABNON CM PAJANGAN ITU KOMENTAR BODOH BGT..
EKSISTENSI KT BNYK KOK N KLO MANG JRG KEDENGARAN OR KELIATAN DI TV N INFOTAINMENT..
YAH MANG ABNON TUH BUKAN ARTIS SINETRON YG POTONG RAMBUT AJE BERITANYE AMPE SEMINGGU DI TIPI..
KITE TUGAS TUH IKHLAS N DAH SEBUAH KOMITMEN KT SBG PEMUDA-PEMUDI JAKARTE UNTK YG BAIK N BERBUDAYA.
KALO GAK PERCAYA COBA DAH IKUT ABNON RASAIN DEH….
OK….THX U..
Cuma mau kasih koment… Yang dimaksud cuman pajangan doang soalnya setiap abang ato none yang udah pada alumni jarang yang ngasih liat kalo mereka dulu abnon, emang ada juga yang kurang aktip… Tapi lebih banyak kok stelah abnon mereka jadi malah tambah aktif…
Hidup Abnon Tunjukin kamu bisa!!!!
kalo menurut ayeee
abang none tu bagus banget buat ngangkat budaya dan sejarah jakarta sehingga bisa menambah semarak dunia pariwisata jakarta khususnya ..
akan tetapi permasalahannya bagaimanakah pemanfaatan mereka , planning short n long termnya seperti apa , intens apa engga ..
fikri abnon jakarta 2005
hmm,,
hmm,,gw salah satu abang dari salah satu wilayah,,
menurut gw hanya orang2 yang ngrasa minder dan ngrasa ga mampu menjadi abnon yang berkomentar negatif tentang abnon,,mreka ga tau apa yang kami pernah lalui da yang pernah kami kerjakan,,mungkin memang faktor promosi yang kurang,,tapi kami cukup bangga menjadi satu ikatan dalam abnon,,minimal kami melakukan sesuatu untuk jakarta (walau memang tidak terexpose) dripada hnya menghujat dan mencaci kegiatan oran lain padahal sebenernya tidak tahu apa yang telah orang lain kerjakan!!! DO MORE TALKLESS!!!!
knp ya skg smuanya lagi pada gila jadi artis?
Ikutan diskusi, yaa..
@jane: “knp ya skg smuanya lagi pada gila jadi artis?”
komen ini masih soal para peserta Abang None kah?
siapa yang dimaksud dengan ’smuanya’ disini?
Sekedar share, saya pernah ikut Pemilihan Abnon hanya satu kali, di wilayah Jakarta Barat tahun 2005, dan masuk 15 besar alias finalis.
Tujuannya? dari sisi pribadi, ya..menjajal kemampuan berprestasi dan mengasah keberanian untuk tampil, krn basically saya orangnya introvert. Dari sisi lainnya, MURNI juga karena ingin mengenal dan terlibat dalam seluk beluk budaya betawi.
Lalu setelah ikutan, apa hasilnya?
Saya mengenal dan bersinggungan banyak dengan seluk beluk dunia ‘gegap gempita’ entertainment alias panggung dan ‘pajang-pajangan’, itu tidak saya pungkiri. Dan kalau ada sebagian kontestan yang memang beneran berambisi jadi ‘artis’, yaaa hak mereka. In general, para Abnon memang dibuat melek dengan salah satu keharusan tampil sebagai ‘wajah’ pemuda pemudi Jakarta yang enak dilihat (ya iya donk..masa mau sih Jakarta dicap busuk gara2 wakilnya tampil sembarangan di mata pihak luar)
Tapi aktivitas Abnon tidak melulu berhenti di soal gaya2an. OK, sekali lagi PALING TIDAK ini pengalaman saya. Sebagai finalis, saya dan teman2 digabungkan dalam wadah Ikatan Abnon Jakarta Barat. Kegiatannya? Kalo nunggu dari Sudin, yaa wassalammm…Kami harus berinisiatif. Maka dari hasil ngobrol dan sharing (sama kok kayak JBRB aja), kami berkomitmen mengadakan kegiatan2 non-profit seperti sahur dan buka puasa bersama anak yatim di panti asuhan, counceling dan kampanye mengenai AIDS dan Narkoba bersama lebih dari 50 ODHA alias Orang yang Hidup Dengan HIV/AIDS, mengumpulkan dan menyalurkan sumbangan ke Lembaga rehabilitasi jiwa, pemukiman korban bencana di Pangandaran, dsb. Dan apakah setelah itu kami mendapat sesuatu?
Diliput wartawan, yaa..adalah, tapi publikasi acara sosial kami pada umumnya memang tidak besar2an. Soal publikasi pun didapat dengan usaha, lho..hehe, nggak mentang2 Abnon lantas kami otomatis jadi selebriti dan diliput sana sini (sekedar fakta: sebagian wartawan ngga mau dtg kalo ngga ada duitnya, guys..hik)
Dapet sisa alokasi dana? Boro2, yang ada juga nombok.
Trus apa, coba? Yang saya dapatkan adalah pembelajaran tentang kerja tim, persahabatan, komitmen, kesabaran, dan kepuasan batin waktu melihat senyuman dari org yang kami bantu!
Jadi kalau ada mau yang nge-judge Abnon dari tampak depannya, silakan saja..kontribusi kami untuk Jakarta dan Indonesia mungkin belum tampak nyata, tapi bukan samasekali tidak ada.
Satu tambahan lagi, alumni Abnon yang teman-teman lihat wara-wiri di layar kaca itu apakah betul artis sinetron semua? Karena yang terkenal sebagian besar justru berprofesi sebagai jurnalis, kalii..news anchor, pembawa acara, bukan ARTIS sinetron. Tolong bedakan:)
Terima kasih..
Btw yang nicknamenya Abe ini Abraham William Daud? Juz askin, lol.
Dear all,
Pertama saya sangat setuju dengan Satyarengga yg memang kebetulan Abang Jakarta 2008.
Sebaiknya publik tidak serta merta memberi cap terhadap Abang dan None seperti ini, lebih baik mari kita ciptakan suatu wadah aktivitas dimana kita bisa melakukan sesuatu secara bersama-sama untuk kota Jakarta tercinta ini.
Perlu dicatat! Pemilihan Abang None jakarta adalah program pemerintah untuk mencari wakil dari generasi muda untk menjadi duta pariwisata. Jadi, kami (abang & none) sejak awal memang bukan brgkt atau dekat dengan dunia entertainment dan sebagian besar kami memang berasal dari dunia pendidikan yang memang mayoritas aktif didalam kegiatan2 organisasi.
Bicara kontribusi, setiap tahun kami selalu membuat program kerja diluar tugas2 kamu dari Dinas Pariwisata. Perlu dicatat kembali, semua aktivitas kami ini adalah aktivitas pro-bono dan memang kebanyakan berhubungan dengan lingkup komunitas seperti komunitas sepeda ontel, masyarakat pecinta museum, Kandank Jurang-nya Doank, dll. Beruntung tahun ini program kami yang berwawasan lingkungan dapat berjalan seiring dengan partisipasi kami di EARTH HOUR 2009 .
Mungkin menjadi masukan kami bahwa kurang ter-eksposenya kegiatan kami kepada masyarakat, program kami yg sedang berjalan adalah membuat website untuk abang dan None Jakarta supaya setiap aktivitas kami dapat diikuti oleh masyarakat.
terimakasih untuk perhatiannya
salam untuk Kota Jakarta yg lebih baik
regards
Abimantra Pradhana, ST, MAUD
Abang & None Jakarta 2008
Abnon Generasi Masa Depan
Jakarta memiliki magnet pariwisata luar biasa. Sebut saja kawasan Kota Tua yg memiliki banyak bangunan bersejarah dan kawasan Kota Modern yang memiliki banyak tempat rekreasi dan hiburan. Ada juga kebudayaan seperti makanan, pakaian, dan sebagainya yangg melekat dengan kota pemerintahan pusat ini.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang sadar akan pariwisata dan kebudayaan yang dimiliki Jakarta. Jika tidak diperhatikan maka kota besar ini akan kehilangan nilai-nilai sejarahnya.
Tahun 2008 waktu aktif bergaul dengan kalangan pejabat di Dinas Pariwisata maupun Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprov DKI Jakarta (sekarang kedua instansi itu digabung menjadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) sampai ke Suku Dinas di masing-masing Kota Administratif yang ada di Jakarta, kami berbincang-bincang mengenai peranan Abang None Jakarta dalam lingkup wisata dan budaya.
Saat itu saya menyampaikan kepada beliau-beliau ini bahwa ada anggapan Abnon hanya dijadikan pajangan alias Ondel-ondel-nya Jakarta. Mereka pun serempak menampik anggapan tersebut.
Dikatakannya, Abnon itu adalah aset bagi Jakarta dimana Abnon adalah generasi muda yang peduli dan sadar akan keberadaan kotanya ini.
Tapi mereka sangat menyayangkan kalau justru ada Abnon yang melupakan kepedulian dan kesadaran tadi.
Dari sini, saya berpendapat ajang pemilihan Abnon tidak hanya ajang hura-hura yang menghabiskan dana milyaran rupiah dari tingkat Kota dan Kabupaten hingga Provinsi. Atau hanya mengejar target program pemerintah yang dianggarkan dalam APBD bahkan menafkahi orang-orang yang menambil keuntungan dengan program ini. Sangat disayangkan..
Namun, jadikan Abnon dapat menjadi duta wisata dan budaya yang mengabdi pada kecintaan terhadap tanah air. Pariwisata dan kebudayaan harus dipertahankan. Ini tugas Abnon juga tidak hanya pejabat pemerintahan saja.
Dengan adanya Abnon diharapkan dapat menjadi contoh teladan yang baik bagi generasi muda lainnya maupun masyarakat secara keseluruhan.
Saya berharap Abnon membantu menyadarkan masyarakat akan keberlangsungan wisata dan budaya Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.
Abnon harus berperan aktif. Kegiatan-kegiatan yang positif yang diselenggarakan Abnon hingga saat ini harusnya menjadi tolak ukur penyadaran masyarakat tersebut.
Saya salut dengan Abnon yang menyelenggarakan kegiatan sosialnya maupun sosialisasi pariwisata dan kebudayaan baik di Indonesia maupun dunia Internasional.
Saya bangga Abnon dapat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Tapi integritas Abnon harus dijaga karena mereka bisa dijadikan teladan bagi sekitarnya. Jangan sampai ada pemberitaan miring tentang Abnon.
Ini pun menjadi tugas pemerintah terkait dalam menjadi pembimbing Abnon. Karena Abnon tidak dapat terlepas dari pemerintah Jakarta. Bukan hanya mengenai anggaran yang dialokasikannya tapi keteladanan orang tua (pemerintah) yang membantu Abnon dalam pengabdiannya.
Walaupun personil Abnon tiap tahun berganti (regenerasi) tapi dengan adanya Ikatan Abnon diharapkan menjadi perekat bagi personil-personilnya baik dari tahun 70-an hingga sekarang.
Suatu kebanggaan jika ada Abnon yang melanjutkan tujuan mulia sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi. Kalau perlu mereka aktif membangun Jakarta dalam pemerintahan. Sumbangsih Abnon sangat diperlukan memperbaiki segala kekurangan yang ada di Jakarta sehingga tidak ada lagi anggapan Abnon hanya pajangan.
Selamat menyelenggarakan pemilihan Abang None 2009.
Salam Sukses,
Andi
Ya ampun…sebenernya saya lagi nyari bahan buat skripsi dan tiba-tiba menemukan blog ini..Udah agak basi sih tapi gatel banget pengen ninggalin jejak juga di sini^^
Awalnya sempet stress waktu baca comment2 di atas yang kayanya penuh cacian buat Abnon (walaupun banyak yang ngebelain juga sih) dan pengen tau reaksi temen-temen saya di ikatan Abang None 2008 (saya juga salah satu finalis none 2008) Ehh..ternyata udah ada temen saya yang comment duluan hehe..
Saya cuma pengen bilang kalo setiap hal itu ada 2 sisi seperti layaknya pedang atau mata uang yang pasti ada negatif dan positifnya..Saya pribadi menyadari banyaknya kekurangan dari pemilihan Abnon ini tapi saya jauh menilai banyak segi positif dari pemilihan ini yang tentunya pasti dipengaruhi subyektifitas saya sebagai salah satu finalis. Saya tidak bermaksud membela semata dan kontribusi kami rasanya sudah banyak diceritakan oleh teman-teman saya.
Satu hal yang saya ingin katakan adalah mungkin sebelum kita menilai sesuatu dengan negatif bagaimana jika kita berpikir dengan cara yang berbeda. Selama ini kita berpikir bahwa abnon tidak berguna karena tidak ada kontribusi, namun bagaimana jika kita berpikir sebaliknya, bagaimana keadaan Jakarta seandainya tidak ada Abnon? mungkin memang dampaknya tidak terlalu besar seperti halnya sekarang jika ada abnon. Tapi seperti halnya dengan kontribusi kami yang dinilai kecil, kita semua juga tidak tahu perubahan yang ada jika tidak ada kami bukan? maka dari itu, hendaknya kita jangan berpikir terlalu cupat. Sesuatu yang bisa bertahan selama 30 tahun pastinya merupakan sesuatu yang berguna dan memiliki manfaat dibandingkan dengan kegiatan lain. Berpikir selalu positif membuat segala sesuatu menjadi lebih baik dan menambah motivasi kita.
Terima Kasih
Melisa Gandasari
Abang & None Jakarta 2008
hmmm..mgkin gak nyambung,tapi sekedar lewat doank bolehlah..
gina f, finalis abnon 2009 jakbar..dia 1 skul ma aku di smanda cirebon. doi orang bobos, entahlah tu daerah apa masuk kab.cirebon atau kab.kuningan. tapi kenapa dia bisa masuk finalis abnon jakbar yahhh?
gimana jurinya???
gimana proses seleksinya???
bukannya ngiri, tapi ngrasa menyayangkan ajah..
orang yang bukan asli jakarta, tiba2 masuk jadi finalis daerah laen..
bukankah alangkah baiknya kalau abang none jakarta barat itu para finalisnya juga orang2 berprestasi yang asli jakarta barat sehingga dia bisa membawa nama jakarta barat di tingkat nasional???
sayang beribu sayang, mungkin uang berbicara…
mungkin..
October 9, 2007 at 6:48 pm
Syip, setuju bung udiot. agak nya tujuan pemilihan Abang None sendiri sudah menyimpang dari tujuan awalnya, yang memilih duta untuk mewakili kebudayan betawi sendiri, kebanyakan menjadikan ajang ini sebagai popularitas dan tampil belaka, beberapa pengetahuan yg mereka miliki tentang kebudayaan jakarta, yaitu betawi pada khususnya hanyalah informasi seadanya dari bacaan2 yang mereka hafalkan selama proses pemilihan, walaupun tidak sedikit yang mengakui potensi individual dan karakteristik dari pemenang abang dan none tersebut. Namun peranan dan kontribusi mereka sebagai abang none yang notabene “icon” nya jakarta masih jarang kita dengar, sebaik nya kita mulai membuat pemilihan abang dan none revolusi budaya aja bung udiot? yang proses pemilihan nya dimulai dari diri kita masing-masing untuk bisa menjadi orang yg lebih baik agar membuat kota Jakarta tempat yang lebih baik lagi dalam segala aspek, dan juri yang menilai adalah masyarakat sendiri nantinya. Salam Revolusi budaya !!
July 29, 2009 at 7:56 am
maaf, tujuan awal dari diadakan nya pemilihan abnon adalah sebagai pendamping walikota dan pendaming gubernur, sekali lagi saya tegaskan “PADA AWALNYA” yang semakin kedepan semakin berkembang dan berfungsi sebagai duta pariwisata dan duta budaya, untuk bisa dilihat hasilnya dari mana bukan hanya dilihat dari segi umum saja, karena kita tidak bisa menilai segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. sekarang kita lihat saja konkrit nyata, seorang presiden pun tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menjalankan dan mengatur sebuah negara, apalagi hanya seorang abnon yang tidak mudah mendapatkan segala fasilitas untuk melakukan promosi budaya dan promosi wisata.
Dan technically dan practically saya akui ajang abnon bisa membawa perubahan dalam pribadi dan tingkah laku seorang anak muda, dan saya dan teman2 saya juga akui bahwa setelah mengikuti ajang abnon, rasa cinta budaya yang tadinya mungkin hanya dimulut dan sekedar basa basi saja menjadi semakin mengental di dalam diri.
satu lagi, abnon adalah ajang yang berlangsung di kota Jakarta saja, jadi jangan lah terlalu mengharapkan perubahan besar bisa terjadi dari hanya sebuah ajang, tapi semua bisa terjadi dengan adanya kerjasama dari berbagai lapisan.