Posted by: Gilang on: November 20, 2007

Tiga ciri utama warga jakarta di masa mendatang: Yang pertama adalah suka mengalami sesak napas. Hal ini dikarenakan ruang gerak yang semakin terbatas sementara jumlah penduduk semakin meningkat. Hal ini secara statistik bisa dibuktikan dari penduduk Jakarta yang berjumlah sekitar 8,5 juta orang di malam hari dan 10 juta di siang hari pada tahun 2003. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 41.18% hanya dalam dua tahun, hanya dalam dua tahun angka itu meningkat menjadi 12 juta jiwa (data Pemda DKI Jakarta) pada malam hari dan 15 juta jiwa pada siang hari, karena arus penduduk ditambah dari area BoDeTaBek. Bayangkan angka yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, kurang lebih 95 juta jiwa penduduk. Langkah yang diperlukan untuk bisa mengatasi masalah ini adalah menciptakan peluang kerja dan pembangunan yang merata di kota-kota pendukung di luar Jakarta secara bertahap karena dengan demikian arus dan trans lintas penduduk bisa berkurang secara domisional, tanpa kompromi ini harga mati.

Yang kedua adalah Stres, sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah puluhan ribu mobil dan motor yang “parkir” di tengah jalan, itulah pemandangan yang harus selalu dilihat oleh warga Jakarta yang stres dan sakit disebabkan oleh tingkat kemacetan yang bisa dibilang stadium tiga. Sistem transportasi massal yang dimiliki Jakarta tampaknya tidak pernah membawa hasil yang menggembirakan melainkan justru meningkatkan kesemrawutan pola lalu lintas itu sendiri. Salah satunya hal ini terjadi karena sulitnya mengajak para pengendara mobil untuk menggunakan angkutan umum, minimal sesekali. Kampanye nasional “Bangga Berkendaraan Umum” bisa mulai dicanangkan sejalan dengan perbaikan fasilitas pendukung transportasi tersebut, tanpa kompromi ini harga mati.
Banyak omong, adalah ciri yang ketiga. Bingung kenapa? Karena saya yakin akan semakin banyak orang Jakarta yang cuma mengobral janji, solusi, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi semua masalah yang ada di Jakarta tanpa ada kesadaran untuk mulai memperbaiki dan merubah wilayah mereka sendiri, lingkungan mereka sendiri, bahkan diri mereka sendiri. Orang-orang seperti itu menganggap dirinya seakan-akan lebih penting dan bisa menyelesaikan semuanya semudah membalikkan telapak tangan dan berulang-ulang mengucapkan, “Saudara-saudara, kita harus berubah, tanpa kompromi ini harga mati.”
Menarik blognya. Menggugah.
Kalau berminat bisa bergabung juga di Komunitas Referensi di http://groups.yahoo.com/group/referensi/
beberapa kali sudah membahas Jakarta,.. warga dan pemdanya,….
anda tepat,… merevolusi budaya bagi warganya,..
tapi buat kami juga mungkin mereformasi pemda-nya, mereformasi sistem penyelenggaraan pemerintahannya……
salam,
dwiagus
harga mati? kirain tentang kesatuan NKRI
kelelep macet. well, macet udah makanan sehari-hari warga jakarta. tapi kali ini sejak pembangunan koridor busway, macetnya udah gak bisa ditolerir lagi, bahkan warga jakarta menggugat gubernur mengenai kerugian yang diderita akibat macet yang luar biasa fenomenal ini. bayangin aja, jam 5.30 pagi jalan raya udah macet total dan panjaaaannnggg, masa’ kudu berangkat jam 4 pagi sih? ayam aja masih bobo jam segitu!! nah bayangin deh jam 5.30 pagi udah macet total….hahaha jakarta tambah luar biasa
aku cinta j.a.k.a.r.t.a
nasib…nasib…tapi ga usah ditularin ke bandung dong ah…..
ehehehe
Dids tau blog ini dari Tasa.. Hohohoho.. ternyata masih ada orang2 yang peduli pada Jakarta. Nice to hear that!
Dids dukung+setuju sama pergerakannya!
Smangat!!!!
-dids-
saya setuju sebaiknya adalah jakarta haruas di rudal atau di bom
saya juga setuju bila surabaya khususnya di derah mungsing perak barat di bom atom aja karena orangnya seperti anjing semua
boleh juga, tetapi revolusi sudah tidak lagi trend bung…
mungkin ada cara lain…
tertarik diskusi nih tentang beberapa pikiran tentang budaya..
jakfar_fauvis@yahoo.com
November 20, 2007 at 2:31 am
Setuju banget deh Bung Gilang, Jakarta makin lama makin kacau! Orang-orang makin banyak, macet makin parah, dan makin banyak orang omong tanpa ada solusi. Gimana solusinya nih Bung Gilang?