Posted by: guebukanmonyet on: April 2, 2008
Artikel ini dimuat oleh Koran Tempo pada Sabtu, 22 Maret, 2008 dan ditulis oleh Muhammad Nur Rochmi.
Sudah enam bulan terakhir Arief Prasetyo menekuni bahasa Inggris. Dia, yang sebelumnya cuma paham thank you dan hello, kini telah menguasai sejumlah kata dalam bahasa asing itu. Si buyung 7 tahun itu sekarang fasih melantunkan lagu Brother John. “Saya suka belajar bahasa Inggris,” ujar siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Selong 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu.
Bersama puluhan teman sekolahnya, Arief menggeluti bahasa Inggris setiap akhir pekan. Mereka dibimbing sekelompok anak muda dari komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), sebuah perkumpulan yang lahir karena keprihatinan atas kondisi Jakarta yang centang-perenang.
Komunitas ini bermula dari More Power Indonesia. Ini kelompok anak kampus dari berbagai daerah yang bertujuan saling menganjurkan kebiasaan positif, seperti tertib lalu lintas dan membuang sampah pada tempatnya. Namun, perkumpulan yang didirikan pada 2005 itu kurang berkembang. Hingga dua tahun setelah kelahirannya, kebiasaan positif yang mereka dengungkan tak bisa memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar. “Kami membaik, tapi lingkungan sekitar tak berubah,” kata Rusdi Indradewa, Ketua JBRB.
Pada 30 Juni 2007 mereka memutuskan mengubah More Power Indonesia menjadi Jakarta Butuh Revolusi Budaya. Tujuannya, memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar. “Prinsipnya, mulai dari kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang,” kata Rusdi.
Prinsip itu diterapkan dalam bentuk beragam kegiatan. Program Berburu (Berbudaya Itu Seru), misalnya, adalah usaha pembibitan budaya positif bagi anak-anak. Ada lima tema yang ditanamkan melalui diskusi, simulasi, bernyanyi, dan bermain. Kelima tema itu adalah berbudaya tertib, mencintai lingkungan, menghargai sesama, rajin membaca, dan mencintai budaya Indonesia.
Lalu ada Rumah Cerdas. Ini program perpustakaan umum milik komunitas yang bermarkas di Tulodong House, Jalan Tulodong Atas 28, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini. “Fasilitasnya lebih homey, seperti di rumah sendiri,” kata Rusdi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan budaya baca dan kualitas pendidikan. Rencananya, akan ada lima rumah untuk program Rumah Cerdas di Jakarta. “Satu Rumah Cerdas di tiap wilayah kota madya,” tutur dia.
Anggota komunitas yang memiliki situs di http://jakartabutuhrevolusibudaya.com ini membiayai kegiatan mereka dari kantong pribadi. “Kami bantingan,” kata Rusdi. Namun, pengumpulan uang dengan cara itu kadang tidak maksimal. Mereka pun berencana mencari dari sumber lain. “Kami sedang mengusahakan penggalangan dana,” dia mengimbuhkan.
Tak cuma soal dana yang seret, kendala juga datang dari anggota sendiri. “Banyak anggota yang datang dan pergi,” kata Rusdi. Salah satu sebabnya adalah anggota merasa terkungkung indikator kesuksesan dalam aktivitas komunitas ini. Misalnya nilai rapor siswa yang dibimbing jelek. Padahal mereka sudah ikut bimbingan belajar bahasa Inggris dan matematika. “Kondisi ini melemahkan semangat anggota,” kata Rusdi.
Saat ini JBRB memiliki 11 orang anggota di Washington, Amerika Serikat, 3 orang di Australia, dan 36 orang anggota aktif di Jakarta, dengan kisaran umur anggota perkumpulan dari 19 tahun hingga 25 tahun. Mereka datang dari berbagai latar belakang, seperti pelajar, mahasiswa, dan profesional.
Ismail, 22 tahun, misalnya. Pegawai swasta ini menyatakan ikut bergabung karena prihatin dengan anak muda zaman sekarang yang cuek terhadap masalah sosial. “Mereka lebih berorientasi materialistik,” kata lelaki asal Magelang, Jawa Tengah, itu.
Kondisi ini, menurut Ismail, akan semakin memperburuk Jakarta. Untuk itu, Ismail bersama anggota lain komunitas ini ingin mengubah Jakarta dan Indonesia menjadi lebih baik. “Entah kapan. Yang jelas, kami yakin kami bisa,” kata Rusdi.
Buseett dah Yon-Ian, mang gue banci kaleng…lagian klo gue homo gue milih-milih pasangan juga kalee hehehe
April 2, 2008 at 9:30 am
“dengan kisaran umur anggota perkumpulan dari 19 tahun hingga 25 tahun.”
jadi gue termasuk yang 19 tahun? alhamdulillah, makasih yach