Comments on: Should we love dangdut too? http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/ Bukan Sekedar Advokasi, Kami Berkontribusi Mon, 19 Apr 2010 09:37:41 +0000 http://wordpress.com/ hourly 1 By: Nia http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2495 Nia Mon, 13 Apr 2009 04:56:25 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2495 dangdut no. keroncong, oke. tanjidor & cokek...yesss!!! dangdut no.
keroncong, oke.
tanjidor & cokek…yesss!!!

]]>
By: Liang http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2466 Liang Mon, 02 Mar 2009 07:24:36 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2466 Dangdut??? no way! Gw ga menghina dangdut, cuma ga demen ajah ampe ubun2 ga demen gw. Gw cinta produk dalam negri, gw suka gamelan, kroncong it's ok la, ga peduli mo serapan dari negara mana yg penting itu budaya indonesia. Dan menurut gw kita ga musti demen dangdut bwat nunjukin klo kita cinta indonesia. Ga semua budaya asli indonesia itu kampungan, bahkan bisa di rombak jadi elegan, tergantung bagaimana cara kita generasi muda dalam membawa "aset" negara kita tsb. Dangdut??? no way!
Gw ga menghina dangdut, cuma ga demen ajah ampe ubun2 ga demen gw. Gw cinta produk dalam negri, gw suka gamelan, kroncong it’s ok la, ga peduli mo serapan dari negara mana yg penting itu budaya indonesia. Dan menurut gw kita ga musti demen dangdut bwat nunjukin klo kita cinta indonesia. Ga semua budaya asli indonesia itu kampungan, bahkan bisa di rombak jadi elegan, tergantung bagaimana cara kita generasi muda dalam membawa “aset” negara kita tsb.

]]>
By: ian http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2400 ian Fri, 28 Nov 2008 23:24:20 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2400 "Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself." Tambahan untuk pernyataan di atas. It's not THEIR responsibility. It's ours! Why, they and we are different in vision. Mereka cari uang. Dan pasar musik dangdut, menengah ke bawah dengan pendapatan dan tingkat pendidikan rendah, masih sangat banyak. We think they'll care? Nope! Think about it! As long as they can sell what they make, it's fine with them. So, we are the one who should come up with something that will largely employ dangdut. Once we seize the market, we can reshape it. We, not the dangdut producers, need to act! “Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself.”

Tambahan untuk pernyataan di atas.

It’s not THEIR responsibility. It’s ours!
Why, they and we are different in vision. Mereka cari uang. Dan pasar musik dangdut, menengah ke bawah dengan pendapatan dan tingkat pendidikan rendah, masih sangat banyak.

We think they’ll care? Nope! Think about it! As long as they can sell what they make, it’s fine with them.
So, we are the one who should come up with something that will largely employ dangdut. Once we seize the market, we can reshape it.

We, not the dangdut producers, need to act!

]]>
By: ian http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2399 ian Fri, 28 Nov 2008 23:16:54 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2399 Should we love dangdut, too? The answer is: Yes, we should! Why? because it's part of us. It is not India, nor Portuguese. It's Indonesia. Masalahnya bukan apakah lantas kita mesti membenci dangdut bila dangdut begitu kampungan (menurut kita). Dangdut adalah bagian dari budaya kita. Kita menyukainya atau tidak, dangdut akan tetap ada. Kalau kita peduli, kita tidak akan menbencinya. Justru merangkulnya. Because it's a part of us, we should embrace it and make it better. We, everybody who thinks dangdut is "musik ndeso" that is way uncomparable to Jason Mraz yet do nothing but grumbling and blaming it, are miserable. Kitalah yang bisa membuat dangdut menjadi apa yang kita anggap lebih baik. Dangdut adalah produk Indonesia yang bisa membuat nama bangsa ini besar bila dipaket dengan benar. It's Branding, Positioning, and Differentiation, right? Lantas mengapa dangdut yang jadi pertanyaan? Why not, "Should we love Dji Sam Soe?" or "Should we love night club?" or "Should we love sinetron?" Dangdut bisa menjadi daya tarik bangsa ini, seperti halnya Bollywood dari India. Kenapa mesti kita tidak mencintai dangdut? Kalau kita menjauhinya, tak akan ada yang bisa kita dapatkan. Mengecam bukan lagi hal yang produktif. Ini bukan birokrasi, tapi budaya. Melawan budaya tidak bisa dengan besi. Hal kan tidak beda dengan merubah budaya orang Indonesia yang suka buang sampah sembarangan, tida mau antri, dll seperti misi JBRB? Should we love 'buang sampah tidak pada tempatnya'? Tidak kan? Tapi kita bukan malah membenci dan menjauhinya kan? Justru kita mendekatinya agar tidak buang sampah sembarangan lagi. So, should we love dangdut, too? Yes, we should. If you don't, ask why? Do something and you can make it better! Should we love dangdut, too? The answer is: Yes, we should!
Why? because it’s part of us. It is not India, nor Portuguese. It’s Indonesia.

Masalahnya bukan apakah lantas kita mesti membenci dangdut bila dangdut begitu kampungan (menurut kita). Dangdut adalah bagian dari budaya kita. Kita menyukainya atau tidak, dangdut akan tetap ada. Kalau kita peduli, kita tidak akan menbencinya. Justru merangkulnya.

Because it’s a part of us, we should embrace it and make it better. We, everybody who thinks dangdut is “musik ndeso” that is way uncomparable to Jason Mraz yet do nothing but grumbling and blaming it, are miserable.

Kitalah yang bisa membuat dangdut menjadi apa yang kita anggap lebih baik. Dangdut adalah produk Indonesia yang bisa membuat nama bangsa ini besar bila dipaket dengan benar. It’s Branding, Positioning, and Differentiation, right?

Lantas mengapa dangdut yang jadi pertanyaan? Why not, “Should we love Dji Sam Soe?” or “Should we love night club?” or “Should we love sinetron?”

Dangdut bisa menjadi daya tarik bangsa ini, seperti halnya Bollywood dari India. Kenapa mesti kita tidak mencintai dangdut? Kalau kita menjauhinya, tak akan ada yang bisa kita dapatkan. Mengecam bukan lagi hal yang produktif. Ini bukan birokrasi, tapi budaya. Melawan budaya tidak bisa dengan besi.

Hal kan tidak beda dengan merubah budaya orang Indonesia yang suka buang sampah sembarangan, tida mau antri, dll seperti misi JBRB?
Should we love ‘buang sampah tidak pada tempatnya’? Tidak kan? Tapi kita bukan malah membenci dan menjauhinya kan? Justru kita mendekatinya agar tidak buang sampah sembarangan lagi.

So, should we love dangdut, too? Yes, we should. If you don’t, ask why? Do something and you can make it better!

]]>
By: deniar http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2395 deniar Thu, 27 Nov 2008 05:57:27 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2395 Dangdut okelah.... (walau gak suka juga). Tapi coba direduksi atau dihilangkan unsur erotisnya. Dangdut okelah…. (walau gak suka juga).

Tapi coba direduksi atau dihilangkan unsur erotisnya.

]]>
By: andien http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2361 andien Thu, 06 Nov 2008 07:41:41 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2361 @Nadya Bener banget, tuh. Justru dangdut2 yang membahayakan merajalela di kampung2, tanpa sensor pula! Udah gitu, anak kecil nontonnya sampe mangap2 di pinggir panggung. Waduh...gimana gak merusak moral, tuh! Dari kecil udah dicekokin yang begituan. Menurut gue, di sinilah pentingnya peranan orangtua dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Jika orangtua ingin si anak nantinya berbudaya positif, sejak kecil harus benar2 ditanamkan budaya positif di lingkungan keluarga. Orangtua pun harus memberikan contoh dengan berbudaya positif pula. Teladan yang baik sangat efektif dalam menanamkan budaya positif. Menjadi orangtua memang gak mudah! @Nadya
Bener banget, tuh. Justru dangdut2 yang membahayakan merajalela di kampung2, tanpa sensor pula! Udah gitu, anak kecil nontonnya sampe mangap2 di pinggir panggung. Waduh…gimana gak merusak moral, tuh! Dari kecil udah dicekokin yang begituan.

Menurut gue, di sinilah pentingnya peranan orangtua dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Jika orangtua ingin si anak nantinya berbudaya positif, sejak kecil harus benar2 ditanamkan budaya positif di lingkungan keluarga. Orangtua pun harus memberikan contoh dengan berbudaya positif pula. Teladan yang baik sangat efektif dalam menanamkan budaya positif. Menjadi orangtua memang gak mudah!

]]>
By: Nadya http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2360 Nadya Thu, 06 Nov 2008 05:35:08 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2360 @oki Yg ditolak masyarakat kebanyakan untuk acara TV. Tapi coba de liat yg di kampung2.. makin hari bajunya penyanyinya makin ketat, rok makin pendek.. Maunya juga optimis ki, goyangan makin sopan bukan makin erotis. Tapi ko semakin tidak tertolong ya??? @oki
Yg ditolak masyarakat kebanyakan untuk acara TV.
Tapi coba de liat yg di kampung2..
makin hari bajunya penyanyinya makin ketat, rok makin pendek..

Maunya juga optimis ki, goyangan makin sopan bukan makin erotis.
Tapi ko semakin tidak tertolong ya???

]]>
By: oky pemburu http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2356 oky pemburu Wed, 05 Nov 2008 08:26:43 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2356 @nadya dan Yonna : gak usah pesimislah kalau dangdutan yang tidak erotis itu tidak akan laku, banyak kok pedangdut2 lain yang tampil dengan aksi panggung tidak erotis tapi tetap laku dipasaran, bahkan sekarang2 ini justru dangdutan2 yang erotis itu yang banyak ditolak oleh sejumlah masyarakat. @nadya dan Yonna : gak usah pesimislah kalau dangdutan yang tidak erotis itu tidak akan laku, banyak kok pedangdut2 lain yang tampil dengan aksi panggung tidak erotis tapi tetap laku dipasaran, bahkan sekarang2 ini justru dangdutan2 yang erotis itu yang banyak ditolak oleh sejumlah masyarakat.

]]>
By: Nadya http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2355 Nadya Wed, 05 Nov 2008 05:29:36 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2355 @Yonna wah kalo aksinya panggungnya sopan justru ga laku mba.. orkes dangdutnya bakalan ga dpt job! karir penyanyinya pada tamat, ga ada harapan buat mengikuti jejak inul Daratista.. Tapi bagi gw yg ga suka dangdut tapi tetep mencintai Indonesia, menurut gw mending ga usah ada Inul Daratista kedua deh.. goyangannya merusak moral bangsa, bukannya mengangkat martabat bangsa, malah sebaliknya.. Lagu2nya skr juga parah.. sebenernya gw it's okay kalo lagu n goyangannya tdk erotis, tapi berapa banyak siy dangdut yg begitu?? mungkin dangdut juga salah satu aspek yg harus di revolusi budaya.. @Yonna
wah kalo aksinya panggungnya sopan justru ga laku mba.. orkes dangdutnya bakalan ga dpt job! karir penyanyinya pada tamat, ga ada harapan buat mengikuti jejak inul Daratista..

Tapi bagi gw yg ga suka dangdut tapi tetep mencintai Indonesia, menurut gw mending ga usah ada Inul Daratista kedua deh.. goyangannya merusak moral bangsa, bukannya mengangkat martabat bangsa, malah sebaliknya.. Lagu2nya skr juga parah..

sebenernya gw it’s okay kalo lagu n goyangannya tdk erotis, tapi berapa banyak siy dangdut yg begitu??
mungkin dangdut juga salah satu aspek yg harus di revolusi budaya..

]]>
By: yonna http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/10/29/should-we-love-dangdut-too/#comment-2352 yonna Tue, 04 Nov 2008 09:23:26 +0000 http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=464#comment-2352 @Oky kalo gitu mending cari penyanyi dangdut yang aksi panggungnya sopan dan biasa menyanyikan lagu dangdut yang lirik dan alunan nadanya tidak mengundang goyangan erotis seperti misalnya....siapa ya? ada yang tau contoh relevannya? @Oky
kalo gitu mending cari penyanyi dangdut yang aksi panggungnya sopan dan biasa menyanyikan lagu dangdut yang lirik dan alunan nadanya tidak mengundang goyangan erotis seperti misalnya….siapa ya? ada yang tau contoh relevannya?

]]>