Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Mencari Pemimpin Memang Mahal

Posted by: udiot on: November 19, 2008

Pernah tidak teman-teman membayangkan bahwa mencari pemimpin di negara ini mahal sekali harganya? awalnya sih tidak pernah terpikir, sampai kemarin berbincang dengan seorang rekan yang mengatakan bahwa satu putaran pilkada Jawa Timur menghabiskan dana kurang lebih 40 M untuk tiap putarannya. Wah kaget juga sih yah, terus ngebayang-bayang jika negara ini mempunyai 349 Kabupaten, 91 Kota, dan 33 Provinsi yang tiap pemilihan kepala daerahnya menghabiskan dana paling tidak 5M dari anggaran daerah, maka pemilu kita itu harganya yah kurang lebih MINIMAL 2,365 M. Jumlah diatas belum termasuk jumlah uang yang beredar selama masa kampanye loh.

Setelah uang-uang tersebut digelontorkan dari anggaran dalam masa pemilihan, biasanya masih banyak uang-uang tambahan yang harus dikeluarkan dari anggaran daerah pasca pemilihan. Misalnya biaya pengamanan kerusuhan, Hehehe biaya ini bisa dihitung sebagai biaya wajib. Karena biasanya calon yang kalah, demo besar-besaran membawa massanya untuk memprotes KPUD. Jika sudah kejadian yang seperti ini terjadi maka dipastikan akan semakin banyak biaya tambahan yang diperuntukan bagi calo demo dan anak buahnya.

Setelah biaya-biaya tersebut, daerah masih harus membayar gaji pemimpin terpilih yang relatif tinggi, ditambah rumah dinas, mobil  “mewah” dinas, staff ahli dll. Dan terkadang kongkow dengan para kolega dan sahabat karib di cafe juga menjadi biaya yang ditanggung dalam anggaran daerah. Tidak berhenti sampai disitu, daerah masih juga harus menanggung biaya studi banding, biaya seminar, biaya dinas dan biaya lain-lain sebagai biaya tambahan diluar batas normal.

Mahalnya biaya mencari pemimpin ini membuat banyak daerah tidak bisa mengalokasikan anggarannya dengan benar. Biaya-biaya yang seharusnya bisa digunakan untuk pembinaan dan pengembangan masyarakat, biaya alokasi pinjaman modal usaha dan biaya lainnya yang bisa mendatangkan manfaat malah digunakan tidak karuan. Akibatnya, semakin banyak masyarakat desa yang pergi ke kota besar dengan tujuan mencari penghidupan karena tidak tersedianya lapangan kerja di desa.

Sesampainya di kota, biasanya orang-orang ini mulai melakukan apa saja yang penting bisa hidup. Tetapi dengan kehidupan kota yang katanya kejam, tidak jarang akhirnya mereka memilih jalan instan untuk bisa bertahan hidup; seperti mengamen, mengemis, maling dll. Perkara semacam ini jelas merugikan orang lain dan harus bisa dicari jalan keluar yang baik untuk kita semua. Pertanyaannya adalah hati pemimpin yang bagaimana yang tega melakukan KORUPSI?

Inilah kisah hidup di negara ini, mencari pemimpin memang mahal harganya. Bukan hanya anggaran yang terbuang percuma, tetapi banyak kepentingan yang dipertaruhkan. Cukuplah kesalahan kita memilih pemimpin yang salah, dan sekarang saatnya berpikir untuk masa depan. Pilihlah pemimpin yang benar untuk masa depan yang ingin anda ciptakan.

tawuran

Jalan Tol Trans-Jawa, Ketahanan Pangan dan Energi Nasional.

Posted by: Deden Rukmana on: November 18, 2008

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan jalan tol trans-Jawa dari Cikampek, Jawa Barat sampai Surabaya, Jawa Timur dianggap sebagai kunci bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa khususnya sektor industri. Para perencana dan pengambil keputusan menganggap bahwa dengan kondisi prasarana transportasi saat ini, khususnya jalan raya, tidak mendukung perkembangan sektor industri untuk bersaing global. Kondisi jalan raya saat ini dianggap penghambat daya saing sektor industri di pulau Jawa. Apakah pembangunan jalan tol Trans-Jawa merupakan solusi terbaik bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa?

Tulisan ini mencoba secara ringkas mengkaji kelayakan pembangunan jalan tol Trans-Jawa dalam konteks pembangunan berkelanjutan di pulau Jawa. Kompas edisi 17 November 2008 memaparkan secara jelas bahwa jalan tol Trans-Jawa akan mengkonversi 655.400 hektar lahan pertanian. Hal ini tentunya akan mengancam ketahanan pangan nasional mengingat peranan pulau Jawa yang memasok 53 persen kebutuhan pangan nasional. Konversi lahan pertanian sebanyak itu akan terus bertambah seiring dengan pembangunan sektor perkotaan sepanjang jalan tol tersebut, khususnya di pintu-pintu keluar jalan tol. Konversi guna lahan juga akan berpengaruh terhadap perubahan struktur mata pencarian penduduk. Dipastikan tenaga kerja sektor pertanian di pulau Jawa akan banyak beralih ke sektor perkotaan. Lambat laun sektor pertanian di pulau Jawa menjadi sektor marjinal dan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

Di Amerika Serikat, pembangunan jalan bebas hambatan antar negara bagian (Interstate Highways) dimulai pada tahun 1956 dan ini bukanlah menjadi kunci utama perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang, sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat sejak pertengahan abad ke-18. Sistem rel kereta api di Amerika Serikat menghubungkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat, dari kota-kota di pantai Timur ke kota-kota di pantai Barat. Kota-kota besar seperti Chicago, Detroit, dan Atlanta adalah contoh kota-kota yang berkembang pesat akibat adanya prasarana rel kereta api. Perkembangan moda transportasi darat dan pembangunan jalan bebas hambatan menjadi alternatif untuk mendistribusikan bahan baku dan produk industri tetapi tidak mematikan peranan kereta api sebagai sarana transportasi di Amerika Serikat.

Dengan menghangatnya isu pemanasan global dan krisis energi, keberadaan jalan-jalan bebas hambatan di Amerika Serikat ditengarai sebagai penyebab tingginya penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Jalan-jalan bebas hambatan tersebut menyebabkan berkembangnya kawasan-kawasan permukiman di suburb dan pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin sprawling. Pertumbuhan kota yang sprawling ini menyebabkan pelayanan transportasi publik yang tidak efisien dan semakin meningkatkan ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan pribadi.

Indonesia mestinya mencontoh dari eksternalitas negatif dari pembangunan jalan bebas hambatan di Amerika Serikat. Pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan hanya mengancam ketahanan pangan nasional akibat konversi lahan pertanian dan tenaga kerja pertanian ke sektor perkotaan, tapi juga akan semakin meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak akibat peningkatan penggunaan moda transportasi jalan raya. Dampak negatif dari pembangunan jalan tol Trans-Jawa ini akan bertambah bilamana kita menghitung pula dampak lingkungan dari berkurangnya lahan terbuka hijau, termasuk hutan dan perkebunan di pulau Jawa. Pembangunan jalan tol juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kota-kota di sepanjang jalan tol yang akan menjadi sprawling.

Alternatif yang bisa disampaikan untuk meningkatkan perkembangan perekononomian di Pulau Jawa adalah mengembangkan sistem perkeretaapian. Pengembangan jalur ganda rel kereta api di Pulau Jawa dapat menjadi alternatif utama untuk membantu distribusi bahan baku dan produk dari sektor industri di Pulau Jawa. Begitu pula halnya dengan mengaktifkan kembali jalur-jalur kereta api yang dulu sempat dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Pengembangan jalur ganda rel kereta api tidak akan mengkonversi lahan pertanian sebanyak pembangunan jalan tol. Pengembangan sistem perkeretaapian tidak akan pula mengkonsumsi energi sebanyak konsumsi energi oleh moda transportasi jalan raya akibat pembangunan jalan tol.

Secara ringkas dapat disampaikan bahwa pembangunan jalan tol Trans-Jawa bukanlah solusi yang berkelanjutan untuk mengembangkan perekonomian di Pulau Jawa. Solusi ini hanyalah menjadi ancaman bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Pembangunan jalan tol Trans-Jawa lebih banyak ruginya bagi kepentingan nasional. Sebagai alternatifnya, kita dapat mempertimbangkan pengembangan sistem perkeretaapian yang lebih hemat energi dan tidak mengkonversi banyak lahan pertanian.

JBRB at The 2nd Indonesian Consumunity Expo

Posted by: guebukanmonyet on: November 11, 2008

These pictures were taken by Siti Nurandini.

I feel so proud of being part of this one great organization. We are small and young; but we have a big faith that we could do something to make this city a better place to live in.

What we do may be small and unnoticed, but we believe even small changes can give big impact to others. We believe it’s time for us to start doing and stop complaining.

We believe we have a city with millions of potentials; we just don’t realize that we could be great like other cities in this world. JBRB is here to remind you all.

C’mon, join us and let’s make a revolution. This is JAKARTA BUTUH REVOLUSI BUDAYA COY!

Sumpah Pemuda memang Luar Biasa!

Posted by: udiot on: November 5, 2008

Kita baru saja melewati peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-80. Bagi sebagian besar orang, peringatan ini tidak beda jauh dari peringatan nasional lainnya; di mana hanya ada satu hal yang luar biasa bagi mereka, yaitu: libur!

Tapi bagi sebagian kecil masyarakat, perayaan sumpah pemuda memiliki makna yang sangat dalam. Bagi mereka sumpah pemuda merupakan sebuah peristiwa sejarah yang benar-benar luar biasa karena memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Menurut saya, satu hal luar biasa tentang penyelenggaraan sumpah pemuda pada tahun 1928 adalah kecerdikan para pemuda Indonesia untuk mengusung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Seperti yang kita tahu, bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan pastinya berbagai macam bahasa daerah. Dengan kondisi seperti ini, pemberontakan atau perselisihan sangat mungkin terjadi. Peran sebuah bahasa pemersatu menjadi sangat krusial.

Dan di tahun-tahun awal masa kemerdekaan, saya yakin bahasa Indonesia memang menjadi alat utama dalam mempersatukan bangsa ini. Coba bayangkan apabila bangsa ini tidak pernah memiliki sebuah konsensus nasional mengenai penggunaan suatu bahasa sebagai bahasa nasional.

Presiden Sukarno dan Presiden Suharto patut berterima kasih kepada para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang memiliki inisiatif untuk mengadakan sumpah pemuda di tahun 1928.

Masih banyak hal luar biasa dalam penyelenggaran sumpah pemuda, namun yang pasti disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang benar-benar luar biasa!

Pertanyaannya sekarang, “Apakah pemuda Indonesia jaman sekarang dapat melakukan hal-hal luar biasa seperti sumpah pemuda?”

JBRB at ICE

Posted by: guebukanmonyet on: October 29, 2008

JBRB akan turut bertartisipasi dalam sebuah acara yang diadakan oleh Prasetiya Mulya. Acara yang dinamakan The 2nd Indonesian Consumunity Expo ini adalah sebuah pameran Komunitas dan Produsen terbesar di Indonesia!

JBRB akan menampilkan berbagai macam hiburan dan simulasi Berburu. Ada kemungkinan JBRB juga menjual berbagai macam merchandise; seperti kaos dan pin. Jadi jangan ketinggalan untuk datang dan lihat aksi JBRB.

Acara akan diadakan pada tanggal 8 & 9 November di Plaza Utara Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

Hubungi Oky di sipembururusa@yahoo.com untuk informasi lengkapnya.

Should we love dangdut too?

Posted by: guebukanmonyet on: October 29, 2008

This article was published by The Jakarta Post on October 27, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.

Don’t forget to join the “What do you think of dangdut?” poll below.

It may sound funny but I do have a theory that one of the reasons why our young people are losing their national identity is because they hate dangdut.

It’s so obvious, no young and educated Indonesians like dangdut. And I’m not just pointing my finger at my fellow young Indonesians, I have to admit I don’t like it too.

We young Indonesians don’t like it so much that we have been making it as one of the best laughable topics for so many years.

We feel sorry for people who actually dance to the rhythm of dangdut; we feel sorry for people who like Rhoma Irama. We laugh at them so happily knowing that their music is so kampungan and our music is so much cooler.

We can sing any famous American singer’s song perfectly and we know the lyrics by heart.

Modern music concerts are common in this country, and it seems to me that every single one of them can easily attract a large number of young and educated Indonesians.

The Java Jazz Festival, for example, has always been packed with young and educated Indonesians for 4 years although when the festival was first introduced many people thought the ticket prices were unreasonable; but young Indonesians came anyway.

The same organizer just conducted an R&B festival called Soulnation which was successful in drawing a lot of young Indonesians; they paid tickets worth at least Rp 200,000 and didn’t complain. They came in dressing up themselves with the latest R&B outfits copying their idols like Akon and Ashanti.

What’s wrong with not liking dangdut one may ask. Well, it’s not wrong as one of my best friends pointed it out to me that you can’t blame someone for liking one type of music as you can’t blame someone for liking nasi goreng.

But what we don’t realize is that dangdut is our national treasure; It’s part of our national heritage. What we don’t realize is that dangdut is the music of our country; just like Project Pop said through their song “Dangdut is the music of my country” a few years ago.

What we don’t realize is that when we laugh at dangdut thinking that it’s a stupid music, it’s like laughing at keroncong or any other Indonesia’s traditional music genre.

Sometimes I wonder why we can’t fall in love with dangdut while young African Americans can be so proud of their R&B and rap music.

One of the reasons may lie on the fact that we are too arrogant to like the same kind of music that low-income Indonesians like; that we don’t want to put ourselves on the same level with mas-mas and mba-mba.

If that is the kind of mentality that we all share, then I think we should feel sorry for ourselves for thinking that dangdut is so kampungan and that those people who like it just don’t have taste in music. We should feel sorry for ourselves for not realizing how music, like language, could be a very effective medium to unite us all.

Imagine if all young Indonesians, whether poor or rich, could at least agree that dangdut is something we all could enjoy together. We would be more united.

Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself.

At the end, I’m not encouraging you to like dangdut. Music is about one’s personal preference, after all. But what I’d like to encourage us all is that instead of mocking those who like dangdut, we all should respect them for being able to express their “Indonesianity” a little bit more than we can.

Picture above taken from here.

So that History won’t be “history”

Posted by: stephliman on: October 9, 2008

A hesistant “interesting” sums up about seventy percent of the responses I get when I tell Indonesians that my majors are History and Political Science. For them, “interesting” is not always postive and thus, not always…interesting. Seeing that the pursuit of History as either a field of study or a career is rare in Indonesia, that reaction is not surprising. The following article aims to explain this lack of interest. At the same time, it acknowledges that undertaking this field in Indonesia is far from easy. This hinders further studies on the subject, and yet its importance cannot be emphasized enough. So we come to a conundrum.

Through years of questioning and observation, I can attribute this diminishing interest to at least two factors: teaching methods that foster unfavorable attitudes towards the subject, and the limited and dim career opportunities. There may very well be others, but these are ones I can pinpoint from my own experience.

To those who do not have a natural interest in a subject, the manner in which a class is taught is significant in determining a student’s outlook towards it. It is only understandable that the amount of facts that has to be memorized can cause one to dread class. Combine force-fed information with monotonous lectures that scream boredom? Tiresome.

For Indonesian students, history class and history may be considered tedious and dull purely because of these teaching methods. In contrast, a history class in the USA may use visual aids (movies, pictures, powerpoint slides) and even incorporate field trips to draw students in. Essays, debates, and discussions encourage students to structure their thoughts and challenge existing ideas. This is not to say that all history classes in the States take on this dynamic approach, it just happens more often. As a result, information is more easily absorbed and remembered. History class may even be fun. Clearly, it would be nice if the objectives of the history class go beyond memorizing dates, names and information. Teachers should aim for bigger goals such as cultivating students interest in the world or pride in their own country.

Regarding limited and dim career opportunities, being a historian or a professor seems to be the most obvious career choices. I have lost count the number of times people have assumed me to be either of those in the future. Let us be frank, they are less than desireable jobs in Indonesia. Not only are the related number of jobs minute, the salaries are not sustaining. Not all of us are fortunate enough to pursue a degree that may lead to dismal careers – even if we are passionate about it.

There are two silver linings to this. Firstly, there is the increasingly common reality that one’s graduate degree – not the undergraduate degree – will determine your career. This gives students the opportunity to pursue their interest first, then decide on a Masters degree related to their future career. Even I am constantly reminded of this fact by graduate students, professors and young professionals.

Secondly, even with a History major, one can find jobs in other fields. Business, finance, and government are such fields that employ those with a History degree. This is again supported by the idea that one’s undergraduate degree does not necessarily determine one’s career. Knowing this, readers may question, why waste time pursuing two different degrees when it is possible to specialize in one? Thus the other reason why I choose to pursue the social studies.

Interest is not the only reason why I take History. There are pros to the degree that are often forgotten. With History, students are forced to develop essential and yet basic skills that other majors may not: the ability to read, the ability to write, and the ability to analyze. In order to do well, it is compulsory for students to be able to scour and digest information from numerous sources, and present them in an orderly form of thought. For a country like the US in which experts of these areas are highly sought after, a History major is a good bet for covering the basics. Once they are taken care of, the handling of new information and becomes much easier. Therefore, employers do not avoid recruiting graduates from the social studies, even if the job may differ from the field of study.

It appears that the problem in Indonesia can be traced to the education system as well as ourselves. Current teaching methods fail to draw the students in, and it has become widespread for youths to consider history as a boring subject. History is crucial not only because it explains how events have changed through time or because it tells of the development of the world. It allows people to learn from the past and possibly even predict future circumstances.

Furthermore, students benefit from it by perfecting their reading, writing and analysis. However, with the difficulty of finding careers, how can one expect the interest and pursuance to rise? To put it simply, it would be difficult without personal motivation and systematic change. Fostering interest should be the first step – then we can move on from there.

Video “Membaca Itu Menyenangkan”

Posted by: guebukanmonyet on: September 26, 2008

Berikut adalah salah satu video yang diberikan oleh tim Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) kepada para murid Berburu. Video ini menampilkan Vena Anisa dan Desta Club Eighties. Belum sempurna, but it’s a start.

Salam Berburu!

Let’s say no to malls

Posted by: guebukanmonyet on: September 22, 2008

This article was published by The Jakarta Post on September 29, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.

I was having a conversation with a friend from Jakarta over the Internet several days ago. When I asked her if there are some new places in Jakarta that young people go to, she said, “What kind of places do you mean? One thing for sure we have lots of new malls.”

She explained there are some new malls in the city. Some of them are Senayan City, Grand Indonesia, and Pacific Place.

She suddenly reminded me of how Jakartans are so much in love with malls and shopping centers. What is a mall, anyway? A mall is simply a big modern building where people can go to shop. Unlike any traditional market, a mall is very convenient; it is an air-conditioned building and it is clean and safe.

Having lived for 6 years in Jakarta I know how much people in Jakarta love their malls. I was one of them. While I never visited Monas, not even once, my friends and I would go to malls at least once a week for various purposes.

I went to malls for shopping. I went to malls for eating with friends on special occasions. I went to malls to watch movies. I went to malls to have a business meeting. I even went to malls just to use their bathroom.

And just like other people of Jakarta I was proud of having those big malls in my city. I remember a friend of mine from the Netherlands was so amazed to see how malls in Jakarta could be so big and beautiful. He said, “This city has the greatest malls.”

But now I know I’m not a big fan of malls anymore. Read the full article!

Siang Berburu

Posted by: noanggie on: September 15, 2008

Gelaran acara peringatan ulang tahun Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) yang pertama, sekaligus peluncuran Program Berburu menuju 300 sekolah pada tahun 2011, telah dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2008. Acara yang diberi judul Siang Berbudaya Itu Seru (SiBer) ini diselenggarakan di SDN Selong 01 Pagi, mulai pukul 13.00-15.00. Atas terselenggaranya acara ini seluruh panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut berkontribusi dan selalu mendukung kami. Berikut ini beberapa kenangan dari SiBer yang sempat terekam kamera.

 

Kak Lia dan Kak Festy yang menjadi MC sedang memberikan kesempatan kepada Kepala Sekolah SDN Selong 01 Pagi, Ibu V.A. Sri Subarni, untuk memberikan kata sambutan. SDN Selong 01 Pagi merupakan pilot school project untuk Program Berburu. Selama satu tahun belakangan Program Berburu secara rutin diadakan di SDN Selong 01 Pagi, setiap hari Sabtu pukul 10.00-14.00. Kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua/wali murid, serta siswa/i SDN Selong 01 Pagi menyambut baik dilaksanakannya Program Berburu di sekolah mereka.

 


X-Banner acara SiBer yang didesain oleh Kak Adi, bergambarkan logo Berburu, Indo dan Nesia. Banner ini dilengkapi dengan penjabaran lima budaya positif yang menjadi tema dalam Berburu, yaitu (1) Mengikuti tata tertib, (2) Mencintai lingkungan, (3) Menghargai sesama, (4) Membaca itu menyenangkan, dan (5) Mencintai kebudayaan Indonesia. Indo dan Nesia merupakan ikon Berburu yang digunakan dalam berbagai cerita. Penggunaan tokoh Indo dan Nesia yang menggambarkan profil siswa dan siswi sekolah dasar di Indonesia diharapkan dapat membantu dan menarik minat siswa dan siswi untuk memahami dan menerapkan setiap tema dalam Berburu.

 


Penampilan siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi dalam Drama Berburu. Drama ini merangkum lima tema Berburu menjadi satu cerita. Ide dasar drama diambil dari tiga cerita tema Berburu dalam Buku Panduan Berburu. Indo dan Nesia menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Para siswa-siswi sangat bersemangat dalam pementasan drama ini. “Senang..riang..hari yang kunantikan!!”

 


Kak Novie sedang memimpin siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi untuk melakukan Senam Berburu. Senam Berburu biasa dilakukan sebelum Berburu dimulai. “Tangan kanan ke depan, ke belakang, depan belakang, lalu goyangkan. Lakukan seperti ini dan berputarlah. Mudahkan caranya? Tangan kiri ke depan, ke belakang, depan belakang, lalu goyangkan. Lakukan seperti ini dan berputarlah. Mudahkan caranya?”

 


Untuk mengenalkan mengenai pelaksanaan Berburu, maka dilakukan simulasi Berburu. Kak Anie sedang menerangkan kepada siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi mengenai salah satu tema Berburu, yaitu Mencintai Lingkungan. Pada prakteknya, penyampaian materi Berburu menggunakan banyak metode, antara lain presentasi, storytelling, diskusi kelompok, permainan, dan lainnya.

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos