Posted by: noanggie on: September 8, 2008
Momen bulan Ramadhan kali ini akan digunakan oleh Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) untuk mempererat tali silahturahmi dengan berbagai rekanan JBRB dan teman-teman lainnya yang memiliki kepedulian tinggi terhadap Jakarta.
JBRB akan mengadakan acara buka puasa bersama yang diberi judul “Ramadhan Ala JBRB” pada hari Minggu tanggal 21 September, 2008. Pukul 16:30 hingga 19:00.
Pada acara ini akan ada siraman rohani dari Riayatul Ummah Foundation (RUF); salah satu rekanan JBRB. Selain itu, juga akan ada ceramah singkat mengenai motivasi diri yang akan disampaikan oleh salah satu anggota JBRB.
Acara akan ditutup dengan makan bersama sekaligus acara ramah tamah.
Pada kesempatan ini, JBRB akan menyerahkan sumbangan berupa buku, baik buku bacaan maupun buku pelajaran, kepada SMP Gratis Ibu Pertiwi. JBRB memberikan kesempatan bagi siapapun yang ingin ikut menyumbang buku atau bentuk lainnya.
Hubungi Tiwi di 0818-665-394 atau Oky di 0856-810-2299.
Posted by: Izmi on: September 6, 2008

Dari sekian banyak pahlawan nasional yang diberi gelar sebagai pahlawan nasional pada akhir hayatnya, ternyata masih ada sosok yang seakan hilang dan terlupakan oleh kita.
Salah satunya adalah seorang revolusioner legendaris yang juga merupakan penggagas gerakan-gerakan massa. Dia adalah Tan Malaka. Lelaki yang lahir di Suliki, Pandan Gadang Sumatera Barat pada 2 Juni 1897 dengan nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Menurut biografi yang ditulis di dalam bukunya yang berjudul Aksi Massa dinyatakan bahwa ia pernah melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada tahun 1913 setelah ia tamat dari sekolah menengah akhirnya.
Enam tahun kemudian beliau kembali ke Indonesia dan mengabdi sebagai guru untuk anak-anak kaum buruh di perkebunan Sumatera. Ia juga termasuk salah satu tokoh luar biasa yang namanya pun dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh sekelas Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan sebagainya.
Nampaknya tidak banyak dari kita yang tahu tentang sosok seorang pejuang seperti Tan Malaka. Kontribusi beliau terhadap bangsa ini juga termasuk dalam perjuangan yang patut diperhitungkan. Karena dengan terjunnya beliau ke dalam dunia politik pada tahun 1921, bangsa ini seperti mempunyai pergerakan-pergerakan baru baik dalam bidang sosial, politik, maupun budaya.
Karena ia ada dalam dunia politik bukan tanpa tujuan dan bukan tanpa alasan. Ia memang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan Republik Indonesia yang terlahir dari revolusi. Baca Terus!
Posted by: noanggie on: August 23, 2008
17 Agustus 2008 merupakan peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Kita tidak akan pernah dapat menikmati kemerdekaan berikut segala manfaatnya tanpa ada perjuangan dari para pahlawan yang telah rela mengorbankan segalanya demi tanah air tercinta.
Orang bijak mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan satu hari khusus untuk memperingati jasa para pahlawan, yaitu pada tanggal 28 Oktober. Bahkan setiap upacara bendera kita selalu mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan. Begitupun di bangku sekolah, kita pernah mendapatkan pelajaran Sejarah, PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), dan pelajaran sejenis lainnya yang membuat kita mengenal para pahlawan nasional dan perjuangan mereka seperti Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, dan Sultan Agung. Gambar para pahlawan tersebut juga menghiasi dinding-dinding ruang kelas kita; bahkan dalam pecahan uang kertas.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata “pahlawan” memiliki arti orang atau sekelompok orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Dari pengertian ini, dapat kita lihat bahwa ada tiga unsur yang harus ada dalam diri seorang pahlawan, yaitu keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran. Berdasarkan definisi tersebut, maka para pahlawan yang telah turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia layak untuk disebut pahlawan.
Keberanian. Sudah jelas para pahlawan nasional memiliki keberanian. Untuk menghadapi para penjajah yang memiliki kekuatan lebih unggul, baik dari segi persenjataan dan perlengkapan maupun strategi, tentu diperlukan keberanian.
Pengorbanan. Untuk melawan para penjajah para pahlawan harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan harta benda. Padahal resiko yang harus dihadapi sangat berat: terluka, menjadi lumpuh, atau bahkan meninggal dunia.
Membela kebenaran. Bangsa Indonesia tidak pernah memiliki kesalahan terhadap para penjajah. Kenyataan dan kesadaran sebagai bangsa yang benar dan didorong oleh adanya keinginan untuk lepas dari belenggu penjajahan, membuat para pahlawan rela membela negara tercinta ini. Baca Penuh Artikel!
Posted by: guebukanmonyet on: August 15, 2008

This article was published by The Jakarta Post on August 15, 2008 as part of a special report celebrating Indonesia’s 63rd Independence Anniversary. Read the article on The Jakarta Post, here.
I’m a proud young Indonesian who spent almost 16 years in Indonesia’s education system. I studied Indonesian history, its values and Pancasila. But if you ask me what Indonesia’s 63rd anniversary of independence means my answer will probably be, “I don’t know.”
I’m not proud of having such a notion but I don’t think I should feel guilty because many of my young friends have the same impression of this celebration. Some even say, “I don’t know and I don’t care.” Yes, they don’t care.
For many young Indonesians, including me when I was in school, the anniversary of our country’s independence only means another boring flag ceremony. Some may like the ceremony but that’s only because they can skip class.
Have we really lost the true meaning behind the most important celebration of our country? Can we blame the older generation for not encouraging the younger generation to love our country more?
What does it really mean to be 63 years old, anyway? What should the government do to energize the people and make them appreciate their country a little bit more? Read the Full Article!
Posted by: udiot on: August 15, 2008
Kata banyak orang hidup di Jakarta semakin hari semakin gila. Harga-harga barang semakin mahal mengiringi kenaikan harga BBM. Namun bukannya membaik, kondisi lalu lintas di Jakarta malah semakin macet tidak karuan. Sebagian orang menyalahkan Busway sebagai biang keladi.
Kata banyak orang jumlah rakyat miskin juga semakin meningkat. Kata mereka, pengemis dan pengamen semakin banyak di tiap lampu merah dan sudut kota lainnya.
Kata orang juga tingkat kriminalitas di Jakarta semakin memburuk. Setiap hari berita tentang pencopetan, pembunuhan, perampokan, dan lainnya menghiasi koran-koran kota. Kata mereka, kita tidak boleh cepat percaya dan harus selalu waspada kalau tidak mau menjadi korban.
Di mata sebagian besar warganya, Jakarta sudah menjadi sebuah kota yang mengerikan. Namun begitu saya yakin kita bisa merubah Jakarta menjadi lebih baik. Saya yakin Jakarta berhak mendapat kesempatan kedua. Ayo lakukan revolusi sekarang juga!
Posted by: guebukanmonyet on: August 9, 2008

This article was published by The Jakarta Post on July 17, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.
If you ask me what makes Americans so smart my answer is very simple: Because they read books. By that I mean lots of books.
In America it’s not an unusual view to see someone placing his or her left hand onto the holding bar and reading a thick novel with the right hand while standing in a subway car during the rush hour.
It seems that reading is something that is so much valued and appreciated.
Unlike Indonesians, Americans have a much better access to books. Finding books and reading them for free are not difficult at all. In Jakarta, I remember, I had to be clever to find ways to read books for free at bookstores. The challenge for me was tough, bookstores in Jakarta are probably intentionally designed to be uncomfortable as much as possible for so-called cheaters like me. They just wanted me to pick a book, buy it, and leave.
In America it’s a different story. Bookstores like Barnes and Noble and Borders, to my surprise at first, let their customers read their books as many and as long as possible. They even provide their customers with comfy chairs. No sealed books or magazines, you can grab any book you want and get a perfect spot to read it for free! If you have some money to spend you can buy their coffee and enjoy it with the book you’ve been dreaming to read, but let me remind you that buying the coffee is not obligatory.
Bookstores are not the only places to find books in America. For some Americans, public libraries are so much better than bookstores. And I have to salute American government for this matter. Americans are indeed so lucky to be blessed by the easy access of knowledge and information.
In the county where I live, there are twenty one public libraries that will happily serve their residents. Getting a membership card is so easy and it only takes a few minutes after you present your ID card. The facilities are amazing. Read the Full Article!
Posted by: guebukanmonyet on: July 30, 2008

Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) menjadi salah satu pendukung dari sebuah acara musik yang diadakan oleh DeadMediaFM.org di Yogyakarta pada hari Rabu tanggal 23 Juli 2008 yang lalu. Acara yang menampilkan berbagai musik tempo dulu ini dinamakan Pesona Nada Senja: Mendengarkan Radio Mono Ketika Sore Bersama Gomez.
Pesona Nada Senja mendapat dukungan yang begitu besar dari pecinta musik Yogyakarta. Terbukti tiket terjual habis. Salah satu pelaksana acara Ridho Indradewa melaporkan, “Wah, respon dari masyarakat Yogyakarta hebat banget. Alhamdulilah acara kita sukses besar. Terima kasih dukungan semua sponsor, terutama Jakarta Butuh Revolusi Budaya.”
Penampilan utama yang paling ditunggu-tunggu oleh para penonton adalah band dari Jakarta yaitu Sore. Band ini merupakan sebuah band yang memainkan musik berirama tempo dulu. Dalam beberapa lagu mereka bahkan menggunakan alat musik tradisional. Majalah Time Asia edisi September 2005 menganugerahkan album pertama Sore yang berjudul “Centralismo” sebagai salah satu dari lima album yang paling layak dibeli.
Baca laporan lengkap dari acara Pesona Nada Senja di sini dan dengarkan lagu-lagu Sore di situs mereka di sini.
Posted by: udiot on: July 28, 2008
Artikel ini dimuat oleh Koran Sindo pada Sabtu, 26 Juli, 2008 dan ditulis oleh Didik Purwanto. Baca langsung artikel di Koran Sindo di sini.
Dibalik kemegahannya, Jakarta menyimpan segudang masalah sosial dan lingkungan. Jakarta harus berubah! Dibutuhkan revolusi budaya untuk memperbaikinya.
Memang bukan hal mudah untuk mengubah Jakarta menjadi lebih baik. Namun, itu bukan hal mustahil apabila terdapat seseorang yang berani dan mau menyelesaikan masalah-masalah yang ada seperti kemacetan, polusi udara, gelandangan, pengangguran, dan sebagainya.
Kata orang bijak, mulailah perubahan itu dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan mulai sekarang. Inilah jargon yang sering dikumandangkan, namun hanya sedikit yang mau melakukannya. Contoh paling sederhana adalah nilai kejujuran,keberanian, toleransi, menghargai sesama, disiplin, keimanan, kebersihan, kerja keras, kebangsaan, dan lain-lain.
Daftar nilai-nilai tersebut sudah ”berserakan” di berbagai buku yang mengulas persoalan budi pekerti.Yang terpenting justru pelaksanaannya, integritas pribadi sebagai perwujudan kejujuran, do what you said and say what you meant. Selama ini kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri.
Di tembok sekolah tidak jarang kita saksikan slogan ”kebersihan sebagian dari iman”, tetapi sampah masih terserak di mana-mana. Sebanyak 99% WC di sekolah negeri jorok. Guru-guru pun tidak berkomentar apa-apa. Salah siapa? Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) adalah sebuah komunitas sosial anak muda Jakarta yang peduli terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar mereka. Baca Terus!
Posted by: guebukanmonyet on: July 21, 2008
Bapak Duta Besar Sudjadnan Parnohadinigrat dan Ibu menyempatkan diri untuk berpose di depan logo Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) sebelum memasuki ruang utama. Dalam sambutannya, Bapak Duta Besar menyatakan dukungan penuh terhadap program Berbudaya Itu Seru (Berburu) yang dijalankan oleh JBRB. Bapak Duta Besar mengakui bahwa kelima tema yang diangkat oleh program Berburu sangat tepat dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Kak Ayu, Kak Ian, Kak Deja, dan Kak Laya sedang memberikan simulasi program Berburu kepada para “adik-adik” murid. Sambil mengenakan kaos bergambar Indo dan Nesia Kakak-kakak ini tampil dengan penuh semangat. “Ayo adik-adik, jangan malu-malu dong,” kata Kak Ian dengan suara lantang. “Jadi, menurut adik-adik kebersihan lingkungan itu perlu tidak?” Tanya Kak Deja. Acara Malam Berbudaya Itu Seru menjadi tanda dimulainya road show berburu di banyak sekolah di Jakarta. Hal ini sesuai salah satu misi JBRB, yaitu menjalankan Berburu di 300 sekolah hingga 2011.
Acara Malam Berbudaya Itu Seru diakhiri dengan penampilan spektakuler dari Ribka Gemilangsari, Laya Putri, Alex, dan Thomas. Grup band ini menampilkan tiga buah lagu di mana lagu terakhir “Indonesia Tanah Air Beta” karya Ismail Marzuki dinyanyikan dengan begitu sempurna sampai-sampai para tamu, yang menyanyi bersama-sama panitia, meneteskan air mata. Laya Putri adalah putri mendiang Broery Pesulima, seorang penyanyi legendaris tanah air. Merdeka!
Foto ini menampilkan murid-murid SD Selong Pagi 01 dan merupakan salah satu foto yang dilelang dalam acara Malam Berbudaya Itu Seru. Foto diambil oleh tim JBRB Jakarta di saat menjalankan program Berburu. Para murid perempuan tampak sedang berkumpul dan berpose di depan kamera. Dari sepuluh foto yang dilelang di dalam acara ada enam foto yang laku terjual. Salah satunya foto berjudul “Ayo Berdiskusi” yang jatuh ke tangan Ibu Duta Besar. Semua hasil lelang digunakan untuk menjalankan program Berburu di Jakarta.
Acara “Malam Berbudaya Itu Seru” diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 21 Juni di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C. Acara ini tidak akan terselenggara tanpa bantuan dari pihak KBRI di Washington, D.C. terutama Fungsi Pendidikan dan Kebudayaan dan Fungsi Penerangan.
Silahkan lihat foto-foto lainnya di http://picasaweb.google.com/revolusibudaya
What People Have Said